Saturday, September 6, 2014

Bismillahirrohmanirrohim 
(dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang)

1.      Kaum Tsamud
Setelah kaum ‘Aad dibinasakan oleh Allah dengan angin topan, sehingga mengakibatkan semua manusia yang ingkar bergelimpangan, rumah-rumah dan gedung-gedung hancur berantakan berkeping-keping, binatang-binatang diterbangkan dengan angin topan yang dahsyat. Akhirnya bumi itu menjadi tandus dan gersang. Bangsa itu yang didalam Al-Qur’an disebut kaum Tsamud. Merekalah yang berkuasa diatas bumi yang dikuasai oleh bangsa ‘Aad dahulu itu.
Negeri itu sekarang dirombak dan dibangun kembali sehingga menjadi negeri yang makmur, labih makmur dibandingkan dengan zaman kaum ‘Aad yang sudah musnah itu. Didalamnya penuh dengan kebun-kebun, tanaman yang indah, dengan hasil bumi yang berlipat ganda dan membuat mereka tidak kekurangan sesuatu apapun.

2.      Tempat Tinggal Kaum Tsamud
Tempat tinggal kaum Tsamud adalah lereng-lereng gunung, di bukit-bukit, sebagaimana dinyatakan didalam Al-Qur’an:
Dan kaum Tsamud yang memotong batu-batu besar.” (QS. al-Fajr: 9)

3.      Tuhan-Tuhan Kaum Tsamud
Kehidupan kaum Tsamud ini seperti kehidupan ‘Aad dahulu. Mereka membuat kerusakan dan kesombongan, menonjol-nonjolkan harta kekayaan yang mereka miliki. Mereka mengira bahwa harta kekayaan yang mereka miliki dan yang mereka rasakan adalah untuk selama-lamanya, kesenangan dan kehidupan mereka akan tetap selama-lamanya. Lalu mereka berbuat sekehendaknya menurut hawa nafsunya yang angkara murka, bahkan sampai batu-batu yang tidak berharga itu mereka gunakan sebagai pemujaan dan penyembahan mereka.

4.      Shalih Berda’wah Kepada Kaum Tsamud
Untuk menyampaikan risalah dan menyampaikan ajaran agama kepada kaum Tsamud yang  menyimpang dan menyembah kepada berhala, maka Allah mengutus seorang Nabi yang bernama Shalih dengan penuh kesabaran, Nabi Shalih menyampaikan risalah dan mengajak kepada kaum Tsamud menyembah kepada Allah dan melarang menyembah kepada patung-patung dan berhala-berhala. Sebagaimana firman Allah:
Dan kepada Tsamud (kami utus) saudara mereka Shalih, Shalih berkata:Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia, Dia telah menciptakan kamu dari tanah dan menjadikan kamu kemakmurannya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertaubatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (do’a hambaNya).” (QS. Hud: 61)
Da’wah yang dilakukan oleh Nabi Shalih tidak mendapat sambutan baik dari kaum Tsamud, mereka malah menentang dan mendustakan ajaran agama dan semua apa yang sudah disampaikan oleh Nabi Shalih tidak pernah membekas pada pribadi masing-masing kaum.

5.      Kaum Tsamud Minta Bukti Mu’jizat Kepada Shalih
Banyak tantangan yang dihadapi oleh Nabi Shalih dalam menyampaikan da’wahnya kepada kaumnya, orang-orang yang ingkar dan tidak berimanBanyak tantangan yang dihadapi oleh Nabi Shalih dalam menyampaikan da’wahnya kepada kaumnya, orang-orang yang ingkar dan tidak beriman menentang kepada Nabi Shalih, kalau memang benar-benar Nabi Shalih sebagai seorang Nabi, maka Shalih disuruh menunjukkan mu’jizatnya sebagai bukti seorang Nabi.
Menanggapi permintaan kaumnya tersebut, Nabi Shalih memohon kepada Allah agar diberikan mu’jizat yang dapat ditunjukkan kepada kaumnya.
Mendengar do’a yang dipanjatkan oleh Nabi Shalih tersebut, maka Allh langsung mengabulkan, lalu berfirman kepada Nabi Shalih: Pergilah engkau hai Shalih untuk mendapatkan kaummu, dan katakanlah kepada mereka agar mereka berkumpul diluar kota di kaki gunung yang tampak itu, itu dapat melihat mu’jizat yang mereka kehendaki itu. Dari gunung itu nanti akan muncul seekor onta betina yang luar biasa bagusnya, besar ddan gemuk, yang tidak pernah mereka lihat selama ini.
Setelah tiba saat yang ditunggu-tunggu, maka datanglah onta betina tersebut yang memang betul-betul bagus dan tidak pernah mereka lihat sebelumnya dan dengan tetek yang penuh dengan air susu itu diambil setiap detik, air susu itu tidak akan habis.
Dengan adanya mu’jizat tersebut orang yang beriman akan bertambah imannya, sedangkan orang-orang yang ingkar bukan menjadi iman karenanya sebagaimana perkataan mereka ketika meminta mu’jizat dulu, bahkan mereka bertambah iri hati terhadap Nabi Shalih dan orang-orang yang beriman.

