(dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang)
This is featured post 1 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha - Premiumbloggertemplates.com.
This is featured post 2 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha - Premiumbloggertemplates.com.
This is featured post 3 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha - Premiumbloggertemplates.com.
Friday, August 15, 2014
6:53 AM
Unknown
Bismillahirrohmanirrohim
(dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang)
Nama lengkap Idris adalah Idris bin
Yakid bin Mahlail bin Qaiman bin Anusy bin Syit bin Adam as. Beliau adalah Nabi
yang kedua sesudah Adam. Di dalam Al-Qur’an diceritakan panjang lebar tentang
Nabi Idris termasuk juga menerangkan panjang lebar tentang derajat dan
keluhuran Nabi Idris as.
(dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang)
Nabi Idris adalah orang yang pertama
kali pandai dan mengajarkan cara jahit manjahit, menata pakaian, ilmu fasak dan
tulis menulis dengan pena. Nabi Idris memberi peran yang sangat besar sekali dengan
lahirnya berbagai macam model pakaian, pejahitan, ilmu fasak dan cara tulis
menulis (persurat kabaran) dan lain sebagainya.
Allah Ta’ala telah memberikan sifat
sabar kepada Nabi Idris, dan dengan sifat kesabaran itulah sehingga Nabi Idris
memperoleh derajad yang tinggi. Menurut beberapa Ulama’ Nabi Idris ini adalah
orang pertama yang menerima Wahyu dari Malaikat Jibril untuk memberi petunjuk
kepada keturunan Qabil agar mereka bersifat sabar atas kedurhakaan dan
keturunannya dan bertaubat kepada Allah serta bertingkah laku sesuai dengan
tuntunan syariat.
Cerita tentang keluhuran Nabi Idris
diterangkan Allah dalam surah Maryam: 56-57.
“Dan
ceritakanlah (Hai Muhammad), kepada mereka kisah Idris (yang tersebut) di dalam
Al-Qur’an. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan dan seorang
Nabi. Dan kami telah mengangkatnya ke derajat yang tinggi.” (QS. Maryam: 56-57)
Para Hukama berselisih pendapat
tentang tempat kelahiran dan tempat dibesarkannya Nabi Idris. Sebagian
mengatakan bahwa Idris dilahirkan di Mesir, di daerah Munaf. Pada waktu kecil
beliau diberi nama Kurmus Al Haramisah, berasal dari bahasa Yunani Armia,
kemudian di istilahkan dalam bahasa Arab menjadi Hurmus. Menurut orang-orang
Ibrani beliau bernama Khunukh yang diarahkan menjadi Ukhnukh. Kemudian didalam
Al-Qur’an Allah memberi nama Idris. Hurmus (Idris) meninggalkan Mesir kemudian
berkelana mengelilingi dunia, kemudian kembali ke Mesir lagi dan Allah
mengangkatnya menjadi Rasul ketika beliau berusia 82 tahun, dan sebagian
kelompok lagi mengatakan bahwa Idris dilahirkan di Babilonia.
Pada waktu kecil beliau belajar ilmu
kepada Syit (Syis) Putra Adam. Setelah dewasa, Allah menurunkan wahyu keNabian
kepadanya, kemudian beliau menjalankan tugas keNabiannya melarang anak cucu
Adam untuk membuat kerusakan, keonaran serta menentang ajaran Adam Syit,
pengikutnya hanya sedikit, karena kebanyakan meninggalkan Mesir sampai wafat.
Idris dan pengikutnya menyeru
makhluk-makhluk Allah untuk melakukan amar ma’ruf nahi munkar dan taat kepada
Allah sebagaimana dikatakan: Bahwa dia (Idris) menyeru untuk memeluk agama
Allah, mengakui keesaan Allah, beribadah kepada Allah, membebaskan diri dari
adzab Allah di akhirat dengan mengerjakan amal kebajikan di dunia, mengajurkan
zuhud (hidup sederhana) didunia serta berlaku adil terhadap sesama dengan
ajarannya, dan menganjurkan jihad untuk melawan musuh-musuh agama mereka dan
memerintahkan mengeluarkan zakat harta benda untuk membantu orang-orang lemah.
Saturday, August 9, 2014
6:24 AM
Unknown
Bismillahirrohmanirrohim
(dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang)
(dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang)
1. Jamur
Jamur
atau Fungi tidak dapat berfotosintesis dan bersifat heterotrof. Jamur ada yang
mulitiseluler serta bersifat eukariotik. Pada jamur multiseluler terdapat
deretan sel yang membentuk benang disebut hifa. Jaringan hifa membentuk anyaman
disebut miselium yang merupakan tempat pembentukan spora.
Fungi
dikelompokkan menjadi empat divisi seperti berikut.
a. Zygomycotina mempunyai ciri-ciri: hifa
soenositik, menghasilkan zigosporagium, dinding sel tersusun dari zat kitin dan
mempunyai haustoria. Contoh Zygomicotina yaitu: Rhizopus stolonifer, Mucor
hiemalis, Beauveria bassiana, dan
Metarrhisium anisopliae.
b. Ascomycotina mempunyai ciri-ciri: hifa bersekat,
berinti banyak, dan spora tidak berflagela. Contoh Ascomycotina yaitu: Saccharomyces cerevisiae, Penicillium notatum, dan Neurospora crassa.
c. Basidiomycotina mempunyai ciri-ciri: hifa
bersekat, hifa vegetatifnya mempunyai satu inti haploid, mempunyai basidiokarp,
dan badan buah berbentuk seperti payung. Beberapa jamur Basidiomycotina dapat
dimanfaatkan sebagai sumber makanan. Contoh Basidiomycotina yaitu: Volvariella volvacea, Amanita phalloides, Ganoderma aplantum, dan Puccinia
graminis.
d. Deutromycotina mempunyai ciri-ciri: hifa
bersekat dan dinding sel terbuat dari zat kitin. Jamur Deutromycotina ada yang
merugikan dan ada yang menguntungkan. Contoh Deutromycotina yaitu: Tinea versicolor, Epidermophyton floocossum, dan Trichophyton.
