(dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang)
This is featured post 1 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha - Premiumbloggertemplates.com.
This is featured post 2 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha - Premiumbloggertemplates.com.
This is featured post 3 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha - Premiumbloggertemplates.com.
Saturday, September 6, 2014
7:08 AM
Unknown
Bismillahirrohmanirrohim
(dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang)
(dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang)
1. Pengertian Husnudz-dzan
Secara bahasa
husnudz-dzan berasal dari dua kata yaitu “husnu” (baik) dan “dzanni” (sangka),
dengan demikian kata tersebut memiliki arti berbaik sangka. Secara istilah
husnudzan diartikan berbaik sangka terhadap segala ketentuan dan ketetapan
Allah yang diberikan kepada manusia.
2. Kriteria Husnudz-dzan
Diantara
bacaan yang diajarkan Nabi saw. kepada kita ialah tasbih, yaitu ucapan “Subhanallah” (Maha Suci Allah).
Maksudnya ialah, bahwa Allah Maha Suci atau Maha Bebas dari setiap pikiran
manusia yang negatif mengenai Dia. Misalnya, dalam Al-Qur’an dilukiskan bahwa
orang-orang yang mempunyai ilmu yang dalam (ulu
al-albab) selalu ingat kepada Allah setiap saat (ketika berdiri, duduk,
maupun berbaring) dan sekaligus memperhatikan serta merenungkan kejadian alam
raya. Karena perhatian dan renungannya yang mendalam itu, orang tersebut samapi
kepada seruan kesimpulan:”Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan alam raya
ini secara sia-sia (bathil), Maha
Suci Engkau! Maka hindarkanlah kami dari siksa neraka” ( surat Ali-Imron: 191).
Seorang yang mempunyai ilmu yang dalam (ulu al-albab) itu me-Maha sucikan Allah dari kemungkinan
menciptakan alam ini sia-sia. Dan apabila ada orang yang mengatakan bahwa Allah
menciptakan alam ini sia-sia, tanpa makna maka pikiran negatif tentang Tuhan,
maka ucapan “Maha Suci Engkau” adalah juga berarti me-Mahasucikan Allah dari
setiap gambaran atau pikiran negatif tentang Dia. Implikasinya ialah, bahwa
justru seorang Mu’min dengan ucapan Subhanallah
itu, berusaha membebaskan dirinya dari setiap pikiran negatif tentang Tuhan.
Oleh karena itu, rantai untaian kalimat tasbih ialah tahmid,
yaitu bacaan alhamdulillah (segala
puji bagi Allah). Bacaan ini mengandung makna penegasan setiap mu’min jangan
sampai berpikir negatif tentang Tuhan, bahkan sebaiknya harus selalu berpikir
positif tentang Dia. Dengan memuji syukur kepada Allah atas segala sesuatu yang
telah dianugerahkan pada manusia, akan mendidiknya untuk selalu mempunyai
pandangan yang penuh apresiasi dan rasa optimis kepada Allah atas segala
takdir-Nya. Dengan memahami dan meresapkan makna tasbih, kemudian diiringi dan
digandeng dengan tahmid, maka akan dapat menanamkan dalam jiwa sikap yang
positif, optimis, dan penuh harapan kepada Allah bagi masa depan.
Ucapan tasbih dan tahmid adalah dapat menjadi sumber
kekuatan rohani dalam menghadapi hidup ini. Dengan pandangan yang positif dan
optimis kepada Allah, seorang mu’min memperoleh sumber energi dan kegairahan
hidup ini pada akhirnya akan membuat lebih mampu mengatasi problema kehidupan.
Karena itu, iman kepada Allah membuat seseorang akan menjadi tabah, dan tidak
mudah patah semangat dalam perjalanan hidup ini.
Maka tasbih dan tahmid itu berlangsung dikaitkan pula dengan
takbir, yaitu ucapan Allahuakbar
(Allah Maha Besar). Dengan ucapan itu, sebgaimana sudah banyak dipahami orang,
akan menanamkan tekad untuk mengarungi lautan hidup ini. Seolah-olah hendak
menyatakan: semua halangan, betapapun besarnya, dapat diatasi dengan hidayah
dan inayah Allah Yang Maha Besar. Inilah antara lain janji Allah “Barangsiapa
bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mebukakan jalan keluar baginya.” (Q.S.
at-Talaq: 2).
3. Nilai Positif Husnudz-dzan
1)
Melahirkan
kesadaran bagi manusia, bahwa segala sesuatu di alam semesta ini berjalan
sesuai dengan aturan dan hukum yang telah ditetapkan dengan pasti oleh Allah.
Oleh karena itu manusia harus memperlajari, meneliti, merenungkan, memahami,
dan mematuhi ketetapan Allah, supaya dapat mencapai keberhasilan baik di dunia
maupun di akhirat.
2)
Mendorong
manusia untuk beramal dengan sungguh-sungguh untuk mencapai kehidupan yang
lebih baik dan mengikuti hukum sebab akibat (sunatullah) yang berlaku dan
ditetapkan Allah.
3)
Mendorong
manusia untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah yang kekuasaan-Nya bersifat
mutlak dan kehendak yang mutlak juga, di samping memiliki kebijaksanaan,
keadilan, dan kasih sayang kepada makhluk-Nya.
4)
Menumbuhkan
sikap tawakal dalam diri manusia, karena menyadari bahwa manusia hanya bisa
berusaha dan berdoa sedangkan hasilnya diserahkan kepada Allah sebagai Dzat
yang menciptakan dan mengatur kehidupan manusia.
5) Sikap husnudz-dzan membuat jiwa menjadi tenang
dan tentram, karena menyakini apapun yang terjadi adalah atas kehendak Allah.
Di saat memperoleh kebahagiaan dan nikmat dia segera bersyukur kepada Allah. Dan tidak memiliki kesombongan karena
semuanya itu diperoleh atas izin Allah. Di saat mendapat musibah dan kerugian
akan bersabar karena menyakini
semuanya itu karena kesalahannya sendiri dan karena cobaan dan ujian dari Allah
yang kelak akan mendatangkan kebaikan dan kemaslahatan.