6.      Pembunuhan Onta Mu’jizat Nabi Shalih
Untuk menunjukkan rasa kedengkian dan rsa iri yang terpendam dalam hati kaum Tsamud yang ingkar, maka mereka berencana hendak membunuh onta mu’jizat tersebut, dengan tujuan agar orang-orang beriman menghindar dari Nabi Shalih yang mengajak untuk menyembah kepada Allah dan mengingkari ajaran nenek moyang.
Untuk merangsang agar banyak para pemuda yang mendaftarkan dirinya untuk membunuh onta tersebut, maka dicarikan perempuan cantik yang siap dinikmati segala-galanya sebagai hadiah bagi mereka yang berhasil membunuh onta tersebut. Akhirnya ditemukan seorang perempuan cantik bernama Shaduq binti Mahya akan menyerahkan kehormatannya dengan sepuas-puasnya asalkan pemuda tersebut berhasil membunuh onta tersebut. Dan juga seorang wanita tua keparat mau menyerahkan kehormatan anaknya kepada seorang laki-laki yang bernama Qudar Ibnu Salif, asalkan pemuda itu dapat membinasakan onta dari permukaan bumi.
Dengan langkah tegap dan penuh keyakinan, kedua pemuda tersebut, maka Nabi Shalih berkata: Hai kaumku, kamu benar-benar berbuat dosa, sekarang kamu boleh bersenang-senang dan bergembira 3 hari saja atas kematian onta itu. Sesudah tida hari hujan akan datang, dan hari ini bukanlah perjanjian yang bohong.
Tempo tiga hari yang diberikan kepada mereka oleh Shalih dengan harapan mudah-mudahan mereka insaf, bertaubat dan mau beriman kepada Allah, tatapi sebelum tiba tiga hari mereka orang-orang yang ingkar tersebut bertanya dan menantang kepada Shalih: Percepatlah datangnya siksa yang engkau janjikan itu.
Tidak lama kemudian, mereka merasa ragu dan takut akan datangnya janji Allah itu, maka mereka berencana akan membunuh kepada Nabi Shalih pada malam itu juga, karena menurut anggapan mereka dengan terbunuhnya Nabi Shalih, siksa itu tidak akan datang. Tatapi sebelum rencana mereka membunuh Nabi Shalih terlaksana, Allah sudah menurunkan adzab kepada mereka yang ingkar berupa sambaran petir yang sangat dahsyat sekali yang menghancurkan rumah-rumah, gedung-gedung dan bukit-bukit yang dipergunakan sebagai benteng mereka. Sebagaimana firman Allah:
Maka mereka berlaku angkuh terhadap perintah Tuhannya lalu mereka disambar petir sedang mereka melihatnya.” (QS. Adz Dzariyat: 44)
Dan firman yang lainnya:
Karena itu mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergeimpangan di tempat-tempat mereka.” (QS. al-A’raf: 78)
Bismillahirrohmanirrohim 
(dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang)

Berdoa acara cara kita untuk meminta kepada Allah
1.      Beriman kepada Allah swt., tetapi tidak menunaikan berbagai perintah-Nya.
2.      Beriman kepada Rasulullah saw., tetapi menentang sunnahnya.
3.      Membaca Al-Qur’an, tetapi tidak mengamalkannya, bahkan menentang ayat-ayat-Nya.
4.      Takut kepada neraka, tetapi selalu melakukan kemaksiatan.
5.      Menginginkan surga, tetapi melakukan hal-hal yang menjauhkan darinya.
6.      Merasakan nikmat Allah swt., tetapi tidak mau mensyukurinya.
7.      Bersahabat dengan setan.
8.      Selalu mencela atau menjelekkan orang lain.
Bismillahirrohmanirrohim 
(dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang)

