(dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang)
This is featured post 1 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha - Premiumbloggertemplates.com.
This is featured post 2 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha - Premiumbloggertemplates.com.
This is featured post 3 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha - Premiumbloggertemplates.com.
Saturday, September 6, 2014
9:15 PM
Unknown
Bismillahirrohmanirrohim
(dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang)
(dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang)
1. Kaum Tsamud
Setelah
kaum ‘Aad dibinasakan oleh Allah dengan angin topan, sehingga mengakibatkan
semua manusia yang ingkar bergelimpangan, rumah-rumah dan gedung-gedung hancur
berantakan berkeping-keping, binatang-binatang diterbangkan dengan angin topan
yang dahsyat. Akhirnya bumi itu menjadi tandus dan gersang. Bangsa itu yang
didalam Al-Qur’an disebut kaum Tsamud. Merekalah yang berkuasa diatas bumi yang
dikuasai oleh bangsa ‘Aad dahulu itu.
Negeri itu sekarang
dirombak dan dibangun kembali sehingga menjadi negeri yang makmur, labih makmur
dibandingkan dengan zaman kaum ‘Aad yang sudah musnah itu. Didalamnya penuh
dengan kebun-kebun, tanaman yang indah, dengan hasil bumi yang berlipat ganda
dan membuat mereka tidak kekurangan sesuatu apapun.
2. Tempat Tinggal Kaum Tsamud
Tempat
tinggal kaum Tsamud adalah lereng-lereng gunung, di bukit-bukit, sebagaimana
dinyatakan didalam Al-Qur’an:
“Dan kaum Tsamud yang
memotong batu-batu besar.” (QS. al-Fajr: 9)
3. Tuhan-Tuhan Kaum Tsamud
Kehidupan kaum Tsamud
ini seperti kehidupan ‘Aad dahulu. Mereka membuat kerusakan dan kesombongan,
menonjol-nonjolkan harta kekayaan yang mereka miliki. Mereka mengira bahwa
harta kekayaan yang mereka miliki dan yang mereka rasakan adalah untuk
selama-lamanya, kesenangan dan kehidupan mereka akan tetap selama-lamanya. Lalu
mereka berbuat sekehendaknya menurut hawa nafsunya yang angkara murka, bahkan
sampai batu-batu yang tidak berharga itu mereka gunakan sebagai pemujaan dan
penyembahan mereka.
4. Shalih Berda’wah Kepada Kaum Tsamud
Untuk
menyampaikan risalah dan menyampaikan ajaran agama kepada kaum Tsamud yang menyimpang dan menyembah kepada berhala, maka
Allah mengutus seorang Nabi yang bernama Shalih dengan penuh kesabaran, Nabi
Shalih menyampaikan risalah dan mengajak kepada kaum Tsamud menyembah kepada
Allah dan melarang menyembah kepada patung-patung dan berhala-berhala.
Sebagaimana firman Allah:
“Dan
kepada Tsamud (kami utus) saudara mereka Shalih, Shalih berkata:Hai kaumku,
sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia, Dia telah
menciptakan kamu dari tanah dan menjadikan kamu kemakmurannya, karena itu
mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertaubatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku
amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (do’a hambaNya).” (QS. Hud: 61)
Da’wah yang dilakukan
oleh Nabi Shalih tidak mendapat sambutan baik dari kaum Tsamud, mereka malah
menentang dan mendustakan ajaran agama dan semua apa yang sudah disampaikan
oleh Nabi Shalih tidak pernah membekas pada pribadi masing-masing kaum.
5. Kaum Tsamud Minta Bukti Mu’jizat Kepada Shalih
Banyak
tantangan yang dihadapi oleh Nabi Shalih dalam menyampaikan da’wahnya kepada
kaumnya, orang-orang yang ingkar dan tidak berimanBanyak tantangan yang
dihadapi oleh Nabi Shalih dalam menyampaikan da’wahnya kepada kaumnya,
orang-orang yang ingkar dan tidak beriman menentang kepada Nabi Shalih, kalau
memang benar-benar Nabi Shalih sebagai seorang Nabi, maka Shalih disuruh
menunjukkan mu’jizatnya sebagai bukti seorang Nabi.