4. Membina Sikap Husnudz-dzan
Dalam
realita kehidupan, cukup banyak manusia yang justru mempunyai pikiran dan keinginan
yang berbeda dengan tuntunan yang benar. Keinginan manusia yang berbeda atau
bertolak belakang dengan kehendak Allah. Manusia cenderung mengikuti hawa
nafsunya dan sering tanpa ia sadari muncul pikiran dan tingkah laku yang
dirasakan benar namun justru tidak dibernarkan dalam agama. Sebagimana contoh
ia mengeluh kepada Allah dengan ucapan
“ya Allah, mengapa saya sudah rajin sholat, tetapi rezki yang kami
harapkan tidak juga kau tunjukkan”, sikap semacam ini akan melahirkan sikap
su’udzan kepada Allah. Karena itu apabila tidak segera dicarikan jalan keluar
dengan cara merubah keinginan manusia untuk disesuaikan dengan kehendak Allah,
maka akan melahirkan malapetaka dalam kehidupan dunia dan akhirat.
Manusia
harus berhusnudzan bahwa Allah hanya memberikan apa yang terbaik bagi
hamba-Nya. Jangan mencari jalan lain yang hanya memuaskan nafsu sesaat, tetapi
melupakan kebenaran yang akan membawa keselamatan. Segala sesuatu yang berasal
dari Allah pasti baik, sekalipun pada saat itu manusia belum dapat mengambil
kebaikan yang ada di dalamnya. Tetapi setelah itu niscaya manusia akan dapat
mengetahui dan merasakan hikmah suatu kejadian. Setiap manusia perlu menyadari,
bahwa tidak semua yang dianggap baik oleh manusia, belum tentu baik di hadapan
Allah. Manusia harus sadar boleh jadi apa yang dibenci adalah baik bagi
dirinya. Manusia terlalu banyak memiliki keterbatasan, termasuk dalam menilai,
memilih, dan menetapkan sesuatu pilihan yang tidak dipikirkan secara mendalam.
Contoh
sebagaimana sikap sebagian orang beriman terhadap perintah sholat. Secara umum
manusia menganggap sholat adalah kewajiban yang cenderung sebagi beban bagi
orang yang beriman dan bukan sebagai kebutuhan. Sehingga banyak di antara
mereka yang menunaikan sholat sekedar menggugurkan kewajiban, itupun terasa
berat, apalagi harus mengerjakan limakali sehari semalam, belum lagi ditambah
sholat-sholat sunnah yang disyariatkan. Dan sedikit orang yang berkeyakinan
bahwa”ibadah sholat selain sebagai kewajiban, kebutuhan juga sebagai peluang
atau “hadiah” yang diberikan oleh Allah kepada orang beriman untuk
berkomunikasi langsung dalam posisi yang sangat dekat”. Dalam sholat itu,
manusia mengajukan berbagai do’a dan permohonan kepada Allah swt. Jadi, sholat
adalah untuk kepentingan dan kemaslahatan manusia, bukan untuk kepentingan
Allah swt. manusia yang membutuhkannya bukan Tuhan yang butuh manusia.
Hendaklah
direnungkan secara sungguh-sungguh bahwa semua hukum dan kewajiban yang
diberikan Allah kepada orang beriman adalah untuk kepentingan manusia itu
sendiri, bukan untuk kepentingan Tuhan. Taat dan berserah dirilah hanya kepada
Allah, dan berhusnudz-dzan kepada-Nya, gantungkan diri dan tundukkan diri hanya
kepada Allah, niscaya Dia akan menolong dan membimbing hamba-Nya ke jalan yang
benar.
6:39 AM
Unknown
Bismillahirrohmanirrohim
(dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang)
(dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang)
1. Tidak ikhlas dalam berdoa.
2. Tidak khusyuk dalam berdoa.
3. Tidak rendah hati dalam berdoa.
4. Tergesa-gesa ketika berdoa.
5. Hati tidak mantap saat berdoa.
6. Tidak berdoa dengan lembut.
7. Tidak diawali dengan membaca Basmala dalam
berdoa.
8. Tidak memuji Allah swt. dalam berdoa.
9. Tidak menghadap Kiblat saat berdoa.
10. Berdoa dalam keadaan Hadats atau tidak suci.
11. Tidak optimis dalam berdoa.
12. Tidak semata-mata mencari ridha Allah swt. dalam
berdoa.
13. Tidak Istiqamah dalam berdoa.
14. Tidak membaca Shalawat dalam berdoa.
15. Masih melakukan dosa.
16. Berdoa pada waktu dan tempat yang salah.
17. Berlebihan ketika berdoa.
18. Tidak bertaubat kepada Allah swt.
19. Tidak sabar.
20. Berdoa buruk.
21. Tidak bertawasul kepada Allah swt.
22. Tidak menghiasi diri dengan hal-hal yang halal.
Tuesday, August 19, 2014
8:14 PM
Unknown
Bismillahirrohmanirrohim
(dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang)
Sebagai arah bagi kita meneladani sifat Allah dalam
Asmaul Husna agar terwujud secara nyata dalam kehidupan sehari-hari, maka pada
bagian ini akan disajikan cara meneladani sifat Allah dalam 10 Asmaul Husna
sebagai berikut:
(dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang)
Sebagai arah bagi kita meneladani sifat Allah dalam
Asmaul Husna agar terwujud secara nyata dalam kehidupan sehari-hari, maka pada
bagian ini akan disajikan cara meneladani sifat Allah dalam 10 Asmaul Husna
sebagai berikut:
·
Al-Muqsith; Agar seorang Mu’min dapat meneladani sifat
Allah Yang Maha Mengadili, maka harus menerapkan prinsip kebenaran dan keadilan
dalam seluruh aspek kehidupan baik di lingkungan keluarga, tetangga,
masyarakat, berbanggsa, dan bernegara. Karena dengan kedua prinsip ini
kehidupan akan berjalan lancar, damai sejahterah dan penuh keberkahan.
·
Al-Warits; Agar seorang Mu’min dapat meneladani sifat
Allah Yang Maha Mewarisi, maka dalam keseluruhan aspek kehidupannya harus mampu
menerapkan prinsip regenerasi, kaderisasi dan pengalihan kepemilikan kepada
orang yang berhak mendapatkannya. Melalui ketiga prinsip tersebut proses
kehidupan yang berjalan secara berkelanjutan dan berkesinambungan.
