Wednesday, January 28, 2015


Batasan
Jika menyebut penanggulangan wabah ada dua pengertian yang tercakup di dalamnya yakni pengertian wabah di satu pihak serta pengertian penanggulangan di pihak yang lain.
1.      Wabah
Pengertian wabah atau dikenal pula sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) banyak macamnya. Beberapa di antaranya yang terpenting ialah:
a.       Dari sudut arti kata
Dari sudut arti kata, Wabah atau Epidemi berasal dari bahasa Yunani yaitu Epi berarti pada dan Demos yang berarti penduduk atau rakyat. Jadi epidemi diartikan sebagai hal-hal yang terjadi pada penduduk. Sekalipun yang mungkin terjadi pada penduduk banyak macamnya, yang paling menarik perhatian ialah tentang penyakit.
b.      Dari sudut epidemiologi
Dari sudut epidemiologi wabah berarti suatu peningkatan kejadian kesakitan dan/atau kematian suatu penyakit di suatu tempat tertentu, yang melebihi keadaan biasanya.
c.       Dari sudut perundang-undangan
Dari sudut undang-undang yang untuk Indonesia yaitu Undang-Undang No.4 Tahun 1984, yang dimaksud dengan wabah ialah kejadian berjangkitnya suatu penyakit menular dalam masyarakat yang jumlah penderitannya meningkat secara nyata melebihi daripada keadaan yang lazim pada waktu dan daerah tertentu serta dapat menimbulkan malapetaka.
Jika diperhatikan pelbagai pengertian yang seperti ini, terutama pengertian wabah sebagaimana yang tercantum dalam Undang-Undang No.4 Tahun 1984, segera terlihat bahwa untuk dapat memahami pengertian wabah dengan sebaik-baiknya, paling tidak ada empat hal yang perlu diketahui terlebih dahulu. Keempat hal yang dimaksud ialah:
a.       Penyakit menular
Yang dimaksud dengan penyakit menular ialah penyakit yang disebabkan oleh suatu mikroorganisme atau produk toxinya, yang ditularkan dari penderita atau reservoirnya kepada manusia lain yang rentan.
b.      Keadaan yang lazim
Jumlah penderita suatu penyakit menular dalam suatu masyarakat atau wilayah sangat bervariasi tergantung pada penyebab penyakitnya, sifat-sifat penduduk yang terserang serta lingkungan tempat penyakit tersebut terjangkit. Pada umumnya jumlah penderita penyakit menular di suatu wilayah diamati dalam suatu kurun waktu tertentu (mingguan, bulanan atau tahunan).
Apabila angka hasil pengamatan tersebut berkisar pada satu nilai disekitar nilai rata-rata (mean), maka keadaan yang seperti ini disebut sebagai suatu ‘keadaan yang lazim’.
c.       Peningkatan jumlah penderita
Karena satu dan lain hal, angka hasil pengamatan penyakit menular tersebut bisa melebihi nilai rata-ratanya. Keadaan yang seperti ini disebut wabah. Pedoman yang dipakai untuk menentukan keadaan wabah amat beraneka ragam.
Secara statistik, pedoman yang dipakai ialah apabila perbedaan tersebut melebihi 2 standar deviasi (SD) dari harga rata-ratanya (mean). Sedangkan untuk kepentingan praktis di lapangan, pedoman yang dipakai ialah apabila perbedaan tersebut mencapai 2 kali dari nilai rata-rata.
d.      Dapat menimbulkan malapetaka
Yang dimaksud denga dapat menimbulkan malapetaka disini ialah apabila penyakit tersebut mempunyai potensi besar untuk menular secara cepat. Keadaan malapetaka ini tidak selalu berarti apabila jumlah penderita telah meningkat saja. Terjadinya suatu kasus penyakit menular dengan penderita tunggal, tetapi penyakit tersebut sudah lama tidak ditemukan atau sama sekali belum diketahui, maka keadaan yang seperti ini telah dianggap mempunyai potensi untuk menimbulkan malapetaka.

2.      Penanggulangan
Pengertian penanggulangan banyak pula macamnya. Secara sederhana yang dimaksud dengan penanggulangan disini ialah suatu proses yang meliputi upaya menetapkan munculnya keadaan wabah, upaya penanganan keadaan wabah serta upaya menetapkan berakhirnya keadaan wabah. Ketiga upaya tersebut yang dilakukan ini saling berhubungan dan memengaruhi membentuk spiral.