1.      Kaum ‘Aad
Setelah waktu berjalan cukup lama, kaumnya Nabi Nuh yang beriman telah melahirkan keturunan yang banyak, ini berarti menambah jumlah penduduk yang beriman. Setelah melahirkan keturunan yang banyak, mereka hidup berpencar-pencar diberbagai pelosok yang bersuku-suku, dan satu sama lain tidak saling kenal mengenal. Masing-masing golongan berkembang dengan adatnya masing-masing.
Kehidupan yang berbeda-beda ini menimbulkan hilangnya rasa kesetiakawanan, rasasaling tolong menolong dan hidup saling bergotong royong. Lama kelamaan ajaran yang pernah dibawa oleh Nabi Nuh menjadi hilag dan kehidupan masayarakat yang semakin rusak, karena mereka sudah tidak beriman dan melupakan ajaran agama yang dibawa oleh Nabi Nuh.
Diantara kaum yang sering berbuat kejahatan dan kerusakan adalah suatu kaum yang tersohor yaitu kaum ‘Aad. Kaum ‘Aad adalah satu kaum yang paling durhaka di zaman itu, yang hidupnya di Negeri Ahqaf, antara Yaman dan Uman.
Menurut sejarah, kaum itu menyembah kepada berhala Shada, Shamud dan Al Haba, setiap hari mereka bukan lagi menyembah kepada Allah, tetapi menyembah kepada berhala-berhala yang mereka buat sendiri.

2.      Hud Mengajak Kaumnya ‘Aad untuk Menyembah Kepada Allah
Menghadapi kaum ‘Aad yang semakin rusak dan berbuat kejahatan dimuka bumi ini, maka Allah mengutus Hud untuk menyampaikan risalah dan mau menyembah kepada Allah dan meninggalkan menyembah kepada berhala. Sebagaimana firman Allah:
Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum ‘Aad saudara mereka (Hud). Ia berkata: Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain diriNya. Maka mengapa kamu tidak bertaqwa kepadaNya.” (QS. al-A’raf: 65)
Tugas pokok yang diemban oleh Nabi Hud adalah untuk menyampaikan risalah kepada kaum ‘Aad dengan mengajarkan beberapa pelajaran dan menunjukkan Tuhan sebenarnya yang patut disembah dan dimintai pertolongan, dan Nabi Hud juga mempunyai tugas untuk memberantas orang-orang yang senang menyembah kepada berhala. Sebagaimana firman Allah:
Dan ingatlah (Hud) saudara kaum ‘Aad yaitu ketika dia diberi peringatan pada kaumnya di Al Ahqaf dan sesungguhnya telah terdahulu beberapa orang pemberi peringatan sebelumnya dan sesudahnya (dengan mengatakan): Janganlah kamu menyembah selain Allah, sesungguhnya aku khawatir kalian ditimpa adzab hari yang besar.” (QS. al-Ahqaf: 21)
Usaha yang dilakukan oleh Hud untuk menyampaikan risalah tidak membuahkan hasil yang mengembirakan, malah mereka semakin sombong dan congkak dan tidak pernah menghiraukan nasehat dan ajaran agama yang dibawa oleh Hud, bahkan mereka berani mengutuk Hud sebagai orang yang bodoh. Sebagai balsasan kepada kaum ‘Aad yang menyombongkan diri tersebut, Allah menurunkan adzab yang pedih berupa musim kemarau yang berkepanjangan selama tiga tahun, dan selama masa tersebut Allah tidak menurunkan air sedikitpun.
Dalam keadaaan yang sangat megerikan tersebut, Hud masih sempat memberikan nasehat kepada kaumnya agar berdo’a kepada Tuhan dan memohon ampunan atas dosa-dosa yang pernah mereka lakukan, kemudian bertaubat kepada Tuhan.
Dan sesudah dilanda musim kemarau berkepanjangan begitu mengerikan, lalu Allah menurunkan lagi adzab yang lebih dahsyat berupa angin kencang selama tujuh malam dan delapan hari, angin tersebut dapat
membinasakan binatang-binatang ternak yang berkeliaran di padang pasir. Sebagaimana firman Allah:
Dan juga pada (kisah) ‘Aad ketika kami kirimkan kepada mereka angin yang membinasakan, angin itu tidak membiarkan sesuatupun yang dilandanya, melainkan dijadikannya seperti serbuk.” (QS. Adz Dzariyat: 41-42)
Mengingat negeri baru dilanda adzab Allah itu rusak, maka Hud dan para pengikutnya yang beriman pindah ke Hadlaralmaut Mekkah, dan ia tinggal disana dan tidak lama kemudian ia wafat dan dikuburkan di sana pula.
Bismillahirrohmanirrohim 
(dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang)