Peran
Fungi bagi kehidupan manusia sebagai berikut.
a. Rhizopus
oligosporus digunakan dalam
pembuatan tempe.
b. Beauveria
bassiana berperan sebagai parasit
pada hama wereng.
c. Saccharomyces
cerevisiae berguna dalam pembuatan
roti dan tapai.
d. Penicillium
notatum menghasilkan antibiotik.
e. Neurospora
crassa dimanfaatkan dalam
pembuatan oncom merah.
f. Aspergillus
wentii berguna dalam pembuata
kecap.
g. Volvariella
volvacea, Auriclaria politrica, dan Pleurotus digunakan sebagai bahan
makanan.
2. Protista
Ciri-ciri umum Protista sebagai berikut.
a. Bersifat eukariotik yaitu memiliki bahan inti
yang diselubungi membran.
b. Tidak dapat digolongkan dalam kelompok tumbuhan,
hewan, ataupun jamur.
Protista dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu Algae,
Protozoa, serta Protista mirip jamur.
a. Algae (Protista mirip tumbuhan), mempunyai ciri
berklorofil dan bersifat fotosintetik.
Algae dibedakan menjadi
tujuh filum berikut.
Filum Selularitas Warna Tubuh Contoh
Euglenophyta Uniseluler Hijau Euglena
Dinoflagellata Uniseluler Cokelat Gonyaulax,
Ceratium
Bacillariophyta Uniseluler Cokelat pudar Navicula,
Pinnularia
Chlorophyta Uniseluler dan Multiseluler Hijau Clamydomonas
Chrysophyta Uniseluler dan Multiseluler Kuning keemasan Ochromonas
Phaeophyta Multiseluler Cokelat pudar Laminaria,
Macrocystis
Rhodophyta Multiseluler Merah hingga hitam Gelidium,
Eucheuma,
Gracillaria
Filum Euglenophyta, Dinoflagellata, dan Clorophyta
mempunyai alat gerak berupa flagela.
Peran Algae bagi kehidupan manusia sebagai berikut.
1) Navicula dapat dimanfaatkan sebagai campuran semen,
bahan penggosok, dan dinamit.
2) Chlorella
mengandung protein tinggi dan
dapat dimanfaatkan sebagai bahan obat-obatan, kosmetik, dan bahan makanan.
3) Laminaria
menghasilkan asam alginat
sebagai pembuat gel untuk industri makanan dan kosmetik.
4) Gelidium
dan Eucheuma digunakan sebagai bahan pembuat agar-agar.
5)
Gracillaria dapat dikonsumsi sebagai bahan makanan.
b. Protozoa (Protista mirip hewan), mempunyai ciri
bersifat heterotrof, dan dapat bergerak aktif. Protozoa dibedakan menjadi enam
filum berikut.
Filum Ciri Contoh
Rhizopoda Bergerak menggunakan
pseudopodia Amoeba
Actinopoda Bergarak menggunakan axopodia Acanthometra
Foraminifera Mempunyai
cangkang yang berpori-pori Actinophrys,
Polystromella
Apicomplexa Berbentuk
seperti spora dan tidak Plasmodium
(Sporozoa) mempunyai alat gerak
Zoomastigophora Bergerak
menggunakan flagela Trypanosoma,
(Zooflagellata) Trichonympha
Ciliata Bergerak
menggunakan silia Stentor, Paramecium
(Ciliophora)
Peran Protozoa bagi kehidupan makhluk hidup sebagai
berikut.
1) Radiozoa, cangkangnya sering digunakan sebagai bahan
pembentuk gelas dan bahan peledak.
2) Foraminifera,
cangkangnya digunakan untuk
menunjukkan sumber minyak.
3) Trypanosoma
gambiense, mengakibatkan penyakit
tidur pada manusia.
4)
Trypanosoma evansi, mengakibatkan penyakit sura pada hewan ternak.
c. Jamur lendir dan jamur air (Protista mirip
jamur), menpunyai ciri-ciri tubuh berbentuk filamen, hidup ditempat lembab,
serta bersifat heterotrof dan absorptif.
Peran
Protista mirip jamur bagi kehidupan makhluk hidup.
1) Phytopththora
capsici menyerang tanaman
buah-buahan dari famili Cucurbitaceae.
2) Saproglenia
parasitica merupakan parasit yang
hidupnya menempel pada tubuh organisme yang hidup di air, misal ikan.
3) Plasmospora
viticola merupakan parasit pada
buah anggur.
4) Phytophthora
faberi mengakibatkan kanker
pada bidang sadapan batang pohon karet.
6:06 AM
Unknown
Bismillahirrohmanirrohim
(dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang)
(dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang)
Di kajian ini akan di
bahas tentang 10 nama-nama Allah yang wajib di ketahui di samping 99 nama-Nya,
antara lain: Al-Muqsith, Al-Warits, An-Naafi’, Al-Baasith, Al-Hsfiidz,
Al-Waliy, Al-Waduud, Ar-Roofi’, Al-Mu’iz, dan Al-Afuww.
1. AL-MUQSITH: Allah Yang Maha Mengadili
Ditinjau dari segi etimologi Al-Muqsith merupakan bentuk
derivasi dari kata “akhshatha-yuqshithu” yang berarti “Mengadili”. Menurut
terminologi Al-Muqsith dapat diambil suatu pergertian bahwa Allah sebagai dzat
yang paling berhak mengadili segala urusan baik di dunia maupun di akhirat.
Allah swt. berfirman:
“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia
(yang berhak disembah), yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang
yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia
(yang berhak disembah), yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS. Ali Imron:
18)
Maha mengadili adalah sifat Allah yang bertindak dan
menyebarkan keadilan atas orang yang salah. Kesempurnaannya terletak pada
mengaitkan tidak hanya kepuasan orang yang salah, tetapi juga orang yang
menyalahi, hal ini adalah keadilan dan keseimbangan tinggi dari Allah.
Keadilan semacam ini tidak mungkin dimiliki siapapun kecuali
Allah. Kemampuan mengadili yang dimiliki Allah tidak dibatasi oleh ruang dan
waktu serta tidak dibatasi oleh kekuasaan ataupun kekuatan apapun. Pengadilan
Allah berlaku dalam kehidupan di dunia melalui hukum-hukum alam (Sunnatullah)
yang ditetapkan dan berlaku untuk semua makhluknya.