Menanggapi
permintaan kaumnya tersebut, Nabi Shalih memohon kepada Allah agar diberikan
mu’jizat yang dapat ditunjukkan kepada kaumnya.
Mendengar
do’a yang dipanjatkan oleh Nabi Shalih tersebut, maka Allh langsung
mengabulkan, lalu berfirman kepada Nabi Shalih: Pergilah engkau hai Shalih
untuk mendapatkan kaummu, dan katakanlah kepada mereka agar mereka berkumpul
diluar kota di kaki gunung yang tampak itu, itu dapat melihat mu’jizat yang
mereka kehendaki itu. Dari gunung itu nanti akan muncul seekor onta betina yang
luar biasa bagusnya, besar ddan gemuk, yang tidak pernah mereka lihat selama
ini.
Setelah
tiba saat yang ditunggu-tunggu, maka datanglah onta betina tersebut yang memang
betul-betul bagus dan tidak pernah mereka lihat sebelumnya dan dengan tetek
yang penuh dengan air susu itu diambil setiap detik, air susu itu tidak akan
habis.
Dengan adanya mu’jizat
tersebut orang yang beriman akan bertambah imannya, sedangkan orang-orang yang
ingkar bukan menjadi iman karenanya sebagaimana perkataan mereka ketika meminta
mu’jizat dulu, bahkan mereka bertambah iri hati terhadap Nabi Shalih dan
orang-orang yang beriman.
6. Pembunuhan Onta Mu’jizat Nabi Shalih
Untuk
menunjukkan rasa kedengkian dan rsa iri yang terpendam dalam hati kaum Tsamud
yang ingkar, maka mereka berencana hendak membunuh onta mu’jizat tersebut,
dengan tujuan agar orang-orang beriman menghindar dari Nabi Shalih yang
mengajak untuk menyembah kepada Allah dan mengingkari ajaran nenek moyang.
Untuk
merangsang agar banyak para pemuda yang mendaftarkan dirinya untuk membunuh
onta tersebut, maka dicarikan perempuan cantik yang siap dinikmati segala-galanya
sebagai hadiah bagi mereka yang berhasil membunuh onta tersebut. Akhirnya
ditemukan seorang perempuan cantik bernama Shaduq binti Mahya akan menyerahkan
kehormatannya dengan sepuas-puasnya asalkan pemuda tersebut berhasil membunuh
onta tersebut. Dan juga seorang wanita tua keparat mau menyerahkan kehormatan
anaknya kepada seorang laki-laki yang bernama Qudar Ibnu Salif, asalkan pemuda
itu dapat membinasakan onta dari permukaan bumi.
Dengan
langkah tegap dan penuh keyakinan, kedua pemuda tersebut, maka Nabi Shalih
berkata: Hai kaumku, kamu benar-benar berbuat dosa, sekarang kamu boleh
bersenang-senang dan bergembira 3 hari saja atas kematian onta itu. Sesudah
tida hari hujan akan datang, dan hari ini bukanlah perjanjian yang bohong.
Tempo
tiga hari yang diberikan kepada mereka oleh Shalih dengan harapan mudah-mudahan
mereka insaf, bertaubat dan mau beriman kepada Allah, tatapi sebelum tiba tiga
hari mereka orang-orang yang ingkar tersebut bertanya dan menantang kepada
Shalih: Percepatlah datangnya siksa yang engkau janjikan itu.