Ruang Lingkup
Sebenarnya jika berbicara tentang keadaan wabah, jenis penyakit yang tercakup di dalamnya tidak terbatas hanya pada penyakit menular. Sesuai dengan pengertian wabah sebagaimana yang tercantum dalam epidemiologi, penyakit apapun dapat menimbulkan keadaan wabah, apabila untuk jangka waktu tertentu, di suatu daerah tertentu, ditemukan jumlah penderita untuk penyakit tersebut yang meningkat secara bermakna.
Dalam buku ini tidaklah wabah semua penyakit tersebut dibicarakan. Disesuaikan dengan pola penyakit yang ditemukan di masyarakat dan juga disesuaikan pula dengan pengertian wabah sebagaimana yang tercantum dalam Undang-Undang No.4 Tahun 1984, maka pembicaraan tentang wabah tersebut dibatasi hanya pada penyakit menular saja.
Adanya pembatasan yang seperti ini mudah dimengerti, karena memanglah sampai saat ini jenis penyakit utama yang ditemukan dimasyarakat masih berkisar pada penyakit yang bersifat menular tersebut. Diharapkan jika penyakit menular ini dapat diatasi, dalam arti tidak sampai menimbulkan keadaan wabah, maka secara bertahap derajat kesehatan masyarakat akan dapat ditingkatkan.

Kegiatan Penanggulangan Wabah
Untuk dapat melakukan penanggulangan wabah banyak kegiatan yang harus dilakukan. Untuk suatu puskesmas kegiatan tersebut secara sederhana dapat dibedakan atas empat macam, yakni:
1.      Menetapkan terjangkitnya keadaan wabah
Kegiatan pertama yang harus dilakukan ialah menetapkan terjangkitnya suatu wabah. Untuk dapat menetapkan terjangkitnya atau tidaknya wabah tersebut, perlu dilakukan pengumpulan data, penganalisisan data dan penarikan kesimpulan. Agar kesimpulan terbebut sesuai dengan keadaan yang sebenarnya perlu dimiliki suatu pedoman pengambilan kesimpulan. Pedoman yang dimaksud dikenal dengan  nama Nilai Batas Keadaan Wabah.
2.      Melaksanakan penanganan keadaan wabah
Apabila telah dibuktikan adanya wabah, kegiatan selanjutnya yang perlu dilakukan ialah melaksanakan penanganan wabah. Untuk ini ada tiga hal yang harus dilaksanakan yakni:
a.       Kegiatan-kegiatan yang ditunjukan kepada penderita.
b.      Kegiatan-kegiatan yang ditunjukan kepada masyarakat.
c.       Kegiatan-kegiatan yang ditunjukan terhadap lingkungan.
3.      Menetapkan berakhirnya keadaan wabah
Keadaan wabah adalah suatu keadaan darurat, dan karena itu perlu ditetapkan masa berakhirnya. Cara menetapkan berakhirnya keadaan wabah adalah sama dengan menetapkan terjangkitnya wabah, yakni melakukan pengumpulan data, penganalisisan data dan penarikan kesimpulan. Penarikan kesimpulan disini juga memanfaatkan Nilai Batas Keadaan Wabah yang telah ditetapkan.
4.      Pelaporan wabah
Kegiatan lain yang harus dilakukan ialah melaporkan keadaan wabah. Pada dasarnya laporan wabah tersebut meliputi laporan  terjangkitnya keadaan wabah, laporan penanganan wabah serta laporan berakhirnya keadaan wabah. Semua laporan ini dipersiapkan oleh puskesmas untuk dikirimkan ke dinas kesehatan tingkat II. Adanya laporan yang seperti ini dipandang penting dalam rangka penyusunan rencana-rencana dan pelaksanaan rencana kerja penanggulangan wabah itu sendiri.
Perlu disampaikan disini bahwa keempat kegiatan ini tidak dilakukan oleh puskesmas saja, tetapi juga mengikutsertakan pelbagai pihak yang ada di masyarakat, baik instansi pemerintah, instansi swasta dan/ataupun masyarakat sendiri.