Penanaman Tanaman Bakau di Pantai
            Sumber daya alam biasa disingkat dengan SDA adalah segala sesuatu yang muncul secara alami yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Sumber daya alam meliputi komponen biotik seperti hewan, tumbuhan, dan mikroorganisme serta komponen abiotik seperti minyak bumi, gas alam, air, tanah, dan cahaya matahari.
            Pada umumnya sumber daya alam berdasarkan sifatnya digolongkan menjadi sumber daya alam yang dapat diperbarui dan sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui. SDA yang dapat diperbarui adalah kekayaan alam yang dapat terus tersedia selama penggunaannya tidak berlebihan, misalnya tumbuhan, hewan, air, dan cahaya matahari. SDA yang tidak dapat diperbarui adalah SDA yang jumlahnya terbatas karena penggunaannya lebih cepat daripada proses pembentukannya sehingga jika digunakan terus-menerus akan habis. SDA yang tidak dapat diperbarui antara lain minyak bumi dan batu bara.
            Peningkatan populasi manusia dan inovasi teknologi telah membawa manusia pada era eksploitasi sumber daya alam sehingga persediaannya semakin terbatas. Jika ekploitasi berlangsung terus-menerus SDA lama-kelamaan akan habis. Oleh karena itu, diperlukan upaya-upaya pelestarian sumber daya alam seperti berikut.
1.      Memanfaatkan sumber daya alam yang dapat diperbarui secara hati-hati dan efisien, misalnya air, tanah, dan udara.
2.      Melakukan strategi konservasi untuk melestarikan sumber daya alam berupa tumbuhan dan hewan, mislanya mendirikan suaka margasatwa dan cagar alam.
3.      Mengembangkan metode penambangan dan pemrosesan yang lebih efisien serta dapat didaur ulang.
4.      Melaksanakan etika lingkungan dengan menjaga kelestarian alam.
Bismillahirrohmanirrohim 
(dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang)

1.      Pengertian Husnudz-dzan
Secara bahasa husnudz-dzan berasal dari dua kata yaitu “husnu” (baik) dan “dzanni” (sangka), dengan demikian kata tersebut memiliki arti berbaik sangka. Secara istilah husnudzan diartikan berbaik sangka terhadap segala ketentuan dan ketetapan Allah yang diberikan kepada manusia.