·
An-Naafi’u; Agar seorang Mu’min dapat meneladani sifat
Allah Yang Maha Pemberi Manfaat, maka dalam keseluruhan aspek kehidupannya
harus menerapkan prinsip manfaat dan berbagi dengan sesama, sehingga akan
mendapatkan kenikmatan yang berlimpah, sebab sebaik-baik manusia adalah yang
bisa memberikan manfaat terhadap sesama.
·
Al-Baasith; Agar seorang Mu’min dapat meneladani sifat
Allah Yang Maha Melapangkan, maka dalam keseluruhan aspek kehidupannya harus
menerapkan prinsip kemudahan, artinya memberikan jalan kemudahan bagi setiap
orang untuk menyelesaikan urusannya. Janji Allah swt. “Barang siapa yang
memberi kemudahan kepada saudaranya, maka ia akan dimudahkan Allah nanti pada
hari kiamat”.
·
Al-Hafiidz; Agar seorang Mu’min dapat meneladani sifat
Allah Yang Maha Menjaga, maka dalam keseluruhan aspek kehidupannya harus
menerapkan prinsip keseimbangan, artinya selalu menjalankan aktifitas yang
memberikan makna terhadap kelangsungan hidup bersama secara berkesinambungan
dan sistemik.
·
Al-Wali; Agar seorang Mu’min dapat meneladani sifat
Allah Yang Maha Melindungi, maka dalam keseluruhan aspek kehidupannya harus
menerapkan prinsip proteksi, artinya menjaga, melindungi, melakukan tindakan
prefentif dan mengamankan segala kemungkinan yang mengganggu roda kehidupan.
·
Al-Waduud; Agar seorang Mu’min dapat meneladani sifat
Allah Yang Maha Pengasih, maka dalam keseluruhan aspek kehidupannya harus
menerapkan prinsip kasih sayang tanpa pilih kasih dan membedakan SARA, karena
semua makhluk memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing yang harus
disikapi secara obyektif.
·
Ar-Roofi’; Agar seorang Mu’min dapat meneladani sifat
Allah Yang Maha Meninggikan, maka dalam keseluruhan aspek kehidupannya harus
menerapkan prinsip mi’raj, artinya menunjukkan grafik perjalanan naik dalam
mendekatkan diri dan menghadap Allah, dengan menjaga amanah Allah yang dapat
dijadikan pedoman dalam kehidupan yang dirahmati dan diridhoi.
·
Al-Mu’izzu; Agar seorang Mu’min dapat meneladani sifat
Allah Yang Maha Memuliakan, maka dalam keseluruhan aspek kehidupannya harus
menerapkan prinsip tahalli, artinya bersungguh-sungguh menghiasi diri dengan
akhlakul karimah untuk mendapatkan kemuliaan di sisi Allah.
·
Al-Afuww; Agar seorang Mu’min dapat meneladani sifat
Allah Yang Maha Pemaaf, maka dalam keseluruhan aspek kehidupannya harus menerapkan
prinsip selalu memberikan maaf kepada sesama dan menyadari dan meninggalkan
kesalahan yang telah dilakukan. Di samping itu prinsip benar dan salah harus
ditonjolkan dalam kehidupan, karena pemahaman terhadap prinsip benar salah akan
menuntun orang untuk berhati-hati meniti jalan kebenaran dan mewaspadai segala
godaan yang menyesatkan. Apabila prinsip benar dan salah dipadomani dalam
kehidupan, maka akan dapat melahirkan sikap kejujuran, keadilan, istiqomah dan
sikap positif yang lain yang akan mengantarkan kesejahteraan hidup manusia di
dunia maupun akhirat.
8:09 PM
Unknown
Bismillahirrohmanirrohim
(dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang)
1. Nasabnya Nab Nuh as
(dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang)
1. Nasabnya Nab Nuh as
Nasabnya Nabi Nuh ialah
Nuh bin Lamik bin Matu Syalih bin Akhnukh (Idris).
2. Kenabian Nuh as
Menurut
Al-Qur’an: Usia Nabi Nuh ialah 950 tahun dan
menerima wahyu ke Nabian dari Allah pada usia 480 tahun. Jadi Nabi Nuh
menjadi nabi kira-kira lebih kurang 500 tahun atau 5 abad lamanya.
Menurut
salah satu riwayat setelah meninggalnya Adam kehidupan manusia mengalami
kerusakan, mereka banyak yang menyembah kepada patung-patung, bahkan banyak
diantara mereka berperilaku seperti perilaku binatang-binatang yang tidak punya
akal dan menyimpang dari ajaran Adam, karena mereka lupa pada ajaran Adam,
sehingga pada saat itu banyak terjadi pembunuhan, perampokan dan
perbuatan-perbuatan rusak lainnya.
Oleh
karena itu Allah mengutus Nabi-Nabi dan Rasul untuk membimbing mereka, dengan
memberikan kabar gembira dan ancaman. Nabi yang pertama kali diutus oleh Allah
untuk menyampaikan kabar gembira dan ancaman itu adalah Nabi Idris.
Sepeninggal
Nabi Idris, diantara manusia-manusia ada yang menjadi kafir dan jahat
kelakuannya seperti binatang dan ada yang menjadi orang baik-baik, sholeh, baik
perilakunya, ucapan maupun tindakannya. Diantara mereka yang baik-baik itu
adalah Wad, Suwa’, Ya’uq, Yaghuts dan Nashr.
Kelima
orang yang sholeh tersebut akhirnya mati, walaupun mereka sudah mati, tapi nama
mereka masih tetap harum di tengah-tengah masyarakat dan kelima orang itu
selalu diagung-agungkan. Karena mereka terlalu berlebihan dalam menyanjung dan
mengagunkan, sampai kelima orang diabadikan dalam gambar-gambar dan
patung-patung yang mereka sembah.
Akhirnya
kecintaan dan penghormatan terhadap kelima orang laki-laki itu sampai kepada
anak cucu mereka dan turun temurun, dan pada puncaknya orang yang baik-baik
tersebut dihormati, dipuja-puja, dimintai syafaat dan dimintai sesuatu yang
dihajatkan. Karena anggapan mereka orang-orang yang baik-baik itu (Wad, Suwa’,
Yaghuts, Ya’uq dan Nashr) itu adalah Tuhan. Begitulah seterusnya I’tikad yang
demikian semakin mendalam. Ajaran yang dibawa Adam, Idris sudah mereka lupakan,
sudah tidak lagi menyembah Allah yang wujudnya tidak ada dihadapannya, dan
mereka semua beralih menyembah kepada patung-patung yang mereka buat sendiri
dan dapat dilihat dengan jelas oleh matanya.