Pengadilan yang paling besar dan agung akan terjadi setelah
kiamat. Pada saat itulah manusia akan dibangkitkan dari alam kubur, untuk
menjalani proses pengadilan, dan tidak akan satu manusia pun yang terlewatkan
guna menentukan kehidupan di alam abadi ke Surga atau ke Neraka. Semua makhluk
akan benar-benar merasakan dan menerima keputusan dan keadilan Allah.
2. AL-WARITS: Allah Yang Maha Mewarisi
Ditinjau dari segi etimologi Al-Warits memiliki
arti kekal setelah binasanya makhluk dan pihak yang menerima kepemilikan dan
mewarisi setelah kematian makhluk. Sifat Al-Warits termaktub dalam ayat Al
Qur’an:
“Dan Sesungguhnya benar-benar Kami-lah yang menghidupkan dan
mematikan dan Kami (pulalah) yang mewarisi.” (QS. al-Hijr: 23)
Apabila kita merujuk pada Nash Al-Qur’an bahwa
sesungguhnya Allahlah pemilik langit dan bumi dan apa yang ada di dalamnya.
Allahlah yang menciptakan Adam sebagai khalifah di bumi, karena Dia hendak
menguji siapa diantara anak adam yang paling baik amalanya pada saat mengemban
misi sebagai hamba dan kholifatullah fil ardi. Mereka dari generasi ke generasi
saling mewarisi apabila dari golongan mereka berakhir, tapi apa yang diwarisi
tersebut hanyalah kepemilikan sementara. Semua pinjaman dari Allah kepada makhluk-makhluk-Nya
tersebut harus dikembalikan secara utuh kepada-Nya, dan yang tersisa hanyalah
Allah sebagai Al-Warits. Firman Allah:
“dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit
dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Ali Imron: 180)
3. AN-NAAFI’U: Allah Yang Maha Pemberi Manfaat
Ditinjau dari segi etimologi An-Naafi’u memiliki
arti “Maha Menberi Manfaat”. Nama Allah ini biasanya digunakan untuk zikir dan
munajat, dengan demikian mengingat An-Naafi’u akan memberi makna bahwa Allahlah
yang sanggup menganugerahkan manfaat untuk manusia. Allah berfirman:
“Dan mereka menyembah selain Allah apa yang
tidak memberi manfaat kepada mereka dan tidak (pula) memberi mudharat kepada
mereka. Adalah orang-orang kafir itu penolong (syaitan untuk berbuat durhaka)
terhadap Tuhannya.” (QS. Al-Furqan: 55)
Allah sebagai zat yang paling berkuasa untuk
menganugerahkan manfaat kepada seluruh makhluknya. Dan juga sebaliknya Allah
swt. sebagai satu-satunya zat yang berkuasa mendatangkan madzarat bagi semua
makhluk-nya. Baik manfaat ataupun madzarat yang Allah berikan kepada
makhluk-Nya sebagai bukti kekuasaan Allah terhadap makhluk-Nya. Karena itu
manusia sebagai makhluk yang memiliki kesadaran (berfikir) akan keberadaan
Allah, maka manusia harus menunjukkan sikap positif terhadap semua manfaat
diberikan Allah kepadanya. Kesadaran terhadap semua manfaat yang diberikan
manusia, akan melahirkan sikap syukur dan taat terhadap semua ketentuannya.
Demikian juga sebaliknya jika manusia tidak menyadari akan manfaat yang telah
dianugerahkan Allah swt. kepadanya, maka akan melahirkan sikap kufur dan
dzalim.
4. AL-BAASITH: Allah Yang Maha Melapangkan
Ditinjau dari segi etimologi Al-Baasith
merupakan bentuk derivasi kata “basatha-yabsuthu” yang memiliki arti melampangkan.
Menurut terminologi Al-Baasith dapat diambil pengertian bahwa Allah sebagai
dzat yang berkuasa untuk mencukupi segala kebutuhan hidup dan menentukan segala
urusan yang dihadapi makhluk-Nya. Allah berfirman:
“Sesungguhnya Tuhanmu melapangkan rezki kepada
siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya; Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui
lagi Maha Melihat akan hamba-hambanya.” (QS. al-Isra’: 30)
Maha melampangkan merupakan salah satu sifat
Allah, Dia-lah yang memberikan ruh dalam raga manusia pada awal kehidupan dan
mencabutnya kembali pada saat kematian. Dengan sifat kelapangan-Nya dan
kebijaksanaan-Nya, Allah melipat gandakan atau melimpahkan sarana rezeki kepada
siapa yang dikehendaki-Nya begitu pula sebaliknya.
Karunia yang dianugerahkan Allah atas makhluk-Nya
adalah nilai yang tak terbatas. Kalau sekiranya nikmat Allah dihitung, niscaya
kita tak dapat menghitungnya. Contoh kecil, misalnya rambut yang tumbuh di atas
kepala saja yang melindungi dari teriknya matahari dan organ lain yang sangat
berguna bagi manusia. Itulah kelapangan yang diberikan Allah kepada kita, yang
mana bila Allah menghendaki memberikan kelapangan karunianya, maka tiada satu
pun makhluk yang dapat menghalangi-Nya.
5. AL-HAFIIDZ: Allah Yang Maha Menjaga
Ditinjau dari segi etimologi Al-Hafiidz
mempunyai arti menjaga segala sesuatu agar tidak berubah. Sebagaimana
firman-Nya:
“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan
Al-Qur’an, dan Sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (QS. Al-Hijr: 9)
Secara terminologi bahwa Allah sebagai dzat yang
berkuasa untuk menjaga dan mengendalikan segala ciptaan dan segala urusan yang
terjadi dalam kehidupan dunia maupun akhirat.