2.      Kriteria Husnudz-dzan
Diantara bacaan yang diajarkan Nabi saw. kepada kita ialah tasbih, yaitu ucapan “Subhanallah” (Maha Suci Allah). Maksudnya ialah, bahwa Allah Maha Suci atau Maha Bebas dari setiap pikiran manusia yang negatif mengenai Dia. Misalnya, dalam Al-Qur’an dilukiskan bahwa orang-orang yang mempunyai ilmu yang dalam (ulu al-albab) selalu ingat kepada Allah setiap saat (ketika berdiri, duduk, maupun berbaring) dan sekaligus memperhatikan serta merenungkan kejadian alam raya. Karena perhatian dan renungannya yang mendalam itu, orang tersebut samapi kepada seruan kesimpulan:”Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan alam raya ini secara sia-sia (bathil), Maha Suci Engkau! Maka hindarkanlah kami dari siksa neraka” ( surat Ali-Imron: 191).
Seorang yang mempunyai ilmu yang dalam (ulu al-albab) itu me-Maha sucikan Allah dari kemungkinan menciptakan alam ini sia-sia. Dan apabila ada orang yang mengatakan bahwa Allah menciptakan alam ini sia-sia, tanpa makna maka pikiran negatif tentang Tuhan, maka ucapan “Maha Suci Engkau” adalah juga berarti me-Mahasucikan Allah dari setiap gambaran atau pikiran negatif tentang Dia. Implikasinya ialah, bahwa justru seorang Mu’min dengan ucapan Subhanallah itu, berusaha membebaskan dirinya dari setiap pikiran negatif tentang Tuhan.
Oleh karena itu, rantai untaian kalimat tasbih ialah tahmid, yaitu bacaan alhamdulillah (segala puji bagi Allah). Bacaan ini mengandung makna penegasan setiap mu’min jangan sampai berpikir negatif tentang Tuhan, bahkan sebaiknya harus selalu berpikir positif tentang Dia. Dengan memuji syukur kepada Allah atas segala sesuatu yang telah dianugerahkan pada manusia, akan mendidiknya untuk selalu mempunyai pandangan yang penuh apresiasi dan rasa optimis kepada Allah atas segala takdir-Nya. Dengan memahami dan meresapkan makna tasbih, kemudian diiringi dan digandeng dengan tahmid, maka akan dapat menanamkan dalam jiwa sikap yang positif, optimis, dan penuh harapan kepada Allah bagi masa depan.
Ucapan tasbih dan tahmid adalah dapat menjadi sumber kekuatan rohani dalam menghadapi hidup ini. Dengan pandangan yang positif dan optimis kepada Allah, seorang mu’min memperoleh sumber energi dan kegairahan hidup ini pada akhirnya akan membuat lebih mampu mengatasi problema kehidupan. Karena itu, iman kepada Allah membuat seseorang akan menjadi tabah, dan tidak mudah patah semangat dalam perjalanan hidup ini.
Maka tasbih dan tahmid itu berlangsung dikaitkan pula dengan takbir, yaitu ucapan Allahuakbar (Allah Maha Besar). Dengan ucapan itu, sebgaimana sudah banyak dipahami orang, akan menanamkan tekad untuk mengarungi lautan hidup ini. Seolah-olah hendak menyatakan: semua halangan, betapapun besarnya, dapat diatasi dengan hidayah dan inayah Allah Yang Maha Besar. Inilah antara lain janji Allah “Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mebukakan jalan keluar baginya.” (Q.S. at-Talaq: 2).

3.      Nilai Positif Husnudz-dzan
1)      Melahirkan kesadaran bagi manusia, bahwa segala sesuatu di alam semesta ini berjalan sesuai dengan aturan dan hukum yang telah ditetapkan dengan pasti oleh Allah. Oleh karena itu manusia harus memperlajari, meneliti, merenungkan, memahami, dan mematuhi ketetapan Allah, supaya dapat mencapai keberhasilan baik di dunia maupun di akhirat.
2)      Mendorong manusia untuk beramal dengan sungguh-sungguh untuk mencapai kehidupan yang lebih baik dan mengikuti hukum sebab akibat (sunatullah) yang berlaku dan ditetapkan Allah.
3)      Mendorong manusia untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah yang kekuasaan-Nya bersifat mutlak dan kehendak yang mutlak juga, di samping memiliki kebijaksanaan, keadilan, dan kasih sayang kepada makhluk-Nya.
4)      Menumbuhkan sikap tawakal dalam diri manusia, karena menyadari bahwa manusia hanya bisa berusaha dan berdoa sedangkan hasilnya diserahkan kepada Allah sebagai Dzat yang menciptakan dan mengatur kehidupan manusia.
5)      Sikap husnudz-dzan membuat jiwa menjadi tenang dan tentram, karena menyakini apapun yang terjadi adalah atas kehendak Allah. Di saat memperoleh kebahagiaan dan nikmat dia segera bersyukur kepada Allah. Dan tidak memiliki kesombongan karena semuanya itu diperoleh atas izin Allah. Di saat mendapat musibah dan kerugian akan bersabar karena menyakini semuanya itu karena kesalahannya sendiri dan karena cobaan dan ujian dari Allah yang kelak akan mendatangkan kebaikan dan kemaslahatan.