Refrensi: Dr. Resna A. Soerawidjaja & Prof. DR. Dr. Azrul Azwar, M.P.H; Penanggulangan

   Wabah oleh PUSKESMAS
Obesitas salah satu penyakit modern
Akibat Obesitas
Penimbunan lemak yang berlebihan di bawah diafragma dan di dalam dinding dada bisa menekan paru-paru sehingga timbul gangguan pernapasan dan sesak napas, meskipun penderita hanya melakukan aktivitas yang ringan. Gangguan pernapasan bisa terjadi pada saat tidur dan menyebabkan terhentinya pernapasan untuk sementara waktu (tidur apneu) sehingga pada siang hari penderita sering merasa ngantuk. Obesitas bisa menyebabkan berbagai masalah ortopedik, termasuk nyeri punggung bawah dan memperburuk osteoartritis terutama di daerah pinggul, lutut dan pergelangan kaki. Terkadang juga ditemukan kelainan kulit. Seseorang yang menderita obesitas memiliki permukaan tubuh yang relatif lebih sempit dibanding berat badannya sehingga panas tubuh tidak dapat dibuang secara efisien dan mengeluarkan keringat yang lebih banyak. Sering ditemukan edema atau pembengkakan akbiat penimbunan sejumlah cairan di daerah tungkai dan pergelangan kaki.
Penderita obesitas dengan berat badan 80 kg atau lebih diketahui akan meninggal dalam kurun waktu 3 hingga 12 tahun lebih cepat dibanding individu dengan berat badan normal. Sedangkan individu dengan kelebihan berat badan normal atau obesitas ringan dimungkinkan hidup dengan normal. Dari awal penelitian di dapat kesimpulan bahwa memiliki kelebihan berat badan ringan mungkin tidak akan merasakan dampat tertentu dan dapat menjalani kehidupan secara normal. Sebaliknya, memiliki berat badan jauh dari normal secara dramatis mempersempit kesempatan menjalani kehidupan secara normal.
Obesitas merupakan dilema kesehatan dan secara langsung berbahaya bagi kesehatan anda karena meningkatkan risiko terjadinya penyakit jantung dan sejumlah penyakit menahun, seperti serangan jantung (infark miokardium), gagal jantung, kanker jenis tertentu, misalnya kanker prostat dan kanker usus besar, batu kandung empedu dan batu kandung kemih, diabetes tipe 2 (timbul pada masa dewasa), hipertensi, stroke dan beberapa penyakit lainnya.
Pengetahuan Obesitas
Obesitas adalah kelebihan berat badan sebagai akibat dari penimbunan lemak tubuh yang berlebihan. Setiap orang memerlukan sejumlah lemak tubuh sebagai cadangan energi penyekat panas, penyerap guncangan dan beberapa fungsi lainnya. Rata-rata wanita memeiliki lemak tubuh yang lebih banyak dibanding pria. Perbandingan yang normal antara lemak tubuh dengan berat badan adalah sekitar 25-30% pada wanita dan 18-23% pada pria. Wanita dengan lemak tubuh lebih dari 30% dan pria dengan lemak tubuh lebih dari 25% dianggap mengalami obesitas. Seseorang yang memiliki berat badan 20% lebih tinggi dari nilai tengah kisaran berat badan yang normal dianggap mengalami obesitas.
Obesitas digolongkan menjadi 3 kelompok, yaitu:
1.      Obesitas ringan: kelebihan berat badan 20-40%
2.      Obesitas sedang: kelebihan berat badan 41-100%
3.      Obesitas berat: kelebihan berat badan >100%