Tugas-tugas berat
seperti itulah yang diemban oleh Nabi Nuh untuk memberi peringatan,
menyampaikan risalah, menyampaikan ajaran Allah dan mengajak mereka supaya
menyembah kepada Allah.
3. Nabi Nuh Memberantas Patung-Patung dan
Berhala-Berhala
Ditengah-tengah
masyarakat yang lagi rusak akhlaknya dan rusak moralnya, Nabi Nuh dengan penuh
kesabaran dan keyakinan yang kuat menyampaikan ajaran-ajaran Tuhan kepada semua
kaumnya dengan kata-kata yang fasih dan penuh hikmah. Nabi Nuh mengajak kepada
kaumnya agar menyembah kepada Allah dan meninggalkan menyembah kepada
patung-patung dan berhala-berhala yang terbuat dari batu itu. Dalam Al-Qur’an
disebutkan nama-nama patung dan berhala yang mereka sembah itu, sebagaimana
firman Allah:
“Dan mereka berkata:
Janganlah sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan, dan jangan
pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) terhadap Wad, dan jangan pula
terhadap Suwa, Yaghuts, Ya’ud dan Nashr. Dan sesudahnya mereka telah
menyesatkan kebanyakan (manusia) dan janganlah Engkau tambahkan bagi
orang-orang yang dhalim itu selain kesesatan.” (QS. Nuh: 23-24)
4. Nabi Nuh Mulai Berda’wah ke Jalan Allah
Dengan
penuh kesabaran dan tidak mengenal putus asa Nabi Nuh mempergunakan hampir
seluruh umurnya yang diberikan Allah untuk menghadapi kaumnya yang sama-sama
ingkar kepada ajaran-ajaran Nabi yang terdahulu, sama menyembah kepada
patung-patung dan berhala-berhala, bahkan dalam waktu yang hampir seribu tahun
Nabi Nuh berda’wah hanya mendapatkan pengikut sekitar 75 orang, yang semuanya
terdiri orang-orang lemah dan melarat, sebagaimana firman Allah:
“Dan
sesungguhnya Kami telah mengutus Nabi Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal
diantara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun” (QS. al-‘Ankabut: 14)
Dalam
waktu yang cukup lama tersebut, Nabi Nuh mengajak kepada kaumnya untuk
meninggalkan perbuatan jahat dan mengajak menyembah kepada Allah dan taat
kepada apa yang diperintahkan oleh Allah, sebagaimana firman Allah:
“Nuh berkata:
Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan kepada kamu,
(yaitu) sembahlah olehmu Allah, bertaqwalah kepadaNya dan taatlah kepadaku
(Nuh) niscaya Allah akan mengampuni kepada sebagian dosa-dosamu dan menangguhkan
kamu, sampai kepada waktu yang ditentukan. Sesungguhnya ketetapan Allah apabila
telah datang tidak dapat ditangguhkan, kalau kamu mengetahui.” (QS. Nuh: 2-4)
5. Ocehan Kaumnya Nabi Nuh
Usaha
keras yang dilakukan oleh Nabi Nuh untuk menyampaikan ajaran Allah tidak
berhasil, malah Nabi Nuh mendapat ocehan, omelan dari kaumnya. Ada beberapa
alasan yang menyebabkan Nabi Nuh mendapatkan ocehan dari kaumnya, diantaranya
adalah:
1.
Nuh
adalah seorang manusia biasa yang membutuhkan makan dan minum seperti kita ini.
2.
Pengikut-pengikut
Nuh itu adalah orang-orang yang melarat dan hina, kaum fakir dan miskin serta
buruh.
3. Mereka menuduh Nuh dan para pengikutnya sebagai
orang-orang bohong, tapi tuduhan itu tidak dapat dibuktikan dengan bukti yang
nyata.
Ocehan dan omelan yang dilakukan oleh kaum Nabi Nuh atas
da’wah yang dilakukan oleh Nabi Nuh dengan metode ceramah itu, sesuai dengan
firman Allah:
“Maka berkatalah pemimpin-pemimpin kafir dari kaumnya kami
tidak melihat kamu, melainkan (sebagai) seorang seperti kami, dan kami tidak
melihat orang-orang yang mengikuti kamu, melainkan orang-orang yang hina
diantara kami yang lekas percaya saja, dan kami tidak melihat kamu memiliki
sesuatu kelebihan apapun atas kami, bahkan kami yakin bahwa kamu adalah
orang-orang yang dusta.” (QS. Hud: 27)
6. Dakwahnya Nabi Nuh Kepada Kaumnya Lewat Diskusi
Kegagalan
Nabi Nuh dalam menyampaikan da’wah dengan metode ceramah tidak membuahkan
hasil, tidak membuat Nabi Nuh mundur dan putus asa, malah dengan kegagalan
tersebut membuat Nabi Nuh tambah semangat dan giat untuk mencari cara dan
metode yang tepat untuk menyampaikan da’wahnya, yaitu da’wah dengan cara
diskusi (tanya jawab), baik secara perorangan maupun dengan cara berkelompok.
Dan keduanya saling mendatangkan bukti dan dalil yang dapat diajukan.
Nampaknya kebodohan dan
kegelapan itulah yang menyelimuti pada diri pribadi kaumnya Nabi Nuh, sehingga
dengan cara apapun Nabi Nuh menyampaikan da’wahnya, kaumnya masih belum mau
mengindahkan ajaran-ajaran Allah yang dibawah oleh Nabi Nuh.
7. Dakwahnya Nabi Nuh dengan Menunjukkan Keagungan
dan Kekuasaan Allah
Dengan
berbagai cara dan metode Nabi Nuh berda’wah kepada kaumnya tapi tidak pernah
membuahkan hasil. Dan cara terakhir yang dilakukan oleh Nabi Nuh untuk
berda’wah adalah dengan cara menunjukkan bukti keagungan dan kebesaran
kekuasaan Allah yang dapat dilihat dan dapat dinikmati oleh kaumnya baik secara
langsung maupun tidak langsung.