Tidak
lama kemudian, mereka merasa ragu dan takut akan datangnya janji Allah itu,
maka mereka berencana akan membunuh kepada Nabi Shalih pada malam itu juga,
karena menurut anggapan mereka dengan terbunuhnya Nabi Shalih, siksa itu tidak
akan datang. Tatapi sebelum rencana mereka membunuh Nabi Shalih terlaksana,
Allah sudah menurunkan adzab kepada mereka yang ingkar berupa sambaran petir
yang sangat dahsyat sekali yang menghancurkan rumah-rumah, gedung-gedung dan
bukit-bukit yang dipergunakan sebagai benteng mereka. Sebagaimana firman Allah:
“Maka
mereka berlaku angkuh terhadap perintah Tuhannya lalu mereka disambar petir
sedang mereka melihatnya.” (QS. Adz Dzariyat: 44)
Dan
firman yang lainnya:
“Karena
itu mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergeimpangan di
tempat-tempat mereka.” (QS. al-A’raf: 78)
9:10 PM
Unknown
Bismillahirrohmanirrohim
(dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang)
(dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang)
![]() |
| Berdoa acara cara kita untuk meminta kepada Allah |
1. Beriman kepada Allah swt., tetapi tidak
menunaikan berbagai perintah-Nya.
2. Beriman kepada Rasulullah saw., tetapi menentang
sunnahnya.
3. Membaca Al-Qur’an, tetapi tidak mengamalkannya,
bahkan menentang ayat-ayat-Nya.
4. Takut kepada neraka, tetapi selalu melakukan
kemaksiatan.
5. Menginginkan surga, tetapi melakukan hal-hal
yang menjauhkan darinya.
6. Merasakan nikmat Allah swt., tetapi tidak mau
mensyukurinya.
7. Bersahabat dengan setan.
8. Selalu mencela atau menjelekkan orang lain.
7:26 AM
Unknown
Bismillahirrohmanirrohim
(dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang)
membinasakan binatang-binatang
ternak yang berkeliaran di padang pasir. Sebagaimana firman Allah:
(dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang)
1. Kaum ‘Aad
Setelah
waktu berjalan cukup lama, kaumnya Nabi Nuh yang beriman telah melahirkan
keturunan yang banyak, ini berarti menambah jumlah penduduk yang beriman.
Setelah melahirkan keturunan yang banyak, mereka hidup berpencar-pencar
diberbagai pelosok yang bersuku-suku, dan satu sama lain tidak saling kenal
mengenal. Masing-masing golongan berkembang dengan adatnya masing-masing.
Kehidupan
yang berbeda-beda ini menimbulkan hilangnya rasa kesetiakawanan, rasasaling
tolong menolong dan hidup saling bergotong royong. Lama kelamaan ajaran yang
pernah dibawa oleh Nabi Nuh menjadi hilag dan kehidupan masayarakat yang
semakin rusak, karena mereka sudah tidak beriman dan melupakan ajaran agama
yang dibawa oleh Nabi Nuh.
Diantara
kaum yang sering berbuat kejahatan dan kerusakan adalah suatu kaum yang
tersohor yaitu kaum ‘Aad. Kaum ‘Aad adalah satu kaum yang paling durhaka di
zaman itu, yang hidupnya di Negeri Ahqaf, antara Yaman dan Uman.
Menurut sejarah, kaum
itu menyembah kepada berhala Shada, Shamud dan Al Haba, setiap hari mereka
bukan lagi menyembah kepada Allah, tetapi menyembah kepada berhala-berhala yang
mereka buat sendiri.
2. Hud Mengajak Kaumnya ‘Aad untuk Menyembah Kepada
Allah
Menghadapi
kaum ‘Aad yang semakin rusak dan berbuat kejahatan dimuka bumi ini, maka Allah
mengutus Hud untuk menyampaikan risalah dan mau menyembah kepada Allah dan
meninggalkan menyembah kepada berhala. Sebagaimana firman Allah:
“Dan
(Kami telah mengutus) kepada kaum ‘Aad saudara mereka (Hud). Ia berkata: Hai
kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain diriNya.