Obesitas berat ditemukan sebanyak 5% di antara penderita kegemukan. Perhatian tidak hanya ditunjukan pada jumlah lemak yang ditimbun, tetapi juga pada lokasi penimbunan lemak tubuh. Pola penyebaran lemak tubuh pada pria dan wanita cenderung berbeda. Wanita cenderung menimbunn lemaknya di pinggul dan pantat sehingga memberikan gambaran seperti buah pir, sedangkan pria biasanya menimbun lemaknya di sekitar perut sehingga memberikan gambaran seperti buah apel. Meski demikian, hal tersebut bukan merupakan sesuatu yang mutlak. Pada beberapa pria kadang timbunan lemak tampak seperti buah pir dan timbunan lemak pada beberapa wanita tampak seperti buah apel, terutama setelah masa menopause.
Seseorang dengan banyak timbunan lemak di perut memiliki kemungkinan mengalami masalah kesehatan yang berhubungan dengan obesitas lebih tinggi dibanding seseorang dengan timbunan lemak di bagian tubuh selain perut. Jadi gambaran buah pir lebih baik dibanding gambaran buah apel. Untuk membedakan kedua gambaran tersebut, telah ditemukan suatu cara untuk menentukan apakah seseorang memiliki kecenderungan timbunan lemak seperti buah apel atau buah pir, yaitu dengan menghitung rasio antara bagian pinggang dengan pinggul. Pinggang diukur pada titik yang tersempit, sedangkan pinggul diukur pada titik yang terlebar; kemudian ukuran pinggang dibagi dengan ukuran pinggul. Seorang wanita dengan ukuran pinggang 87,5 cm dan ukuran pinggul 115 cm, memiliki raiso pinggan-pinggul sebesar 0,76. Wanita dengan rasio pinggang:pinggul lebih dari 0,8 atau pria dengan rasio pinggang:pinggul lebih dari 1 cm dikatakan termasuk dalam kategori bentuk apel.
Anda dapat mengetahui tingkat obesitas dengan mengukur lemak tubuh. Cara-cara berikut memerlukan peralatan khusus dan dilakukan oleh tenaga terlatih untuk mendapatkan hasil yang tepat:
1.      Underwater weight, pengukuran berat badan dilakukan di dalam air, kemudian lemak tubuh dihitung berdasarkan jumlah air yang tersisa.
2.      BOD POD merupakan ruang berbentuk telur yang telah dikomputerisasi. Setelah seseorang memasuki BOD POD, jumlah udara yang tersisa digunakan untuk mengukur lemak tubuh.
3.      DEXA (dual energy X-ray absorptiometry), menyerupai scanning tulang. Sinar X digunakan untuk menentukan jumlah dan lokasi dari lemak tubuh.
4.      Jangka kulit, ketebalan lipatan kulit di beberapa bagian tubuh diukur dengan jangka (suatu alat terbuat dari logam yang menyerupai forseps).
5.      Bioelectric impedance analysis (analisa tahanan bioelektrik), penderita beridir di atas skala khusus dan sejumlah arus listrik yang tidak berbahaya dialirkan ke seluruh tubuh, kemudian di analisa.
6.      BMI merupakan suatu pengukur yang menghubungkan atau membandingkan berat badan dengan tinggi badan. BMI merupakan rumus matematika di mana berat badan (dalam kilogram) dibagi dengan tinggi badan (dalam centimeter dibagi seratus) pangkat dua. Seseorang dikatakan mengalami obesitas jika memiliki nilai BMI sebesar 30 atau lebih.
Penyebab Obesitas
1.      Faktor genetik
2.      Faktor lingkungan
3.      Faktor psikis
4.      Faktor kesehatan
5.      Obat-obatan
6.      Faktor perkembangan
7.      Aktivitas fisik
Pencegahan dan Pengobatan
1.      Menjalankan pola makan seimbang
2.      Mengusahakan pola hidup seimbang (olahraga/aktivitas fisik)
3.      Mengadopsi pola pikir positif (menghindari/mengelola stres)
4.      Memantau kesehatan berkala
Berikut adalah beberapa tip aman untuk mengatasi atau mencegah anak anda agat tidak mengalami obesitas.
-          Pola makan
-          Tetapkan aturan makan dan waktu menonton televisi atau video game
-          Lakukan kegiatan yang memerlukan aktivitas fisik
-          Pengobatan