Allah berfirman:
“Maka Allah adalah Sebaik-baik penjaga dan Dia
adalah Maha Penyayang diantara Para Penyayang.” (QS. Yusuf: 64)
Ibnu Manzhur menuturkan; dengan Allah berfisat
‘Al-Hafizh’, maka tak satu partikel atompun terlepas dari pengawasan dan
pemeliharaan-Nya atas apa yang mereka lakukan. Dan Dia juga memelihara langit
dan bumi dengan segala kekuasaan-Nya. Firman Allah:
“Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah)
melainkan Dia yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak
mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaa-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada
yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui
apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak
mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi
Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara
keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. al-Baqarah: 255)
Penjagaan Allah atas langit dapat dipahami dari
tiga hal: 1. Allah menjaga makhluk dari kerusakan dan kehancuran, 2. Allah
menjaga (Menghitung, Mencatat, Memberi balasan atas perbuatan hamba), 3. Allah
menjaga para wali-Nya yang melindungi mereka dari kemungkinan berbuat dosa, dan
menjaga mereka dari godaan dan bujukan syetan, agar terhindar dari keburukan
dan fitnah syetan.
6. AL-WALI: Allah Yang Maha Melindungi
Dilihat dari segi lughowi Al-Wali memiliki arti
“Yang Maha Melindungi. Secara maknawi Al-Wali mengandung pemahaman bahwa Allah
akan selalu melindungi semua makhluk ciptaan-Nya dari segala gangguan yang
mengancam kehidupannya, Allah memberi jaminan keamanan dan keberlangsungan hidup
makhluk-makhluk-Nya. Firman Allah:
“Tiadakah kamu mengetahui bahwa kerajaan langit
dan bumi adalah kepunyaan Allah? Dan tiada bagimu selain Allah seorang
pelindung maupun seorang penolong.” (QS. al-Baqarah: 107)
Maha melindungi adalah sifat Allah yang
berhubungan dengan pertolongan yang diberikan atas seseorang dari gangguan dan
bahaya yang ditimbulkan orang lain. Makna pertolongan Allah itu jelas, karena
Dia akan menolong orang beriman dan orang-orang yang berfihak kepada-Nya dan
Allah tidak melihat jumlahnya. Baginya sedikit maupun banyak sama saja, bila
Dia menghendaki memberi pertolongan kepada orang yang beriman , maka tentu akan
mendapat kemenangan. Sebagai contoh perang Badar, meskipun jumlah umat Islam
sedikit akan tetapi mereka mendapat kemenangan sebagai bukti akan adanya
pertolongan dan perlindungan Allah.
Firman Allah:
“Yang demikian itu karena Sesungguhnya Allah
adalah pelindung orang-orang yang beriman dan karena Sesungguhnya orang-orang
kafir itu tidak mempunyai pelindung.” (QS. Muhammad: 11)
7. AL-WADUUD: Allah Yang Maha Pengasih
Diantara sifat Allah swt. yang enak didengar dan
menyejukkan hati adalah Al-Waduud (Yang Maha Pengasih). Lafadz ini merupakan bentuk derivasi dari
kata “wadda-yawaddu” yang berarti mengasihi. Menurut istilah Al-Waduud memiliki
arti Allah memiliki sifat pengasih terhadap semua makhluk-Nya tanpa pilih kasih
terhadap siapapun sesuai ketentuan hukum yang telah ditetapkan-Nya. Firman
Allah:
“Sesungguhnya Dia-lah yang menciptakan (makhluk)
dari permulaan dan menghidupkannya (kembali). Dia-lah yang Maha Pengampun lagi
Maha Pengasih.” (QS. al-Buruj: 13-14)
Meurut pendapat Az Zujjaj “Al-Waduud” adalah
Allah sebagai zat yang mengasihi dan yang mencintai hamba-hamba-Nya yang
shaleh. Ibnu Qayyim menuturkan: Dialah yang Maha Mengasihi, yag mencintai dan
dicintai oleh kekasih-Nya dan keutamaan adalah bagi yang memberi karunia.
8. AR-ROOFI’: Allah Yang Maha Meninggikan
Ditinjau dari segi etimologi Ar-Roofi’ memiliki
arti “Yang Maha Meninggikan”. Kata ini merupakan bentuk derivasi dari “rafa’a-yarfa’u”
yang berarti meninggikan atau mengangkat. Menurut terminologi Ar-Rofi’
mengandung arti bahwa Allah berkuasa untuk mengangkat harkat dan martabat
makhluk-Nya yang dikehendaki-Nya pada derajat yang sempurna. Firman Allah:
“Apabila terjadi hari kiamat. Tidak seorangpun
dapat berdusta tentang kejadiannya. (Kejadian itu) merendahkan (satu golongan)
dan meninggikan (golongan yang lain).” (QS. al-Waqi’ah: 1-3)
Allah Maha Meninggikan derajat mereka yang
beriman kepada Allah swt dan bertaqwa kepadanya serta mereka yang senantiasa
mendekatkan/tawadlu’ kepada-Nya. Sebaliknya Dia merendahkan dan menghinakan
orang-orang yang kafir yang ingkar kepada-Nya, dan yang senantiasa mengingkari
atas nikmat yang diberikan-Nya.
9. AL-MU’IZZU: Allah Yang Maha Memuliakan
Ditinjau dari segi etimologi “Al-Mu’izzu”
artinya yaitu “Yang Maha Memuliakan”. Merupakan bentuk derivasi dari kata
“a’azza-yu’izzu” yang berarti memuliakan. Secara terminologi Al-Mu’izzu artinya
yaitu segala kemuliaan menjadi milik Allah dan akan diberikan kepada siapapun
yang dikehendaki. Firman Allah:
“Katakanlah: “Wahai Tuhan yang mempunyai
kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau
cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau
kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah
segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”” (QS.
Ali Imron: 26)
Allah menganugerahkan kemuliaan orang-orang yang
tabir hatinya telah menerima petunjuk Allah sehingga mereka mengetahui akan
kebenaran hakiki firman-firman Allah swt. Mereka diberi ketenangan hati
sehingga tak lagi memerlukan apa-apa selain Allah. Mereka diberikan kekuatan
dan kemantapan sehingga bisa mengendalikan hawa nafsunya. Allah juga memuliakan
mereka di akhirat yakni dapat menemui-Nya. Allah akan memanggil mereka dan
berfirman “Wahai jiwa yang tenang kembalilah kepada Tuhanmu” .