Maka mengapa kamu tidak bertaqwa kepadaNya.” (QS. al-A’raf: 65)
Tugas
pokok yang diemban oleh Nabi Hud adalah untuk menyampaikan risalah kepada kaum
‘Aad dengan mengajarkan beberapa pelajaran dan menunjukkan Tuhan sebenarnya
yang patut disembah dan dimintai pertolongan, dan Nabi Hud juga mempunyai tugas
untuk memberantas orang-orang yang senang menyembah kepada berhala. Sebagaimana
firman Allah:
“Dan
ingatlah (Hud) saudara kaum ‘Aad yaitu ketika dia diberi peringatan pada
kaumnya di Al Ahqaf dan sesungguhnya telah terdahulu beberapa orang pemberi
peringatan sebelumnya dan sesudahnya (dengan mengatakan): Janganlah kamu
menyembah selain Allah, sesungguhnya aku khawatir kalian ditimpa adzab hari
yang besar.” (QS. al-Ahqaf: 21)
Usaha
yang dilakukan oleh Hud untuk menyampaikan risalah tidak membuahkan hasil yang
mengembirakan, malah mereka semakin sombong dan congkak dan tidak pernah
menghiraukan nasehat dan ajaran agama yang dibawa oleh Hud, bahkan mereka
berani mengutuk Hud sebagai orang yang bodoh. Sebagai balsasan kepada kaum ‘Aad
yang menyombongkan diri tersebut, Allah menurunkan adzab yang pedih berupa
musim kemarau yang berkepanjangan selama tiga tahun, dan selama masa tersebut
Allah tidak menurunkan air sedikitpun.
Dalam
keadaaan yang sangat megerikan tersebut, Hud masih sempat memberikan nasehat
kepada kaumnya agar berdo’a kepada Tuhan dan memohon ampunan atas dosa-dosa
yang pernah mereka lakukan, kemudian bertaubat kepada Tuhan.
Dan
sesudah dilanda musim kemarau berkepanjangan begitu mengerikan, lalu Allah
menurunkan lagi adzab yang lebih dahsyat berupa angin kencang selama tujuh
malam dan delapan hari, angin tersebut dapat
“Dan
juga pada (kisah) ‘Aad ketika kami kirimkan kepada mereka angin yang
membinasakan, angin itu tidak membiarkan sesuatupun yang dilandanya, melainkan
dijadikannya seperti serbuk.” (QS. Adz Dzariyat: 41-42)
Mengingat
negeri baru dilanda adzab Allah itu rusak, maka Hud dan para pengikutnya yang
beriman pindah ke Hadlaralmaut Mekkah, dan ia tinggal disana dan tidak lama
kemudian ia wafat dan dikuburkan di sana pula.
7:19 AM
Unknown
Bismillahirrohmanirrohim
(dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang)
(dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang)
![]() | |
| Penanaman Tanaman Bakau di Pantai |
Sumber daya alam biasa disingkat dengan SDA adalah segala
sesuatu yang muncul secara alami yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan
manusia. Sumber daya alam meliputi komponen biotik seperti hewan, tumbuhan, dan
mikroorganisme serta komponen abiotik seperti minyak bumi, gas alam, air,
tanah, dan cahaya matahari.
Pada umumnya sumber daya alam berdasarkan sifatnya
digolongkan menjadi sumber daya alam yang dapat diperbarui dan sumber daya alam
yang tidak dapat diperbarui. SDA yang dapat diperbarui adalah kekayaan alam
yang dapat terus tersedia selama penggunaannya tidak berlebihan, misalnya
tumbuhan, hewan, air, dan cahaya matahari. SDA yang tidak dapat diperbarui adalah
SDA yang jumlahnya terbatas karena penggunaannya lebih cepat daripada proses
pembentukannya sehingga jika digunakan terus-menerus akan habis. SDA yang tidak
dapat diperbarui antara lain minyak bumi dan batu bara.
Peningkatan populasi manusia dan inovasi teknologi telah
membawa manusia pada era eksploitasi sumber daya alam sehingga persediaannya
semakin terbatas. Jika ekploitasi berlangsung terus-menerus SDA lama-kelamaan
akan habis. Oleh karena itu, diperlukan upaya-upaya pelestarian sumber daya
alam seperti berikut.
1. Memanfaatkan sumber daya alam yang dapat
diperbarui secara hati-hati dan efisien, misalnya air, tanah, dan udara.
2. Melakukan strategi konservasi untuk melestarikan
sumber daya alam berupa tumbuhan dan hewan, mislanya mendirikan suaka margasatwa
dan cagar alam.