-          Program alami menurunkan berat badan
1.      Kenabian Ayyub

Tentang kenabian Ayyub telah diterangkan dalam Al-Qu’an:
Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan Nabi-Nabi yang kemudiannya, dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya, Isa, Ayyub,...” (QS. An Nisa’: 163)
2.      Cobaan Nabi Ayyub as.
Ayyub adalah seorang yang benar-benar bertaqwa, penyayang terhadap orang-orang miskin, memelihara janda-janda dan anak-anak yatim serta memuliakan orang-orang lemah. Dia berda’wah terhadap kaumnya, mengajak untuk beribadah hanya kepada Allah swt.
Ayyub adalah orang yang kaya raya memiliki berbagai macam binatang ternak, hamba sahaya, barang-barang perhiasan, tanah yang luas dan juga mempunyai anak dan keluarga yang besar.
Pada suatu hari Allah memberikan kepada Ayyub berbagai macam cobaan, tapi dengan berbagai macam cobaan yang dialaminya, Ayyub tetap sabar dan tidak menghalanginya untuk beribadah kepada Allah, kesabaran dan ketaqwaan inilah yang perlu dicontoh oleh umat nabi Muhammad. Diantara cobaan yang diderita oleh Ayyub adalah:
1.      Setelah Ayyub menjadi orang yang kaya raya, tiba-tiba Allah menjadikan Ayyub menjadi orang yang miskin yang tidak mempunyai harta sama sekali.
2.      Semua anak-anaknya meninggal.
3.      Nabi Ayyub dilanda sakit, ada yang mengatakan nabi Ayyub menderita sakit kudis dan penyakit yang berbahaya, tapi ada lagi yang mengatakan bahwa nabi Ayyub anggota tubuhnya yang masih baik tinggal dua, yaitu akal dan lidah.
4.      Dulu waktu kaya raya mempunyai teman yang banyak, tapi setelah jatuh miskin Ayyub ditinggalkan oleh teman-temannya.
5.      Nabi Ayyub diusir oleh tetangganya yang tinggal di sekelilingnya.
6.      Istri nabi Ayyub yang bekerja untuk menghidupi keluarganya, diberhentikan oleh majikannya, karena khawatir penyakit nabi Ayyub menular kepada orang lain.
Menghadapi cobaan yang begitu besar dan banyak, nabi Ayyub menghadapinya dengan sabar serta bersyukur, karena istri yang dicintainya tetap setia mendampinginya dan sabar merawat nabi Ayyub, sampai-sampai istrinya yang mempunyai rambut yang panjang, terpaksa memotongnya untuk dijual kepada wanita lain yang memerlukannya, supaya dapat uang untuk menghidupi keluarganya.
3.      Nabi Ayyub Berdo’a Kepada Allah
Ditengah-tengah pendeeritaan sakitnya yang semakin memuncak, istrinya menyarankan kepada Ayyub supaya berdo’a dan meminta agar diringankan dari penderitaan yang berkepanjangan. Sebagaimana firman Allah:
Dan (ingatlah) kisah Ayyub, ketika ia menyeru: Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang diantara semua Penyayang. Maka kamipun memperkenankan seruannya itu, lalu kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah.” (QS. Al Anbiya’: 83-84)
Dalam Al-Qur’an diterangkan, setelah nabi Ayyub memanjatkan do’a tersebut, Allah memerintahkan kepada Ayyub agar menghentikan kakinya diatas tanah tempatnya berpinjak, nanti disitu akan memancarkan air yang jernih dan dapat digunakan untuk mandi dan dapat menghilangkan penyakit yang diderita oleh Ayyub, sebagaimana firman Allah:

Dan ingatlah akan hamba Kami Ayyub ketika ia menyeru Tuhannya, sesungguhnya aku diganggu setan dengan kepayahan dan siksaan. (Allah berfirman): Hentikanlah kakimu, inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum. Dan Kami anugerahi dia (dengan mengumpulnya kembali) keluarganya dan (Kami tambahkan) kepada mereka sebanyak mereka pula sebagai rahmat dari Kami dan pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai fikiran. Dan ambilah dengan tanganmu seikat (rumput) maka pukullah dengan itu (istrimu) dan janganlah kamu melanggar sumpah. Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba, sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya). ” (QS. Shod: 41-44)
1.      Kaum Madyan