Dalam realita kehidupan sehari-hari, tidak semua
orang bisa memperoleh kemuliaan dari Allah. Ada sebagian manusia yang
memperoleh kehinaan akibat perbuatan yang dilakukan yang hanya mengikuti hawa
nafsunya. Allah menyatakan dalam firman-Nya:
“Orang-orang munafik memanggil orang-orang
Mu’min, “Bukankah kami dahulu bersama kamu?” Mereka menjawab, “Benar, tetapi
kamu mencelakakan dirimu sendiri, dan hanya menunggu, meragukan (janji Allah)
dan ditipu oleh angan-angan kosong sampai datang ketetapan Allah; dan penipu
(setan) datang memperdaya kamu tentang Allah.”” (QS. al-Hadid: 14)
10. AL-AFUWW: Allah Yang Maha Pemaaf
Secara etimologi Al-‘Afuww berasal dari
“’afaa-ya’fuu” yang berarti memaafkan. Dengan sifat Allah bersifat Al-‘Afuww
dapat dipahami bahwa Allah banyak memaafkan. Sedang kata Al-‘Afuww artinya
yaitu memaafkan dosa-dosa dan tidak membalas orang-orang yang berbuat salah.
Imam Ghazali berpendapat, bahwa Al-‘Afuww yaitu
yang menghapuskan keburukan-keburukan dan mengampuni perbuatan keji. Kata ini
sangat dekat dengan Al-Ghafur, tetapi lebih kuat tekanan maknanya, karena kata
Al-Ghafur itu mengacu pada arti penutupan dosa, sedangkan kata Al-‘Afuww
mengacu pada arti penghapusan dosa. Dengan demikian tentu penghapusan lebih
kuat tekanannya daripada penutupan dosa.
Allah memberikan karunianya yang berupa ampunan
karena keterbatasan dan ketidakmampuan hamba yang telah terlanjur berbuat salah
dan dosa. Salah satu sifat pemaaf-Nya adalah bahwa Dia menutupi sebagian besar
dosa hamba-hamba-Nya kelak di akhirat. Dia memperlihatkan kepada mereka
sejumlah dosa mereka, kemudian memberikan kabar gembira kepada mereka akan pengampunan-Nya
bahkan Dia akan menggantikannya dengan kebaikan. Maha suci Allah, sungguh maha
Agung dan maha mulia-Nya Dia. Sungguh maha agung maaf dan ampunan-Nya. Sebagai
hamba kita harus mengetahui keluasan maaf Allah, selalu mohon maaf-Nya, dan
memohon kepada-Nya agar Dia ampuni dengan sifat pemaaf dan kedermawanan-Nya.
Dalam penghujung surat Al Baqarag, orang-orang Mu’min, mereka senantiasa berdoa
kepada Tuhan dengan mengucapkan:
“Allah tidak membebani seseorang melainkan
sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang
diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya.
(mereka berdoa): “Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau hukum Kami jika Kami lupa
atau Kami tersalah. Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau bebankan kepada Kami beban
yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya
Tuhan Kami, janganlah Engkau pikulkan kepada Kami apa yang tak sanggup Kami
memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah
penolong Kami, Maka tolonglah Kami terhadap kaum yang kafir.”” (QS. al-Baqarah:
286)
Maaf Allah itu luas, demikian kata Ibnu Qayyim:
“Dia Maha Pemaaf, yang Pemaaf-Nya meliputi semua makhluk. Kalau karena tidak
maaf-Nya, niscaya bumi akan terbenam dengan membawa seluruh penduduknya”.
Allah juga menyeruh kepada hamba-Nya untuk
memaafkan oarang yang telah berlaku dzalim kepada mereka dan mengampuni orang
yang tidak tahu, jika mampu. Kepada mereka, Allah menjanjikan maaf dan
ampunan-Nya sebagaimana balasan-Nya:
“Dari Abu Hurairah, sesungguhnya Rasulullah saw.
bersabda: “shadaqah itu tidak mengurangi harta, dengan maaf, Allah akan
menambah kemuliaan kepada seorang hamba; dan ketika seorang bersikap rendah
hati karena Allah akan mengangkatnya.”” (HR. At-Tirmidzi: 1952)
5:51 AM
Unknown
Bismillahirrohmanirrohim
(dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang)
1. Makhluk-Makhluk Allah yang Mendahului
Terciptanya Nabi Adam
(dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang)
1. Makhluk-Makhluk Allah yang Mendahului
Terciptanya Nabi Adam
Sebelum
Allah menciptakan Adam as. Sebagai manusia bapak pertama yang menelurkan
manusia sejagad raya ini dengan berbagai bangsa, ras, dan warna kulit yang
berwarna-warni, terlbih dahulu Allah menciptakan langit dan bumi serta
seisinya, menciptakan malaikat yang bahanya dari nur (cahaya), juga menciptakan
iblis atas jin bahannya dibuat dari api.
Dalam
menciptakan makhluk-makhluk seperti diatas cukuplah bagi Allah dengan
mengucapkan kata-kata KUN = jadilah; maka jadilah apa yang Dia kehendaki.
Allah berfirman:
“Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia
menghendaki sesuatu hanyalah (cukup) berkata kepadanya: “Jadilah” maka
terjadilah ia.” (QS. Yasin: 82)
2. Kejadian Adam as.
Allah
menciptakan Adam as. sebagai manusia bapak pertama didunia adalah dibuat dari
bahan asli tanah yang diawali dengan kata-kata KUN = jadilah, FAYAKUN = maka
jadilah.
Tentang
penciptaan Adam as. yang bahannya dari tanah liat itu dapat kita lihat dalam
surat al-Hijr ayat 26; surat Shad ayat 71.
Sesudah
Allah menciptakan Adam as. lalu Allah memerintahkan kepada seluruh makhluk
Allah yang mendahului Adam as. khususnya perintah itu ditunjukkan kepada
seluruh malaikat untuk menghormati Adam terebut. Maka sujudlah (memberikan
penghormatan) seluruh malaikat itu kecuali iblis, ia menolak perintah Allah tersebut.