4.      Membina Sikap Husnudz-dzan
Dalam realita kehidupan, cukup banyak manusia yang justru mempunyai pikiran dan keinginan yang berbeda dengan tuntunan yang benar. Keinginan manusia yang berbeda atau bertolak belakang dengan kehendak Allah. Manusia cenderung mengikuti hawa nafsunya dan sering tanpa ia sadari muncul pikiran dan tingkah laku yang dirasakan benar namun justru tidak dibernarkan dalam agama. Sebagimana contoh ia mengeluh kepada Allah dengan ucapan  “ya Allah, mengapa saya sudah rajin sholat, tetapi rezki yang kami harapkan tidak juga kau tunjukkan”, sikap semacam ini akan melahirkan sikap su’udzan kepada Allah. Karena itu apabila tidak segera dicarikan jalan keluar dengan cara merubah keinginan manusia untuk disesuaikan dengan kehendak Allah, maka akan melahirkan malapetaka dalam kehidupan dunia dan akhirat.
Manusia harus berhusnudzan bahwa Allah hanya memberikan apa yang terbaik bagi hamba-Nya. Jangan mencari jalan lain yang hanya memuaskan nafsu sesaat, tetapi melupakan kebenaran yang akan membawa keselamatan. Segala sesuatu yang berasal dari Allah pasti baik, sekalipun pada saat itu manusia belum dapat mengambil kebaikan yang ada di dalamnya. Tetapi setelah itu niscaya manusia akan dapat mengetahui dan merasakan hikmah suatu kejadian. Setiap manusia perlu menyadari, bahwa tidak semua yang dianggap baik oleh manusia, belum tentu baik di hadapan Allah. Manusia harus sadar boleh jadi apa yang dibenci adalah baik bagi dirinya. Manusia terlalu banyak memiliki keterbatasan, termasuk dalam menilai, memilih, dan menetapkan sesuatu pilihan yang tidak dipikirkan secara mendalam.
Contoh sebagaimana sikap sebagian orang beriman terhadap perintah sholat. Secara umum manusia menganggap sholat adalah kewajiban yang cenderung sebagi beban bagi orang yang beriman dan bukan sebagai kebutuhan. Sehingga banyak di antara mereka yang menunaikan sholat sekedar menggugurkan kewajiban, itupun terasa berat, apalagi harus mengerjakan limakali sehari semalam, belum lagi ditambah sholat-sholat sunnah yang disyariatkan. Dan sedikit orang yang berkeyakinan bahwa”ibadah sholat selain sebagai kewajiban, kebutuhan juga sebagai peluang atau “hadiah” yang diberikan oleh Allah kepada orang beriman untuk berkomunikasi langsung dalam posisi yang sangat dekat”. Dalam sholat itu, manusia mengajukan berbagai do’a dan permohonan kepada Allah swt. Jadi, sholat adalah untuk kepentingan dan kemaslahatan manusia, bukan untuk kepentingan Allah swt. manusia yang membutuhkannya bukan Tuhan yang butuh manusia.
Hendaklah direnungkan secara sungguh-sungguh bahwa semua hukum dan kewajiban yang diberikan Allah kepada orang beriman adalah untuk kepentingan manusia itu sendiri, bukan untuk kepentingan Tuhan. Taat dan berserah dirilah hanya kepada Allah, dan berhusnudz-dzan kepada-Nya, gantungkan diri dan tundukkan diri hanya kepada Allah, niscaya Dia akan menolong dan membimbing hamba-Nya ke jalan yang benar.
Bismillahirrohmanirrohim 
(dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang)


1.      Tidak ikhlas dalam berdoa.
2.      Tidak khusyuk dalam berdoa.
3.      Tidak rendah hati dalam berdoa.
4.      Tergesa-gesa ketika berdoa.
5.      Hati tidak mantap saat berdoa.
6.      Tidak berdoa dengan lembut.
7.      Tidak diawali dengan membaca Basmala dalam berdoa.
8.      Tidak memuji Allah swt. dalam berdoa.
9.      Tidak menghadap Kiblat saat berdoa.
10.  Berdoa dalam keadaan Hadats atau tidak suci.
11.  Tidak optimis dalam berdoa.
12.  Tidak semata-mata mencari ridha Allah swt. dalam berdoa.
13.  Tidak Istiqamah dalam berdoa.
14.  Tidak membaca Shalawat dalam berdoa.
15.  Masih melakukan dosa.
16.  Berdoa pada waktu dan tempat yang salah.
17.  Berlebihan ketika berdoa.
18.  Tidak bertaubat kepada Allah swt.
19.  Tidak sabar.
20.  Berdoa buruk.
21.  Tidak bertawasul kepada Allah swt.
22.  Tidak menghiasi diri dengan hal-hal yang halal.