Madyan adalah termasuk negeri Arab, penduduknya berkebangsaan Arab. Kepada kaum Madyan inilah Syu’aib menyebarkan risalah Allah untuk disampaikan kepada mereka
Letak perkampungan Madyan di daerah Mi’an yang berada antara Syam dan Hijaz dan dekat dengan danau Luth, penduduk Madyan mempunyai mata pencaharian berdagang.
2.      Kesesatan Kaum Madyan
Penduduk Madyan mempunyai kebiasaan menyembah kepada berhala dan benda lain yang mereka anggap mempunyai kekuatan gaib, sehingga mereka melupakan Allah dan tidak pernah menyembah kepada Allah. Disamping itu kaum Madyan juga senang berbuat curang dan mengurangi takaran dalam jual beli.
Ditengah-tengah kerusakan masyarakat itulah, maka Allah mengutus seorang Rasul untuk menyampaikan risalah kepada penduduk Madyan agar mereka kembali ke jalan yang lurus, jalan yang benar dan jalan yang dapat memperbaiki nasib merek. Utusan tersebut bernama Syu’aib. Dengan berbekal Mu’jizat yang diberikan oleh Allah , Syu’aib terjun ke tengah-tengah masyarakat. Sebagaimana firman Allah:
Dan kepada (penduduk) Madyan (Kami utus) saudara mereka Syu’aib, ia berkata: Hai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tiada Tuhan bagimu selain Dia. Dan janganlah kamu mengurangi takaran dan timbangan, sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan yang baik (mampu) dan sesungguhnya aku khawatir terhadapmu atas adzab dari yang membinasakan (kiamat). Dan Syu’aib berkata: Hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu membuat kejahatan dimuka bumi dengan membuat kerusakan. Sisa (keuntungan) dari Allah adalah lebih baik bagimu, jika kamu orang-orang yang beriman. Dan aku bukanlah seorang penjaga atas dirimu.” (QS. Hud: 84-86)
3.      Celaan Terhadap Nabi Syu’aib
Penjuangan Syu’aib untuk menyampaikan risalah Allah kepada kaumnya mendapat tantangan yang keras dari kaumnya. Syu’aib diejek dan dihina oleh kaumnya yang tidak mau menyembah kepada Allah dan tidak mau mengeluarkan sebagian harta untuk kepentingan agama Allah. Padahal usaha Syu’aib untuk menyampaikan risalah tersebut tidak untuk menyesatkan mereka, tapi semata-mata untuk memberi petunjuk kepada mereka dan menunjukkan kepada mereka ke jalan lurus yang nanti dapat menyelamatkan mereka.
Ditengah-tengah Syu’aib menyampaikan risalah, Syu’aib juga memberi peringatan kepada mereka dengan perkataan: Hai kaumku janganlah kalian berlarut-larut dalam kekufuran , dan ikutilah nasehat-nasehat yang ku sampaikan kepada kalian, sebab aku khawatir kalau kalian akan ditimpa musibah seperti yang ditimpahkan kepada kaum Nuh, Hud, Sholih, yang mana sebab kehancurannya seperti kalian ini. Oleh sebab itulah ambilah pelajaran dari mereka sehingga kamu tidak tertimpa musibah seperti yang mereka derita, dan mohon ampunlah kepada Allah atas dosa-dosa yang sudah kalian lakukan. Kembalilah ke jalan Allah dengan penuh penyesalan. Sesungguhnya Allah itu Maha Penyayang dan Pengampun kepada hamba-hambaNya yang bertaubat.
4.      Ancaman Terhadap Nabi Syu’aib
Walaupun dengan usaha yang keras, Syu’aib menyampaikan nasehat, ancaman, peringatan dengan memberi contoh adzab Allah yang pernah menimpah umat-umat sebelum mereka, namun mereka tidak pernah menhiraukan sama sekali, malah kaumnya itu menentang dan mengancam Nabi Syu’aib dan orang yan beriman  kepada Allah diusir dari kampung halamannya, kecuali jika Syu’aib dan kaumnya kembali kepada agama nenek moyang mereka.