Mengapa iblis tidak mau tunduk atau memberikan penghormatan kepada Nabi Adam
as.? karena menurutnya ia diciptakan dari api yang lebih mulia dari Adam yang
terbuat dari tanah liat lagi pula busuk baunya, mengapa ia harus sujud kepada
Nabi Adam as. Sifat keakuan dan egoisme inilah yang menjadikan penghalang ia
tidak mau mengindahkan perintah Allah, dan akhirnya mengakibatkan baginya
sebagai hamba yang terkutuk dan dikeluarkan dari surga Allah.
Dalam hali ini Allah
berfirman:
“Allah berfirman, apakah yang menghalangimu
utuk bersujud (kepada Adam) diwaktu Aku menyuruhmu? Iblis menjawab: “Saya lebih
baik dari padanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan
dari tanah.” Allah berfirman: Turunlah kamu dari surga itu karena kamu tidak sepatutnya
menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk
orang-orang yang hina.” (QS. al-A’raf: 12-13)
3. Mengapa Adam Dihormati Oleh Seluruh Malaikat
Ada
beberapa keistimewaan yang ada pada diri Adam sehingga Adam dihormati oleh para
Malaikat, diantaranya adalah:
1.
Adam
adalah manusia pertama yang diciptakan Allah, dan Adamlah yang menurunkan
(turunan) manusia yang ada di dunia, ada yang menjadi Nabi dan Rasul, ada yang
menjadi Raja, Presiden bahkan ada yang menjadi orang jahat yang ketentraman dan
merusak isi alam yang diciptakan oleh manusia.
2.
Adam
diciptakan oleh Allah dengan “TanganNya” sendiri sedangkan makhluk-makhluk yang
lain diciptakan dengan perkataanNya “Jadilah”, maka terciptalah makhluk yang
dihendaki oleh Allah, seperti iblis, dengan kejadian terebut maka sudah
sepantasnya Allah memerintahkan makhlukNya supaya menghormati Adam.
3. Selain Adam yang diciptakan Allah dengan
tanganNya. Adam adalah seorang Nabi, seorang yang mendapat wahyu dari Allah.
4.
Kedudukan
Adam Sebagai Nabi
Allah menciptakan Adam
(manusia) untuk menjadi khalifatullah, menjadi manusia yang akan mengelola alam
dan seluruh isinya, agar dapat menjadi pengelola yang baik, maka Allah
mengajarkan kepada Adam bermacam-macam ilmu pengetahuan, seperti; pertanian,
peternakan, pertukangan dan nama-nama benda yang berada di bumi yang sudah
diciptakan Allah. Kelebihan Adam tersebut dapat dilihat dalam firman Allah pada
surat al-Baqarah: 31-32 yang artinya:
“Dan dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya,
kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lau berfirman: Sebutkanlah
kepadaKu nama-nama benda yaitu, jika kamu memang orang-orang yang benar, Mereka
(para malaikat) menjawab: Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain
dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami, sesungguhnya Engkaulah Yang
Mengetahui lagi Maha Bijaksana, Allah berfirman: Hai Adam? Beritahukanlah
kepada mereka nama-nama benda ini. Maka setelah diberitahukannya
(dibeberkannya) kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: Bukankah
sudah Ku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan
bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?”
5. Iblis Menolak Perintah Allah
Berbeda dengan malaikat
yang selalu tunduk dan patuh kepada Allah, tapi iblis adalah makhluk yang
selalu membangkang kepada perintah Allah, termasuk pada saat Allah
memerintahkan kepada iblis supaya sujud kepada Adam, tapi iblis menolak dan
membangkang, karena membangkang dari petintah Allah tersebut, sehingga iblis
diusir oleh Allah dari surga.
Penyebab utama, mengapa
iblis selalu membangkang kepada perintah Allah karena iblis merasa sombong dan
merasa lebih mulya dari Adam, karena Adam diciptakan Allah dari tanah sedangkan
iblis diciptakan Allah dari api.
Setelah iblis diturunkan
Allah ke bumi, iblis minta kepada Allah agar diberi umur panjang sampai nanti
hari kiamat, jadi semua iblis tidak akan mati sampai hari kiamat.
Permintaan tersebut
dikabulkan oleh Allah, ia dan keturunannya diberi hidup sampai hari kiamat.
Tujuan iblis minta dipanjangkan umurnya untuk hidup ialah karena merasa dengki
kepada Adam, karena yang menyebabkan iblis keluar dari surga gara-gara Adam,
maka dari itu mulai sekarang aku akan menggoda dan mengajak dan selalu
menghalang-halangi dari jalan yang lurus. Aku (iblis) akan selalu menggoda Adam
dan anak cucunya dengan berbagai cara dan dari berbagai arah, dari arah
belakang, depan, samping dan dari arah atas dan arah bawah, agar semua manusia
bersama-sama kami melanggar perintah Allah dan bersama-sama dengan kami menjadi
penghuni Neraka. Sebagaimana firman Allah:
“Allah berfirman: Hai Iblis, apakah yang mengahalangi kamu sujud kepada
yang telah Ku ciptakan dengan kedua tanganKu. Apakah kamu menyombongkan diri
ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?. Iblis berkata:
Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan dari tanah, Allah berfirman:
Maka keluarlah kamu dari surga, sesungguhnya kamu adalah orang yang diusir,
sesungguhnya kutukanKu tetap atasmu sampai hari pembalasan. Iblis berkata: Ya
Tuhanku, beri tanggulah aku sampai hari merekadibangkitkan. Allah berfirman:
Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh, sampai kepada hari
yang telah ditentukan waktunya (hari kiamat). Iblis menjawab: Demi kekuasaan Engkau
aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hambaMu yang mukhlis
diantara mereka. Allah berfirman: Maka yang benar (adalah sumpahKu) dan hanya
kebenaran itulah yang Ku katakan. Sesungguhnya Aku pasti akan memenuhi Neraka
jahanam dengan jenis kamu dan dengan orang-orang yang mengikuti kamu diantara
mereka semuanya.” (QS. Shod: 75-85)
6. Penciptaan Hawa Sebagai Istri Adam
Setelah Allah mengetahui
bahwa Adam merasa kesepian hidup di surga, tiada teman dan kawan yang
mendampingi dan yang menemani sehari-hari. Maka Allah menciptakan teman
pendamping Adam yang dapat menemani dan menghibur Adam. Teman tersebut adalah
Hawa yang diciptakan Allah dari tulang rusuk sebelah kiri Adam yang diambil
Allah pada saat Adam tertidur lelap.