Diantara
da’wah Nabi Nuh dengan cara menunjukkan kebesaran dan kekuasaan Allah,
sebagaimana firman Allah:
“Tidaklah kamu
perhatikan bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat?
Dan Allah menciptakan padanya bulan sebagai cahaya dan menjadikan matahari
sebagai pelita? Dan Allah menumbuhkan kamu dari tanah dengan sebaik-baiknya,
kemudian Dia mengembalikan kamu ke dalam tanah dan mengeluarkan kamu (dari
padanya pada hari kiamat) dengan sebenar-benarnya. Dan Allah menjadikan bumi
untukmu sebagai hamparan, supaya kamu menjalani jalan-jalan yang lurus di bumi
itu.” (QS. Nuh: 15-20)
8. Keingkaran Kaumnya Nabi Nuh Tambah Memuncak
Perkataan
dan nasehat Nabi Nuh yang bagaimanapun bentuknya, baik yang berupa ceramah,
diskusi atau dengan menunjukkan kebesaran dan kekuasaan Allah, tidak membawa
pengaruh apa-apa, tidak membuka pintu kebaikan dihatinya, bahkan mereka tambah
sombong dan membantah serta menantang Nabi Nuh, agar mendatangkan adzab Allah,
sebagaimana firman Allah:
“Mereka
(kaumnya Nuh) berkata: Hai Nuh, sesungguhnya kamu telah membantah dengan kami,
dan kamu tidak memperpanjang bantahanmu terhadap kami maka datangkanlah kepada
kami adzab yang kamu ancamkan kepada kami, jika kamu termasuk orang-orang yang
benar. Nuh menjawab: Hanyalah Allah yang mendatangkan adzab itu kepadamu jika
Dia menghendaki, dan kamu sekali-kali tidak melepaskan diri. Dan tidaklah
bermanfaat kepadamu masehatku jika aku hendak memberi nasehat kepada kamu,
sekiranya Allah hendak menyesatkan kamu. Dia adalah Tuhanmu, dan kepadaNyalah
kamu dikembalikan.” (QS. Hud: 32-34)
Disamping
mereka sombong dan menentang Nabi Nuh, mereka juga berlaku sombong dan
menjelek-jelekkan Nabi Nuh, sebagaimana firman Allah:
“Sungguh jika kamu tidak
(mau) berhenti hai Nuh, niscaya benar-benar kamu akan termasuk orang-orang yang
dirajam.” (QS. Asy Syu’aro: 116)
9. Nabi Nuh Mengadu Kepada Allah
Berbagai
macam cara yang dilakukan oleh Nabi Nuh, baik dengan cara ceramah, diskusi, dan
menunjukkan bukti kekuasaan tidak membuahkan hasil, malah kaumnya semakin
bertambah semangat dalam menentang dan memusuhi Nabi Nuh, maka Nabi Nuh mengadu
kepada Tuhan sambil memanjatkan agar Tuhan melenyapkan semua orang kafir dimuka
bumi ini, tak seorangpun yang perlu ditinggalkan, karena kalau Allah membiarkan
orang-orang kafir hidup terus, mereka akan terus membuat kerusakan dan berbuat
jahat dan akan memperbanyak dosa, bahkan akan mewariskan kesesatan itu kepada
generasi penerusnya. Sebagaimana firman Allah:
“Nuh
berkata: Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah mendustakan aku, karena itu
adakanlah keputusan antara orang-orang yang mu’min besertaku.” (QS. Asy
Syu’ara: 117-118)
“Maka
dia (Nuh) mengadu kepada Tuhannya,bahwasanya aku ini adalah orang yang
dikalahkan, oleh sebab itu menangkanlah aku.” (QS. al-Qamar: 10)
“Nuh berkata: Ya
Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorangpun diantara orang-orang kafir jika
Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hambaMu,
dan mereka tidak akan membiarkan selain anak yang berbuat maksiat lagi sangat
kafir.” (QS. Nuh: 26-27)
10. Nabi Nuh dan Pengikutnya Membuat Kapal
Setelah
Allah mendengar do’a dan pengaduan Nabi Nuh Allah menurunkan wahyu kepada Nuh
untuk membuat kapal atau perahu keselamatan (Safinatun Najah). Dalam pembuatan
perahu itu Nuh dibantu oleh para pengikutnya yang beriman dan dibantu pula oleh
tukang-tukang perahu. Perbuatan yang dilakukan Nabi Nuh dan pengikutnya
tersebut mendapat cemoohan dan hinaan dari orang-orang kafir yang menyombongkan
diri, karena Nabi Nuh membuat perahu tersebut pada musim panas. Menanggapi
ejekan dan hinaan dari orang-orang kafir tersebut Nabi Nuh hanya mengatakan
“Bahwa sebentar lagi kami akan mengejekmu dengan adzab Allah.” Sebagaimana
firman Allah:
“Dan diwahyukan kepada
Nuh, bahwasanya sekali-kali tidak akan beriman diantara kamu, kecuali orang
yang telah beriman (saja), karena itu janganlah kamu bersedih tentang apa yang
selalu mereka kerjakan. Dan buatlah bahtera (perahu) itu dengan pengawasan dan
petunjuk wahyu kami, dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang
orang-orang dzalim itu, sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan. Dan
mulailah Nuh membuat bahtera. Dan setiap kali pemimpin kaumnya berjalan
melewati Nuh, mereka mengerjakannya. Berkatalah Nuh, jika kamu mengejek kami,
maka sesungguhnya (kamipun) mengejekmu sebagaimana kamu sekalian mengejek
(kami). Kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa oleh adzab yang
menghinakannya, dan yang akan ditimpa adzab yang kekal.” (QS. Hud: 36-39)
11. Datanglah Banjir Besar
Setelah
Nabi Nuh selesai membuat perahu, mulailah terlihat tanda-tanda akan datangnya
adzab Allah kepada orang yang kafir. Langit sudah mulai mendung yang sangat
tebal, angin-angin kencang mulai berhembusan dan tidak lama kemudian turun
hujan yang sangat lebat yang menghancurkan tanaman-tanaman menenggelamkan
tumbuh-tumbuhan dan menenggelamkan orang-orang kafir yang sombong.