Atas ancaman kaumnya tersebut, Syu’aib mengatakan: Apakah kami harus kembali kepada ajaran-ajaran agama kalian yang kami benci karena kerusakan ajaran itu? Tidak mungkin kami kembali kepada agama kalian, yang berarti kami berbohong kepada Allah. Padahal Dia sudah memberi petunjuk jalan yang benar. Sebagaimana firman Allah:
Mereka berkata: Hai Syu’aib kami tidak banyak mengerti tentang apa yang kamu katakan itu dan sesungguhnya kami melihat benar-benar kamu seorang yang lemah diantara kami, kalau tidaklah karena keluargamu tentulah kami telah merajam kamu. Sedangkan kamu bukanlah seorang yang berwibawa disis kami.
Syu’aib menjawab: Hai kaumku, apakah keluargakulebih terhormat menurut pandanganmu daripada Allah, sedang Dia kamu jadikan (sebagai) sesuatu yang terbuang dibelakangmu? Sesungguhnya Tuhanku (Pengetahuannya) meliputi apa yang kamu kerjakan.” (QS. Hud: 91-92)
5.      Kebinasaan Kum Madyan
Sebagai balasan atas kekufuran dan keingkaran kaum Madyan, maka Allah memberikan adzab berupa sambaran petir diiringi dengan gempa bumi yang dahsyat sehingga mereka mati bergelimpangan dan jungkir balik. Sedang Nabi Syu’aib dan pengikut-pengikutnya yang beriman diselamatkan oleh Allah.
Melihat kehancuran kaumnya yang tragis, nabi Syu’aib berpaling dan meninggalkan kaumnya. Sebagaimana firman Allah:
Dan tatkala datang adzab Kami, Kami selamatkan Syu’aib dan orang-orang yang beriman bersama-sama dengan dia dengan rahmat yang besar dari Kami, tetapi orang-orang yang dzalim dibinasakan oleh satu suara yang mengguntur, hingga ereka mati bergelimpangan di rumahnya.
Seolah-olah mereka belum pernah berdiam di tempat itu, ingatlah, kebinasaan bagi penduduk Madyan sebagaimana kaum Tsamud telah binasa.” (QS. Hud: 94-95)
Dan didalam surat yang lain:
Kemudian Syu’aib meninggalkan mereka seraya berkata: Hai kaumku, sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat-amanat Tuhanku dan aku telah memberikan nasehat kepadamu. Maka bagaimana aku akan bersedih hati terhadap orang-orang kafir.” (QS. Al A’raf: 93)
6.      Syu’aib Berda’wah Kepada Kaum Ashabul Aikah
Setelah Allah membinsakan kaum Madyan dan menyelamatkan nabi Syu’aib dan para pengikutnya, lalu Allah mengutus Syu’aib untuk menyampaikan da’wah kepada Ashabul Aikah yang terletak di dekat Madyan. Di daerah itu dihuni oleh orang-orang yang hidupnya sama dengan penduduk Madyan, yang selalu mengumbar hawa nafsu dan selalu berlaku maksiat
Setelah Syu’aib datang di tengah-tengah penduduk Ashabul Aikah, Syu’aib mengajak kepada mereka agar beriman kepada Allah, berlaku jujur, berbuat adil dan tidak mengurangi timbangan serta tidak boleh berbuat yangmenyebabkan kerusakan.
Nasehat yang disampaikan oleh Syu’aib tersebut tidak dihiraukan sama sekali oleh mereka, malah mereka membantah: Engkau adalah seorang yang terkena sihir sehingga bisa berkata demikian. Sekarang kalau benar-enar kamu diutus Allah, coba datangkan kepada kami siksa dari langit.
Syu’aib menjawab: Sesungguhnya Tuhanku Maha Mengetahui maksiat yang kalian lakukan dan siksa yang patut menimpa pada saat yang ditentukan.
Karena kaum Ashabul Aikah terus membohongi ajaran yang dibawah Ayu’aib, maka Allah menurunkan siksa berupa hawa yang sangat panas yang menyesakkan nafas mereka, sehingga mereka keluar mencari tempat yang luas, agar mendapatkan udara yang segar.