3. Mengembangkan metode penambangan dan pemrosesan
yang lebih efisien serta dapat didaur ulang.
4. Melaksanakan etika lingkungan dengan menjaga
kelestarian alam.
7:08 AM
Unknown
Bismillahirrohmanirrohim
(dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang)
(dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang)
1. Pengertian Husnudz-dzan
Secara bahasa
husnudz-dzan berasal dari dua kata yaitu “husnu” (baik) dan “dzanni” (sangka),
dengan demikian kata tersebut memiliki arti berbaik sangka. Secara istilah
husnudzan diartikan berbaik sangka terhadap segala ketentuan dan ketetapan
Allah yang diberikan kepada manusia.
2. Kriteria Husnudz-dzan
Diantara
bacaan yang diajarkan Nabi saw. kepada kita ialah tasbih, yaitu ucapan “Subhanallah” (Maha Suci Allah).
Maksudnya ialah, bahwa Allah Maha Suci atau Maha Bebas dari setiap pikiran
manusia yang negatif mengenai Dia. Misalnya, dalam Al-Qur’an dilukiskan bahwa
orang-orang yang mempunyai ilmu yang dalam (ulu
al-albab) selalu ingat kepada Allah setiap saat (ketika berdiri, duduk,
maupun berbaring) dan sekaligus memperhatikan serta merenungkan kejadian alam
raya. Karena perhatian dan renungannya yang mendalam itu, orang tersebut samapi
kepada seruan kesimpulan:”Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan alam raya
ini secara sia-sia (bathil), Maha
Suci Engkau! Maka hindarkanlah kami dari siksa neraka” ( surat Ali-Imron: 191).
Seorang yang mempunyai ilmu yang dalam (ulu al-albab) itu me-Maha sucikan Allah dari kemungkinan
menciptakan alam ini sia-sia. Dan apabila ada orang yang mengatakan bahwa Allah
menciptakan alam ini sia-sia, tanpa makna maka pikiran negatif tentang Tuhan,
maka ucapan “Maha Suci Engkau” adalah juga berarti me-Mahasucikan Allah dari
setiap gambaran atau pikiran negatif tentang Dia. Implikasinya ialah, bahwa
justru seorang Mu’min dengan ucapan Subhanallah
itu, berusaha membebaskan dirinya dari setiap pikiran negatif tentang Tuhan.
Oleh karena itu, rantai untaian kalimat tasbih ialah tahmid,
yaitu bacaan alhamdulillah (segala
puji bagi Allah). Bacaan ini mengandung makna penegasan setiap mu’min jangan
sampai berpikir negatif tentang Tuhan, bahkan sebaiknya harus selalu berpikir
positif tentang Dia. Dengan memuji syukur kepada Allah atas segala sesuatu yang
telah dianugerahkan pada manusia, akan mendidiknya untuk selalu mempunyai
pandangan yang penuh apresiasi dan rasa optimis kepada Allah atas segala
takdir-Nya. Dengan memahami dan meresapkan makna tasbih, kemudian diiringi dan
digandeng dengan tahmid, maka akan dapat menanamkan dalam jiwa sikap yang
positif, optimis, dan penuh harapan kepada Allah bagi masa depan.
Ucapan tasbih dan tahmid adalah dapat menjadi sumber
kekuatan rohani dalam menghadapi hidup ini. Dengan pandangan yang positif dan
optimis kepada Allah, seorang mu’min memperoleh sumber energi dan kegairahan
hidup ini pada akhirnya akan membuat lebih mampu mengatasi problema kehidupan.
Karena itu, iman kepada Allah membuat seseorang akan menjadi tabah, dan tidak
mudah patah semangat dalam perjalanan hidup ini.
Maka tasbih dan tahmid itu berlangsung dikaitkan pula dengan
takbir, yaitu ucapan Allahuakbar
(Allah Maha Besar). Dengan ucapan itu, sebgaimana sudah banyak dipahami orang,
akan menanamkan tekad untuk mengarungi lautan hidup ini. Seolah-olah hendak
menyatakan: semua halangan, betapapun besarnya, dapat diatasi dengan hidayah
dan inayah Allah Yang Maha Besar. Inilah antara lain janji Allah “Barangsiapa
bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mebukakan jalan keluar baginya.” (Q.S.
at-Talaq: 2).