Sementara
itu Nabi Nuh dan para pengikutnya sudah berada pada perahu keselamatan yang
sudah dibuat sebelumnya, tidak ketinggalan pula dalam perahu keselamatan
tersebut, semua jenis tumbuh-tumbuhan dan hewan-hewan milik pengikutnya Nabi
Nuh, sebagaimana firman Allah:
“Hingga
apabila perintah Kami datang dan dapur telah memancarkan air, Kami berfirman:
Muatkanlah kedalam bahtera itu dari masing-masing binatang sepasang (jantan dan
betina), dan keluargamu kecuali orang-orang yang telah terdahulu ketetapan
terhadapnya dan (muatkan pula) orang-orang yang beriman. Dan tidak beriman
bersama Nuh itu kecuali sedikit.
Nuh berkata: Naiklah
kamu sekalian kedalamnya dengan menyebut nama Allah diwaktu berlayar dan
berlabuhnya. Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang. Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana
gunung.” (QS. Hud: 40-42)
12. Tenggelamnya Putra Nuh
Nabi
Nuh telah tahu bahwa banjir yang menimpa kaumnya yang ingkar itu akan
memusnahkan semuanya tanpa seorangpu yang selamat. Oleh karena itu pada saat
banjir datang, Nabi Nuh berusaha menyelamatkan keluarganya termasuk anaknya
agar terhindar dari bahaya banjir. Tetapi anaknya (Nuh) yang bernama Kan’an itu
termasuk orang yang mengkufurkan ajaran yang dibawa Nabi Nuh, sehingga Kan’an
termasuk golongannya orang akan menerima adzab dari Allah.
Setelah
Nabi Nuh mengetahui bahwa anaknya yang ingkar tersebut tidak dapat
diselamatkan, Nabi Nuh menyesali perbuatannya dan mengaku berdosa sambil
berkata: Aku mohon perlindunganMu wahai Tuhanku, dan takut kepadaMu. Sekarang
aku berlindung kepadaMu, jika Engkau tidak segera mengampuni dan menyayangku,
niscaya aku termasuk orang-orang yang merugi.
Dan dengan datangnya
bencana banjir tersebut seluruh kaumnya Nabi Nuh yang ingkar binasa termasuk didalamnya
anak dan istrinya yang juga kufur kepada ajaran Nuh.
13. Banjir Telah Reda
Setelah
bencana banjir yang begitu besar yang membinasahkan seluruh kaumnya Nabi Nuh
yang kufur, maka awan-awan dilangit mulai hilang, hujan-hujan mulai berhenti,
bumi sudah mulai menghisap air dan kapal yang ditumpangi Nabi Nuh sudah berlabu
diatas gunung. Kemudian Allah memerintahkan pada Nabi Nuh turun dari bahtera
perahunya dan mulai dengan kehidupan baru lagi setelah terjadinya bencana yang
begitu besar.
Dalam
akhir kisah Nuh ini, Allah menuturkan kisah ini kepada Nabi Muhammad saw,
seraya berfirman: Kisah Nabi Nuh dan kaumnya yang kami ceritakan kepadamu
(Muhammad) adalah kabar ghaib, kamu dan kaummu tidak mengetahui kisah ini
kepadamu. Maka sabarlah dalam menghadapi kaummu, seperti keberuntungan
sebagaimana yang pernah diperoleh Nuh. Dan akibat yang baik itu senantiasa akan
diperoleh orang-orang yang bertaqwa.
Contoh
kesabaran Nabi Nuh yang dituturkan Allah kepada Muhammad juga terdapat dalam
firman Allah:
“Itu
adalah diantara berita-berita penting tentang yang ghaib, yang kami wahyukan
kepadamu (Muhammad) tidak pernah kamu mengetahuinya dan tidak (pula) kaummu
sebelum ini. Maka bersabarlah, sesungguhnya kesudahan yang baik adalah bagi
orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Hud: 49)
7:58 PM
Unknown
Bismillahirrohmanirrohim
(dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang)
Narkotika: Zat atau Obat
berasal dati tanaman atau bukan tanaman
baik sintetis maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau
perubahan kesadaran, mengurangi rasa sakit sampai menghilangkan rasa nyeri dan
dapat menimbulkan ketergantungan, Contoh: Ganja, Heroin/Putau. Extacy,
Sabu-Sabu dan Morfin.
(dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang)
Narkotika: Zat atau Obat
berasal dati tanaman atau bukan tanaman
baik sintetis maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau
perubahan kesadaran, mengurangi rasa sakit sampai menghilangkan rasa nyeri dan
dapat menimbulkan ketergantungan, Contoh: Ganja, Heroin/Putau. Extacy,
Sabu-Sabu dan Morfin.
Psikotropika: Zat atau
Obat baik alamiah maupun sintetis bukan narkotika, yang berkhasiat psikoaktif
melalui pengaruh selektip pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan
khas pada mental dan perilaku. Contoh: Happy five, lexotan.
Bahan Adiktif: Bahan
lain bukan narkotika atau Psikotropika yang bila dikonsumsi dapat menimbulkan
ketergantungan (Contoh: Alkohol, Nicotin, Kafein, Solven), bensin, spirtus,
aceton Zat yang mudah menguap, lem.
Faktor Penyebab
Penyalahgunaan Narkoba:
- - Kepribadian
yang lemah / mudah terpengaruh
- - Ingin
coba-coba / rasa ingin tahu
- - Kurang
percaya diri / tidak dapat menyesuaikan
- - Pengaruh
atau dorongan dari teman / sebaya
- - Bergaul
dengan pemakai / tinggal di lingkungan edar
- - Kurang
mendapat bekal agama
- - Kurang
perhatian orang tua
Tanda-Tanda Penguna
Narkoba:
- - Bicara
cadel, wajah kusut
- - Jalan
sempoyongan, mata merah, sayu, berair
- - Hidung
beler, mudah emosi, pakaian kumuh
- - Suka
melawan oang tua dan guru
- - Tidak
peduli norma sopan santun, malas belajar
- - Suka
bohong, bengong akhirnya mencuri
Dampak Buruk
Penyalahgunaan Narkoba:
- - Badan
sakit-sakitan, mudah tertular HIV / AIDS
- - Sek
bebas, merusak organ tubuh
- - Sakauw,
teler, ketergantungan-over dosis mati
- - Mengganggu
ketertiban umum, kriminalitas, laka lantas
- - Merusak
moral bangsa, tidak punya rasa cinta tanah air dan masa depan negara suram /
hancur
Ancaman Hukuman
Narkotika
Pemilik: pasal 112 UU
No. 35 / 2009 tentang Narkotika : Barang siapa memiliki, menggunakan Narkotika
diancam paling singkat 4 tahun dan paling lama 12 tahun penjara dan denda 8
juta s/d 8 milyard.