Tiba-tiba tak diduga-duga datang awan yang menaungi, sehingga daengan ramai dan gembira mereka berkumpul dibawah awan tersebut. Tiba-tiba datanglah angin kencang melemparkan mereka, dibarengi dengan awan hitam pekat dan guntur yang menghancurkan. Hari itu merupakan adzab yang dahsyat dan mengerikan.
            Dalam ekosistem terjadi siklus biogeokimia. Siklus biogeokimia adalah siklus unsur atau senyawa kimia yang mengalir dari komponen abiotik ke biotik dan kembali lagi ke komponen abiotik. Siklus biogeokimia meliputi siklus nitrogen, siklus fosfor, siklus sulfur, siklus air, serta siklus karbon dan oksigen.

1.      Siklus Nitrogen
Siklus Nitrogen di Atmosfer
Sebagian besar unsur nitrogen di atmosfer terdapat dalam bentuk nitrogen bebas (N2). Beberapa organisme dapat menyerap nitrogen dalam bentuk N2, misal Rhizobium yang hidup pada akar Leguminosae. Nitrogen yang diikat oleh bakteri tersebut akan diubah menjadi amonia (NH3). Proses pembentukan amonia ini disebut amonifikasi. Amonia kemudian dirombak oleh bakteri nitrit (Nitrosomonas dan Nitrosococcus) menjadi ion nitrit (NO2-). Ion nitrit akan dirombak bakteri nitrat (Nitrobacter) menjadi ion nitrat (NO3-). Proses penyusunan senyawa nitrat dari amonia ini disebut nitrifikasi. Dalam bentuk ion nitrat inilah nitrogen baru dapat diserap oleh tumbuhan. Bakteri tanah juga memanfaatkan ion nitrat untuk memperoleh oksigen dalam proses denitrifikasi. Proses tersebut menghasilkan nitrogen. Nitrogen yang dihasilkan akan kembali ke atmosfer.
Siklus Fosfor

2.      Siklus Fosfor
            Senyawa fosfor yang ada di bumi tersimpan dalam batuan. Batuan yang mengalami erosi akan membebaskan senyawa fosfat (PO4) yang diperlukan organisme untuk menyusun jaringan-jaringan tubuh. Dekomposer akan mengembalikan senyawa fosfor ke tanah dan air.













Siklus Sulfur

3.      Siklus Sulfur
Tumbuhan menyerap sulfur dalam bentuk sulfat (SO4). Perpindahan sulfat terjadi melalui proses rantai makanan. Setelah makhluk hidup mati, komponen organiknya akan diuraikan oleh bakteri.









4.      Siklus Air
Siklus Air
Pada suhu yang tinggi, air di bumi dan air dalam tubuh makhluk hidup mengalami penguapan membentuk awan. Selanjutnya terjadilah kondensasi uap air menjadi titik-titik air hujan akibat pengaruh suhu yang rendah. Air hujan kemudian meresap ke dalam tanah, dimanfaatkan oleh makhluk hidup, dan sebagian lagi mengalir menuju lautan. Saat suhu tinggi, maka akan terjadi penguapan air tinggi.






Siklus Karbon dan Oksigen
5.      Siklus Karbon dan Oksigen

Karbon dioksida diserap tumbuhan untuk proses fotosintesis. Hasil fotosintesis berupa amilum dan oksigen. Kedua zat tersebut dimanfaatkan oleh tumbuhan dan makhluk hidup lainnya. Oksigen dimanfaatkan untuk proses pernapasan (respirasi). Proses pernapasan mengeluarkan zat sisa berupa karbon dioksida. Karbon dioksida kemudian dipakai lagi oleh tumbuhan untuk fotosintesis. Karbon dioksida juga dihasilkan dari penguraian bahan-bahan organik.
Dishalatkan di Tanah Suci

Ustadz AR.Fakhruddin (salah seorang pimpinan Muhammadiyah) bercerita, “Ketika naik haji yang pertama di tanah suci saya bertemu dengan Kiai Jalil Mukaddas dari Solo. Dia bercerita tentang Mbakyu Yunus, istri bapak Yunus Anis. Di Makkah, Bu Yunus bertemu dengan Kiai Jalil Mukaddas.

Kiai, kalau saya melihat orang meninggal di sini dishalatkan beribu-ribu orang, haji semua, saya senang sekali,” kata Bu Yunus. Kiai Jalil berkata, “Jangan berkata begitu lho Bu, di sini Maqam Mustajab lho, nanti kalau dikabulkan?”

Bu Yunus malah mengatakan, “Tapi saya suka, kok.”

“lha putranya bagaimana?” tanya Kiai Jalil.

“Alaa itu Gusti Allah yang ngurus,” jawab Bu Yunus.


Ketika rangkaian ibadah haji telah selesai, Bu Yunus sakit Cuma dua hari, kemudian meninggal. Padahal ketika berangkat, Bu Yunus sehat-sehat saja. Sedangkan Pak Yunus yang semula sakit-sakitan, justru tidak apa-apa.