Tuesday, August 19, 2014

Bismillahirrohmanirrohim 
(dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang)

 Sebagai arah bagi kita meneladani sifat Allah dalam Asmaul Husna agar terwujud secara nyata dalam kehidupan sehari-hari, maka pada bagian ini akan disajikan cara meneladani sifat Allah dalam 10 Asmaul Husna sebagai berikut:
   ·         Al-Muqsith; Agar seorang Mu’min dapat meneladani sifat Allah Yang Maha Mengadili, maka harus menerapkan prinsip kebenaran dan keadilan dalam seluruh aspek kehidupan baik di lingkungan keluarga, tetangga, masyarakat, berbanggsa, dan bernegara. Karena dengan kedua prinsip ini kehidupan akan berjalan lancar, damai sejahterah dan penuh keberkahan.
   ·         Al-Warits; Agar seorang Mu’min dapat meneladani sifat Allah Yang Maha Mewarisi, maka dalam keseluruhan aspek kehidupannya harus mampu menerapkan prinsip regenerasi, kaderisasi dan pengalihan kepemilikan kepada orang yang berhak mendapatkannya. Melalui ketiga prinsip tersebut proses kehidupan yang berjalan secara berkelanjutan dan berkesinambungan.
·         An-Naafi’u; Agar seorang Mu’min dapat meneladani sifat Allah Yang Maha Pemberi Manfaat, maka dalam keseluruhan aspek kehidupannya harus menerapkan prinsip manfaat dan berbagi dengan sesama, sehingga akan mendapatkan kenikmatan yang berlimpah, sebab sebaik-baik manusia adalah yang bisa memberikan manfaat terhadap sesama.
·         Al-Baasith; Agar seorang Mu’min dapat meneladani sifat Allah Yang Maha Melapangkan, maka dalam keseluruhan aspek kehidupannya harus menerapkan prinsip kemudahan, artinya memberikan jalan kemudahan bagi setiap orang untuk menyelesaikan urusannya. Janji Allah swt. “Barang siapa yang memberi kemudahan kepada saudaranya, maka ia akan dimudahkan Allah nanti pada hari kiamat”.
·         Al-Hafiidz; Agar seorang Mu’min dapat meneladani sifat Allah Yang Maha Menjaga, maka dalam keseluruhan aspek kehidupannya harus menerapkan prinsip keseimbangan, artinya selalu menjalankan aktifitas yang memberikan makna terhadap kelangsungan hidup bersama secara berkesinambungan dan sistemik.
·         Al-Wali; Agar seorang Mu’min dapat meneladani sifat Allah Yang Maha Melindungi, maka dalam keseluruhan aspek kehidupannya harus menerapkan prinsip proteksi, artinya menjaga, melindungi, melakukan tindakan prefentif dan mengamankan segala kemungkinan yang mengganggu roda kehidupan.
·         Al-Waduud; Agar seorang Mu’min dapat meneladani sifat Allah Yang Maha Pengasih, maka dalam keseluruhan aspek kehidupannya harus menerapkan prinsip kasih sayang tanpa pilih kasih dan membedakan SARA, karena semua makhluk memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing yang harus disikapi secara obyektif.
·         Ar-Roofi’; Agar seorang Mu’min dapat meneladani sifat Allah Yang Maha Meninggikan, maka dalam keseluruhan aspek kehidupannya harus menerapkan prinsip mi’raj, artinya menunjukkan grafik perjalanan naik dalam mendekatkan diri dan menghadap Allah, dengan menjaga amanah Allah yang dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan yang dirahmati dan diridhoi.
·         Al-Mu’izzu; Agar seorang Mu’min dapat meneladani sifat Allah Yang Maha Memuliakan, maka dalam keseluruhan aspek kehidupannya harus menerapkan prinsip tahalli, artinya bersungguh-sungguh menghiasi diri dengan akhlakul karimah untuk mendapatkan kemuliaan di sisi Allah.
·         Al-Afuww; Agar seorang Mu’min dapat meneladani sifat Allah Yang Maha Pemaaf, maka dalam keseluruhan aspek kehidupannya harus menerapkan prinsip selalu memberikan maaf kepada sesama dan menyadari dan meninggalkan kesalahan yang telah dilakukan. Di samping itu prinsip benar dan salah harus ditonjolkan dalam kehidupan, karena pemahaman terhadap prinsip benar salah akan menuntun orang untuk berhati-hati meniti jalan kebenaran dan mewaspadai segala godaan yang menyesatkan. Apabila prinsip benar dan salah dipadomani dalam kehidupan, maka akan dapat melahirkan sikap kejujuran, keadilan, istiqomah dan sikap positif yang lain yang akan mengantarkan kesejahteraan hidup manusia di dunia maupun akhirat.