3. Nilai Positif Husnudz-dzan
1)
Melahirkan
kesadaran bagi manusia, bahwa segala sesuatu di alam semesta ini berjalan
sesuai dengan aturan dan hukum yang telah ditetapkan dengan pasti oleh Allah.
Oleh karena itu manusia harus memperlajari, meneliti, merenungkan, memahami,
dan mematuhi ketetapan Allah, supaya dapat mencapai keberhasilan baik di dunia
maupun di akhirat.
2)
Mendorong
manusia untuk beramal dengan sungguh-sungguh untuk mencapai kehidupan yang
lebih baik dan mengikuti hukum sebab akibat (sunatullah) yang berlaku dan
ditetapkan Allah.
3)
Mendorong
manusia untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah yang kekuasaan-Nya bersifat
mutlak dan kehendak yang mutlak juga, di samping memiliki kebijaksanaan,
keadilan, dan kasih sayang kepada makhluk-Nya.
4)
Menumbuhkan
sikap tawakal dalam diri manusia, karena menyadari bahwa manusia hanya bisa
berusaha dan berdoa sedangkan hasilnya diserahkan kepada Allah sebagai Dzat
yang menciptakan dan mengatur kehidupan manusia.
5) Sikap husnudz-dzan membuat jiwa menjadi tenang
dan tentram, karena menyakini apapun yang terjadi adalah atas kehendak Allah.
Di saat memperoleh kebahagiaan dan nikmat dia segera bersyukur kepada Allah. Dan tidak memiliki kesombongan karena
semuanya itu diperoleh atas izin Allah. Di saat mendapat musibah dan kerugian
akan bersabar karena menyakini
semuanya itu karena kesalahannya sendiri dan karena cobaan dan ujian dari Allah
yang kelak akan mendatangkan kebaikan dan kemaslahatan.
4. Membina Sikap Husnudz-dzan
Dalam
realita kehidupan, cukup banyak manusia yang justru mempunyai pikiran dan keinginan
yang berbeda dengan tuntunan yang benar. Keinginan manusia yang berbeda atau
bertolak belakang dengan kehendak Allah. Manusia cenderung mengikuti hawa
nafsunya dan sering tanpa ia sadari muncul pikiran dan tingkah laku yang
dirasakan benar namun justru tidak dibernarkan dalam agama. Sebagimana contoh
ia mengeluh kepada Allah dengan ucapan
“ya Allah, mengapa saya sudah rajin sholat, tetapi rezki yang kami
harapkan tidak juga kau tunjukkan”, sikap semacam ini akan melahirkan sikap
su’udzan kepada Allah. Karena itu apabila tidak segera dicarikan jalan keluar
dengan cara merubah keinginan manusia untuk disesuaikan dengan kehendak Allah,
maka akan melahirkan malapetaka dalam kehidupan dunia dan akhirat.
Manusia
harus berhusnudzan bahwa Allah hanya memberikan apa yang terbaik bagi
hamba-Nya. Jangan mencari jalan lain yang hanya memuaskan nafsu sesaat, tetapi
melupakan kebenaran yang akan membawa keselamatan. Segala sesuatu yang berasal
dari Allah pasti baik, sekalipun pada saat itu manusia belum dapat mengambil
kebaikan yang ada di dalamnya. Tetapi setelah itu niscaya manusia akan dapat
mengetahui dan merasakan hikmah suatu kejadian. Setiap manusia perlu menyadari,
bahwa tidak semua yang dianggap baik oleh manusia, belum tentu baik di hadapan
Allah. Manusia harus sadar boleh jadi apa yang dibenci adalah baik bagi
dirinya. Manusia terlalu banyak memiliki keterbatasan, termasuk dalam menilai,
memilih, dan menetapkan sesuatu pilihan yang tidak dipikirkan secara mendalam.