Setelah Adam terbangun dari
tidurnya, ia terperanjat karena disebelah kepalanya ada seorang perempuan yang
cantik dan menawan yang belum pernah dikenal sebelumnya. Diciptakannya Hawa
tersebut maka rasa kesepian yang dialami oleh Adam menjadi hilang, dan dengan
diciptakannya Hawa dapat menjadi penyambung dan penerus keturunan Adam,. Firman
Allah:
“Yang telah menciptakan
kamu dari seseorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan istrinya.” (QS.
an-Nisa: 1)
Dan firman Allah lagi:
“daripadanya Dia
menciptakan istrinya, agar ia merasa senang kepadanya” (QS.al-A’raf: 89)
7. Adam dan Hawa Bertempat Tinggal di Surga
Ketika Adam sudah
mendapatkan seorang pendamping yang cantik dan menawan yang dapat digunakan
untuk membagi rasa, baik senang maupun susah dan dapat menambah ketenangan dan
ketentraman hatinya. Maka selanjutnya Allah memerintah kepada kedua insan
tersebut untuk menempati satu tempat yang penuh dengan kenikmatan yaitu di
Surga.
Di dalam surga tersebut
Alah menyediakan berbagai macam buah-buahan yang berbagai macam rasa dan warna,
yang semuanya itu disediakan untuk Adam dan Hawa dan boleh dinikmati
sepuas-puasnya, kecuali satu buah-buahan yang dilarang didekati, disentuh, dan
dimakan oleh Adam dan Hawa, yaitu Khuldi. Bahkan Allah akan mengancam dan
memberi siksa kepada Adam dan Hawa apabila sampai memakan buah tersebut.
Pembicaraan antara Adam
dan Allah tersebut didengar oleh iblis yang telah diusir oleh Allah dari surga.
Sehingga dengan modal larangan Allah kepada Adam tersebut, iblis berusaha
memperdaya Adam dan Hawa dengan berbagai cara agar mau melanggar larangan
Allah. Yaitu memakan buah Khuldi. Dan dengan kata-kata yang manis dan menawan
sehingga kedua insan tersebut terpikat hatinya dan tidak sadar atas tipu daya
iblis yang menjadi musuh besarnya dan dapat menjerumuskan kedalam ancaman dan
siksaan Allah.
Padahal sebelumnya Allah
sudah berpesan kepada Adam agar berhati-hati dalam menghadapi iblis. Firman
Allah:
“Maka Kami berkata: Hai
Adam, sesungguhnya iblis ini adalah musuh bagimu dan bagi istrimu, maka
sekali-kali janganlah mengeluarkan kamu berdua dari surga, yang menyebabkan
kamu menjadi celaka.” (QS. Thohah: 117)
8. Adam dan Hawa Terpikat Atas Bujukan Iblis
Dengan berbagai cara dan
kata-kata manis yang menggiurkan akhirnya Adam dan Hawa terpikat oleh ajakan
dan bujuk rayu iblis dan melanggar larangan Allah, dan sesuai dengan janji
Allah akan memberi ancaman kepada Adam dan Hawa apabila melanggar larangannya,
yaitu memakan buah Khuldi. Dan akhirnya Adam dan Hawa menerima balasan dari
Allah, yaitu dikeluarkan dari surga dan diturunkan ke bumi. Itulah balasan yang
diterima oleh Adam dan Hawa akibat menuruti perintah iblis untuk memakan buah
Khuldi. Sebagaimana firmanNya:
“Kemudian Tuhan menyeru
mereka: Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu, dan Aku
katakan kepadamu; Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu
berdua.” (QS. al-A’raf: 22)
Firman Allah:
“Allah berfirman:
Turunlah kalian, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Dan kamu
menyukai tempat kediaman dan kesenangan (tempat mencari kehidupan) dimuka bumi
sampai waktu yang telah ditentukan. Allah berfirman: Dimuka bumi itu kamu hidup
dan di bumi itu kamu mati dan dari bumi itu pula kamu akan dibangkitkan.” (QS.
al-A’raf: 24-25)
9. Adam dan Hawa Menyesali Perbuatannya
Setelah Adam dan Hawa di
bumi, mereka berdua menyesali perbuatannya yang melanggar perintah Allah,
setelah itu dengan hati yang bersih dan penuh pengharapan ampunan dari Allah,
maka mereka berdua bersimpuh dimuka bumi dengan menengadakan kedua tangan
sambil berkata:
“Ya Tuhan kami, kami
telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan
memberi Rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.”
Doa yang dibaca Adam dan
Hawa tersebut didengar dan diterima oleh Allah, karena Allah Maha penerima
Taubat hambanya, sebagaimana firman Allah:
“Kemudian Adam menerima
berbagai kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya
Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. al-Baqarah: 37)
10. Berbagai Pendapat Tentang Surga yang Ditempati
Adam
Ada beberapa pendapat
dikalangan Ulama’ tentang surga yang dihuni oleh Adam dan Hawa itu surga yang
ada di langit dan ada yang mengatakan surga yang ada di bumi. Dari kedua
pendapat tersebut yang kuat adalah pendapat yang mengatakan bahwa surga yang
dihuni oleh Adam dan Hawa adalah Surga Dunia. Sebagaimana firman Allah:
“Sesungguhnya Aku hendak
menjadikan Adam sebagai khalifah di muka bumi” (QS. al-Baqarah: 30)
Pendapat yang mengatakan
bahwa surga yang dihuni oleh Adam dan Hawa itu surga dunia juga diperkuat oleh
ayat Al-Qur’an yang mengatakan bahwa orang yang menghuni surga itu akan kekal
didalamnya, sedangkan Adam dan Hawa tidak kekal didalam surga, karena mereka
berdua di keluarkan oleh Allah dari surga karena melanggar laranganya.