Pengedar: pasal 114 UU
No. 35 / 2009 tentang Narkotika : Barang siapa mengedarkan, menyalurkan,
menjual, membeli, menyeerahkan Narkotika dihukum 20 tahun, seumur hidup, mati
dan denda 1 s/d 10 milyard.
Produsen: pasal 113 UU
No. 35 / 2009 tentang Narkotika : Barang siapa memproduksi, mengola,
mengekstraksi, merakit Narkotika dihukum 20 tahun, seumur hidup, mati dan denda
1 s/d 10 milyard.
Psikotropika: pasal 59
UU No. 5 / 1997 tentang Psikotropika : Barang siapa : a. Menggunakan, b.
Memproduksi, c. Mengedarkan, d. Mengimport, e. Menyimpan, Memiliki dan membawa
Psikotropika diancam hukuman penjara paling singkat 4 tahun, paling lama 15
tahun dan denda 150 s/d 750 juta.
Peran Serta Masyarakat:
pasal 54 UU No. 5 / 1997 tentang Psikotropika & pasal 105 UU No. 35 / 2009
tentang Narkotika: 1. Masyarakat mempunyai kesempatan yang luas dalam membantu
upaya mencegah dan memberantas, penyalahgunaan dan edar gelap narkoba. 2. Masyarakat
wajib lapor bila tahu pentalahgunaan dan peredaran gelap Narkoba. 3. Pemerintah
wajib menjamin keamanan dan melindungi pelapor sebagaimana ayat 2 di atas.
Efek Penyalahgunaan
Ganja:
- - Menimbulkan
ngantuk, lesu, mata merah, dungu, jalan mengambang, kadar gula naik turun.
- - Menimbulkan
ketergantungan secara fisik, rasa mual pada perut, kram otot, nyeri tulang,
flu.
- - Sakit
paru-paru, sesak nafas, membuat bodoh.
Efek Penyalahgunaan
Shabu:
- - Menimbulkan
ketergantungan, hidung beler, nafsu makan menurun, depresi, nyeri tulang,
agresif, berat badan menyusut, sakit paru-paru.
- - Pada
wanita menggangu sirkulasi menstruasi.
- - Menyababkan
kebodohan dan malas belajar.
Efek Penyalahgunaan
Putauw:
- - Menimbulkan
ngantuk, membuat bodoh.
- - Bila
tidak menggunakan putau membuat shakauw dan nyeri tulang seluruh tubuh, kepala
pusing
- - Mudah
tertular HIV-AIDS, badan sakit-sakitan.
- - Kejang
perut, ketergantungan dan kematian.
Efek Penyalahgunaan
Extacy:
- - Meningkatkan
detak jantung dan tekanan darah.
- - Menimbulkan
kebodohan, dehidrasi, malas.
- - Menimbulkan
ketergantungan, over dosis, mati.
- - Menimbulkan
kerusakan otak dan saraf.
Friday, August 15, 2014
7:12 AM
Unknown
Bismillahirrohmanirrohim
(dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang)
Keanekaragaman makhluk hidup yang
melimpah perlu dikelompokkan berdasarkan persamaannya. Makhluk hidup yang
memiliki kesamaan dikelompokkan menjadi satu unit atau takson. Kegiatan ini
disebut klasifikasi. Klasifikasi bermanfaat untuk mengetahui hubungan
kekerabatan antara makhluk hidup yang beraneka ragam.
(dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang)
Sistem klasifikasi yang masih
dipergunakan dan terus dikembangkan adalah sistem klasifikasi buatan (artifisial).
Sistem ini mengklasifikasikan makhluk hidup berdasarkan struktur morfologi,
anatomi, maupun fisiologi (terutama alat reproduksi dan habitatnya). Sistem ini
mengutamakan tujuan praktis, yaitu untuk memperoleh ikhtisar dunia makhluk
hidup.
Sistem klasifikasi artifisial
dikembangkan oleh Aristoteles, Theophrastus, dan Carolus Linnaeus. Kelebihan
sistem ini ialah identifikasi yang mudah. Pengelompokan makhluk hidup yang
kurang dikenal masih mungkin dilakukan. Sistem ini juga relatif lebih adaptif,
karena terus dapat menyesuaikan diri terhadap perubahan perkembangan
pengetahuan.
Contoh klasifikasi artifisial antara
lain pada pengelompokan tumbuhan Angiospermae berdasarkan habitusnya
(perawakannya). Misal pengelompokan bayam, kangkung, dan lili di dalam habitus
herba dan pengelompokan jati, randu, dan kelengkeng dalam habitus pohon.
Adapun contoh klasifikasi artifisial
pada dunia hewan (Animalia) adalah pengelompokan orang utan, siamang, dan
kuskus menjadi hewan arboreal (dominasi hidup di atas pepohonan).
6:55 AM
Unknown
Bismillahirrohmanirrohim
(dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang)
(dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang)
Ø
Seorang
yang mengamalkan sifat Al-Muqsith (Allah Yang Maha Mengadili), maka dalam
setiap langkah kehidupannya akan mencerminkan perbuatan yang adil dengan
senantiasa mengingat keadilan Allah, berusaha memahami segala aturan yang
ditetapkan Allah (alim), senantiasa konsisten (istiqomah), untuk menerapkan
hukum-hukum Allah dalam seluruh aspek kehidupan tanpa memilah dan memilih,
senantiasa memberikan hak adami (rahmah) kepada sesama manusia ataupun makhluk
lain tanpa pilih kasih terhadap siapapun walaupun terhadap musuh sekalipun.