Contoh
sebagaimana sikap sebagian orang beriman terhadap perintah sholat. Secara umum
manusia menganggap sholat adalah kewajiban yang cenderung sebagi beban bagi
orang yang beriman dan bukan sebagai kebutuhan. Sehingga banyak di antara
mereka yang menunaikan sholat sekedar menggugurkan kewajiban, itupun terasa
berat, apalagi harus mengerjakan limakali sehari semalam, belum lagi ditambah
sholat-sholat sunnah yang disyariatkan. Dan sedikit orang yang berkeyakinan
bahwa”ibadah sholat selain sebagai kewajiban, kebutuhan juga sebagai peluang
atau “hadiah” yang diberikan oleh Allah kepada orang beriman untuk
berkomunikasi langsung dalam posisi yang sangat dekat”. Dalam sholat itu,
manusia mengajukan berbagai do’a dan permohonan kepada Allah swt. Jadi, sholat
adalah untuk kepentingan dan kemaslahatan manusia, bukan untuk kepentingan
Allah swt. manusia yang membutuhkannya bukan Tuhan yang butuh manusia.
Hendaklah
direnungkan secara sungguh-sungguh bahwa semua hukum dan kewajiban yang
diberikan Allah kepada orang beriman adalah untuk kepentingan manusia itu
sendiri, bukan untuk kepentingan Tuhan. Taat dan berserah dirilah hanya kepada
Allah, dan berhusnudz-dzan kepada-Nya, gantungkan diri dan tundukkan diri hanya
kepada Allah, niscaya Dia akan menolong dan membimbing hamba-Nya ke jalan yang
benar.
6:39 AM
Unknown
Bismillahirrohmanirrohim
(dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang)
(dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang)
1. Tidak ikhlas dalam berdoa.
2. Tidak khusyuk dalam berdoa.
3. Tidak rendah hati dalam berdoa.
4. Tergesa-gesa ketika berdoa.
5. Hati tidak mantap saat berdoa.
6. Tidak berdoa dengan lembut.
7. Tidak diawali dengan membaca Basmala dalam
berdoa.
8. Tidak memuji Allah swt. dalam berdoa.
9. Tidak menghadap Kiblat saat berdoa.
10. Berdoa dalam keadaan Hadats atau tidak suci.
11. Tidak optimis dalam berdoa.
12. Tidak semata-mata mencari ridha Allah swt. dalam
berdoa.
13. Tidak Istiqamah dalam berdoa.
14. Tidak membaca Shalawat dalam berdoa.
15. Masih melakukan dosa.
16. Berdoa pada waktu dan tempat yang salah.
17. Berlebihan ketika berdoa.
18. Tidak bertaubat kepada Allah swt.
19. Tidak sabar.
20. Berdoa buruk.
21. Tidak bertawasul kepada Allah swt.
22. Tidak menghiasi diri dengan hal-hal yang halal.
Tuesday, August 19, 2014
8:14 PM
Unknown
Bismillahirrohmanirrohim
(dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang)
Sebagai arah bagi kita meneladani sifat Allah dalam
Asmaul Husna agar terwujud secara nyata dalam kehidupan sehari-hari, maka pada
bagian ini akan disajikan cara meneladani sifat Allah dalam 10 Asmaul Husna
sebagai berikut:
(dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang)
Sebagai arah bagi kita meneladani sifat Allah dalam
Asmaul Husna agar terwujud secara nyata dalam kehidupan sehari-hari, maka pada
bagian ini akan disajikan cara meneladani sifat Allah dalam 10 Asmaul Husna
sebagai berikut:
·
Al-Muqsith; Agar seorang Mu’min dapat meneladani sifat
Allah Yang Maha Mengadili, maka harus menerapkan prinsip kebenaran dan keadilan
dalam seluruh aspek kehidupan baik di lingkungan keluarga, tetangga,
masyarakat, berbanggsa, dan bernegara. Karena dengan kedua prinsip ini
kehidupan akan berjalan lancar, damai sejahterah dan penuh keberkahan.