Sebagaimana firman Allah:
“Adapun orang-orang yang
berbahagia, maka tempatnya didalam surga, mereka kekal didalamnya.” (QS. Hud:
108)
11. Adam dan Hawa Mengembangkan Keturunan di Bumi
Setelah menjalani
kehidupan di bumi, Adam dan Hawa mulai mengalami dan merasakan kehidupan yang
penuh tanggung jawab dan penuh resiko. Dan setiap mereka menginginkan sesuatu
mereka harus bekerja keras dan mengeluarkan tenaga, kalau mereka ingin makan,
mereka harus bekerja terlebih dahulu mananam padi, kalau mereka menginginkan
pakaian, mereka harus bekerja dahulu menanam kapas, kalau mereka menginginkan
air mereka harus menggali tanah, dan masih banyak lagi kebutuhan yang harus didahului
dengan pengorbanan.
Disamping bekerja keras,
Adam dan Hawa harus berhati-hati dalam bertindak dan bekerja, karena Adam dan
Hawa selalu diganggu iblis agar melanggar perintah Allah, agar supaya Adam dan
Hawa tidak melanggar perintah Allah, maka Allah memberi petunjuk. Karena dengan
petunjuk itulah Adam dan anak turunnya dapat selamat dari tipu daya syetan
sebagaimana firman Allah:
“Kami berfirman:
Turunlah kamu dari surga itu. Kemudian jika datang petunjukKu, maka barang
siapa yang mengikuti petunjuk, niscaya tidak ada rasa kekhawatiran atas mereka,
dan tidak pula mereka bersedih hati.” (QS. al-Baqarah: 38)
Tidak lama setelah itu,
Hawa mengandung dan melahirkan keturunan dua laki-laki dan perempuan, yang
bernama Habil dan adiknya Habil. Dan tidak lama setelah itu, Hawa mengandung
lagi dan melahirkan dua anak laki-laki dan perempuan, yang laki-laki dinamakan
Qabil dan yang perempuan diberi nama adik Qabil.
Ketika kedua anaknya
yang laki-laki itu tumbuh sebagai anak remaja, Adam mulai mendidik anak-anaknya
agar dapat mengelolah bumi dengan baik, dengan cara bercocok tanam, bertenak
dan lain-lain pekerjaan yang dapat membuahkan hasil dan bermanfaat.
Agar kedua anaknya
tersebut mau taat pada perintah Allah, maka Adam menyeruh kepada anak-anaknya
agar mensyukuri nikmat Allah yang telah diberikan kepadanya, dengan cara
mengerjakan perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya. Diantara perintah
Allah adalah mempersembahkan sebagian hartanya atau rizkinya ke puncak gunung
agar dapat dinikmati oleh makhluk-makhluk Allah yang tidak pandai bercocok
tanam seperti hewan. Pekerjaan seperti ini oleh Adam dinamakan dengan
berkurban, berzakat, dan beribadah.
Dengan adanya nasehat
dan perintah Adam kepada anaknya ini, maka iblis mulai menggoda kepada Qabil
dan Habil dengan berbagai cara, agar tidak mengerjakan perintah dan tidak
memperhatikan nasehat ayahnya tersebut. Dengan perkataan yang halus akhirnya
iblis dapat memperdaya Qabil yang mempunyai hati kasar, karena korban yang
dikeluarkan oleh Qabil tidak sebesar yang dikeluarkan oleh Habil, dan Qabil
mengeluarkan korban tersebut tidak didasari dengan keikhlasan hati, tapi
mengeluarkan korban tersebut karena terpaksa.
Ternyata korban
persembahan Habil habis dimakan oleh binatang sedangkan korban Qabil tidak
diterima oleh Allah karena korban persembahannya masih tersisa banyak dan tidak
dimakan oleh binatang. Dengan ditolaknya korban Qabil ini, maka Qabil iri hati
kepada Habil dan menimbulkan rasa benci Qabil kepada Habil yang didasarkan oleh
bujuk rayu iblis.
Selang beberapa tahun,
kebencian Qabil dan Habil belum hilang, kini timbul masalah lagi, yang membuat
rasa kedengkian Qabil semakin bertambah, karena Adam menjodohkan Qabil dengan
adik Habil yang jelek, sedangkan Habil dijodohkan dengan adiknya Qabil yang
lebih cantik dibanding dengan adiknya Habil, karena memang menurut syariat Nabi
Adam, anak kembar tidak boleh dijodohkan dengan kembarannya.
Karena kamarahan,
kebencian, dan iri hati yang semakin mendalam, maka akhirnya Qabil mempunyai
rencana untuk membunuh adiknya, dan ternyata rencana Qabil dapat dilaksanakan
dengan baik, dan dengan dijalankannya rencana tersebut menambah kegembiraan
iblis karena iblis telah berhasil memperdaya Qabil untuk membunuh adiknya.
Untuk menyelesaikan perkara pembunuhan tersebut agar tidak terlarut-larut, maka
Qabil menanam adiknya itu ke liang lahat dan habislah perkara, yang meniru
perbuatan burung gagak.
Selanjutnya Qabil tidak
pulang ke rumah ayahnya tapi berkelana atau mengembara kemana tanpa arah dan
tujuan yang pasti. Dengan kematian Habil dan perginya Qabil, maka Adam
kehilangan dua anaknya, yang hilang karena terbunuh dan yang satu hilang karena
mengembara tanpa tujuan.
Yang menyebabkan itu
semua dari tingkah laku Adam, Hawa dan anak-anaknya adalah iblis. Sebab iblis
itu adalah musuh besar kita, yang harus kita jauhi dan harus kita lawan dengan
cara mendekatkan diri kepada Allah, menjauhi segala larangan-larangan Allah dan
menjalankan semua perintah.
Oleh karena sebagai
orang yang beriman, kita harus waspada dan harus berhati-hati agar jangan
terpedaya oleh tipu daya iblis, karena iblis dulu sudah bersumpah dihadapan
Allah akan menggoda anak cucu Adam sampai hari kiamat, agar nanti dapat
bersama-sama dengan iblis menjadi penghuni neraka jahanam. Cerita tentang Qabil
dan Habil tersebut dapat kita lihat pada Al-Qur’an Syrah al-Maidah: 27-31.
Subscribe to:
Posts (Atom)
RSS Feed
Twitter