Ø
Seorang
yang mengamalkan sifat Al-Warits (Allah Yang Maha Mewarisi), maka dalam setiap
langkah kehidupannya akan mencerminkan keikhlasan terhadap apa yang diberikan
Allah, selalu mengingat kebesaran Allah, memberikan yang terbaik (ihsan) kepada
yang berhak menerimanya, mendidik dan memperdayakan (tarbiyah) kemampuan oarang yang membutuhkan,
memperhitungkan (hisab) segala kemungkinan manfaat ataupun madharat yang akan
terjadi kepada sesamanya, memberikan shadaqah yang berguna yang menjadi
kebutuhan pokok bagi kehidupan manusia.
Ø
Seorang
yang mengamalkan sifat An-Naafi’u (Allah Yang Maha Pemberi Manfaat), maka dalam
setiap langkah kehidupannya akan mencerminkan selalu mensyukuri segala nikmat
Allah, berbuat hal yang dapat memberikan manfaat kepada sesamanya, mengusahakan
(ikhtiar) segala bentuk manfaat yang diperlukan sesamanya, menolong (ta’awun)
dengan segala tindakan ataupun bantuan yang manfaat bagi kehidupan sesamanya
sesuai dengan kemampuannya, dan menjauhkan segala bentuk mafsadat yang dapat
menyengsarakan kehidupan manusia.
Ø
Seorang
yang mengamalkan sifat Al-Baasith (Allah Yang Maha Melapangkan), maka dalam
setiap langkah kehidupannya akan mencerminkan selalu mengingat pemberian Allah
kepada hamba-Nya yang tiada terhingga, memberikan pencerahan hati dan pikiran
bagi sesama manusia, memberikan kesempatan bagi manusia untuk meniti jalan
kebenaran dan kesuksesan, menolong kehidupan manusia dengan segala sesuatu yang
berguna dalam kehidupannya, membantu meringankan segala beban dan rintangan
serta hambatan yang menganggu kehidupan manusia.
Ø
Seorang
yang mengamalkan sifat Al-Hafiidz (Allah Yang Maha Menjaga), maka dalam setiap
langkah kehidupannya akan mencerminkan selalu mengingat pertolongan Allah
terhadap hamba-Nya dengan keyakinan bahwa Allah akan selalu menyertai dan
menolong hamba-hamba yang istiqomah dalam menapak jalan kebenaran, selalu
membimbing sesama manusia agar selalu berada di jalan ketaatan yang
diperintahkan, giat dan semangat beramar ma’ruf dan nahi munkar dalam berbagai
situasi dan keadaan, meringankan beban sesama makhluk untuk melakukan ketaatan,
membebaskan sesama manusia dari segala kemungkinan yang menyesatkan
kehidupannya.
Ø
Seorang
yang mengamalkan sifat Al-Wali (Allah Yang Maha Melindungi), maka dalam setiap
langkah kehidupannya akan mencerminkan selalu mengingat Allah yang tak terbatas
dan memohon agar selalu dalam lindungannya, berusaha memberikan segala sesuatu
yang menjadi kebutuhan hidup sesama manusia, membimbing manusia agar tidak
terbujuk dengan godaan syetan, meringankan sesama manusia dari segala cobaan,
musibah ataupun ujian yang menimpanya, membangkitkan kesadaran sesama manusia
untuk selalu dekat dengan Allah swt.
Ø
Seorang
yang mengamalkan sifat Al-Waduud (Allah Yang Maha Pengasih), maka dalam setiap
langkah kehidupannya akan mencerminkan selalu mengingat kasih sayang Allah
terhadap semua makhluk-Nya, senantiasa memberikan apa yang dibutuhkan sesama
manusia, memberikan perhatian dan kasih sayang pada sesama manusia dan tidak
membeda-bedakan satu sama lainnya sebab hanya Allah-lah yang paling mengetahui
hati hamba-hambanya, menghormati dan menghargai harkat dan martabat kemanusiaan
dan menjujung tinggi kehormatan manusia.
Ø
Seorang
yang mengamalkan sifat Ar-Roofi’ (Allah Yang Maha Meninggikan), maka dalam
setiap langkah kehidupannya akan mencerminkan selalu mngingat kekuasaan Allah
terhadap hamba-Nya, hanya Allah-lah yang berhak meninggikan derajat manusia dan
Dia pula yang berhak merendahkan, senantiasa menghargai usaha (ikhtiar) yang
dilakukan setiap manusia, menjunjug tinggi prinsip keadilan, memberikan
penghormatan yang semestinya terhadap sesamanya, memberikan bimbingan terbaik
untuk mencapai prestasi yang diciptakan, selalu mendukung untuk meraih
kesuksesan hidup di dunia dan akhirat.
Ø
Seorang
yang mengamalkan sifat Al-Mu’izzu (Allah Yang Maha Memuliakan), maka dalam
setiap langkah kehidupannya akan mencerminkan selalu mengingat kemuliaan dan keagungan
Allah, senantiasa menunjukkan keutamaan manusia apabila dibandingkan dengan
makhluk lainnya, mengarahkan sesama manusia untuk menampilkan akhlakul karimah,
mengingatkan manusia yang mengabaikan harga dirinya, membantu manusia untuk
kembali kepada kesadaran fitrahnya, bergaul dengan sesama sesuai teladan
Rasulullah, menjaga harkat dan martabat kemanusiaan.
Ø Seorang yang mengamalkan sifat Al-Afuww
(Allah Yang Maha Pemaaf), maka dalam setiap langkah kehidupannya akan
mencerminkan selalu mengingat akan harapan ampunan Allah terhadap hamba-Nya
sehingga tidak mudah putus asa, senantiasa beristighfar, bertasbih, bertakbir,
dan bertahmid dengan menyadari segala kesalahan yang telah dilakukan,
memperbaiki segala dosa, khilaf dan kesalahan bahkan perbuatan keji yang
diperbuat, segera melakukan kebaikan untuk menutupi keburukan, senantiasa
memohon ampunan kepada Allah, suka memberi maaf terhadap kesalahan orang lain,
tidak segan meminta maaf kepada orang lain atas kesalahan ataupun kekhilafan
yang dilakukan dan senantiasa berusaha untuk mendapatkan ampunan dari Allah
swt.
Subscribe to:
Posts (Atom)
RSS Feed
Twitter



.jpg)


.jpg)