·
Al-Warits; Agar seorang Mu’min dapat meneladani sifat
Allah Yang Maha Mewarisi, maka dalam keseluruhan aspek kehidupannya harus mampu
menerapkan prinsip regenerasi, kaderisasi dan pengalihan kepemilikan kepada
orang yang berhak mendapatkannya. Melalui ketiga prinsip tersebut proses
kehidupan yang berjalan secara berkelanjutan dan berkesinambungan.
·
An-Naafi’u; Agar seorang Mu’min dapat meneladani sifat
Allah Yang Maha Pemberi Manfaat, maka dalam keseluruhan aspek kehidupannya
harus menerapkan prinsip manfaat dan berbagi dengan sesama, sehingga akan
mendapatkan kenikmatan yang berlimpah, sebab sebaik-baik manusia adalah yang
bisa memberikan manfaat terhadap sesama.
·
Al-Baasith; Agar seorang Mu’min dapat meneladani sifat
Allah Yang Maha Melapangkan, maka dalam keseluruhan aspek kehidupannya harus
menerapkan prinsip kemudahan, artinya memberikan jalan kemudahan bagi setiap
orang untuk menyelesaikan urusannya. Janji Allah swt. “Barang siapa yang
memberi kemudahan kepada saudaranya, maka ia akan dimudahkan Allah nanti pada
hari kiamat”.
·
Al-Hafiidz; Agar seorang Mu’min dapat meneladani sifat
Allah Yang Maha Menjaga, maka dalam keseluruhan aspek kehidupannya harus
menerapkan prinsip keseimbangan, artinya selalu menjalankan aktifitas yang
memberikan makna terhadap kelangsungan hidup bersama secara berkesinambungan
dan sistemik.
·
Al-Wali; Agar seorang Mu’min dapat meneladani sifat
Allah Yang Maha Melindungi, maka dalam keseluruhan aspek kehidupannya harus
menerapkan prinsip proteksi, artinya menjaga, melindungi, melakukan tindakan
prefentif dan mengamankan segala kemungkinan yang mengganggu roda kehidupan.
·
Al-Waduud; Agar seorang Mu’min dapat meneladani sifat
Allah Yang Maha Pengasih, maka dalam keseluruhan aspek kehidupannya harus
menerapkan prinsip kasih sayang tanpa pilih kasih dan membedakan SARA, karena
semua makhluk memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing yang harus
disikapi secara obyektif.
·
Ar-Roofi’; Agar seorang Mu’min dapat meneladani sifat
Allah Yang Maha Meninggikan, maka dalam keseluruhan aspek kehidupannya harus
menerapkan prinsip mi’raj, artinya menunjukkan grafik perjalanan naik dalam
mendekatkan diri dan menghadap Allah, dengan menjaga amanah Allah yang dapat
dijadikan pedoman dalam kehidupan yang dirahmati dan diridhoi.
·
Al-Mu’izzu; Agar seorang Mu’min dapat meneladani sifat
Allah Yang Maha Memuliakan, maka dalam keseluruhan aspek kehidupannya harus
menerapkan prinsip tahalli, artinya bersungguh-sungguh menghiasi diri dengan
akhlakul karimah untuk mendapatkan kemuliaan di sisi Allah.
·
Al-Afuww; Agar seorang Mu’min dapat meneladani sifat
Allah Yang Maha Pemaaf, maka dalam keseluruhan aspek kehidupannya harus menerapkan
prinsip selalu memberikan maaf kepada sesama dan menyadari dan meninggalkan
kesalahan yang telah dilakukan. Di samping itu prinsip benar dan salah harus
ditonjolkan dalam kehidupan, karena pemahaman terhadap prinsip benar salah akan
menuntun orang untuk berhati-hati meniti jalan kebenaran dan mewaspadai segala
godaan yang menyesatkan. Apabila prinsip benar dan salah dipadomani dalam
kehidupan, maka akan dapat melahirkan sikap kejujuran, keadilan, istiqomah dan
sikap positif yang lain yang akan mengantarkan kesejahteraan hidup manusia di
dunia maupun akhirat.
Subscribe to:
Posts (Atom)
RSS Feed
Twitter





