Wednesday, January 28, 2015

1.      Kaum Madyan

Madyan adalah termasuk negeri Arab, penduduknya berkebangsaan Arab. Kepada kaum Madyan inilah Syu’aib menyebarkan risalah Allah untuk disampaikan kepada mereka
Letak perkampungan Madyan di daerah Mi’an yang berada antara Syam dan Hijaz dan dekat dengan danau Luth, penduduk Madyan mempunyai mata pencaharian berdagang.
2.      Kesesatan Kaum Madyan
Penduduk Madyan mempunyai kebiasaan menyembah kepada berhala dan benda lain yang mereka anggap mempunyai kekuatan gaib, sehingga mereka melupakan Allah dan tidak pernah menyembah kepada Allah. Disamping itu kaum Madyan juga senang berbuat curang dan mengurangi takaran dalam jual beli.
Ditengah-tengah kerusakan masyarakat itulah, maka Allah mengutus seorang Rasul untuk menyampaikan risalah kepada penduduk Madyan agar mereka kembali ke jalan yang lurus, jalan yang benar dan jalan yang dapat memperbaiki nasib merek. Utusan tersebut bernama Syu’aib. Dengan berbekal Mu’jizat yang diberikan oleh Allah , Syu’aib terjun ke tengah-tengah masyarakat. Sebagaimana firman Allah:
Dan kepada (penduduk) Madyan (Kami utus) saudara mereka Syu’aib, ia berkata: Hai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tiada Tuhan bagimu selain Dia. Dan janganlah kamu mengurangi takaran dan timbangan, sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan yang baik (mampu) dan sesungguhnya aku khawatir terhadapmu atas adzab dari yang membinasakan (kiamat). Dan Syu’aib berkata: Hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu membuat kejahatan dimuka bumi dengan membuat kerusakan. Sisa (keuntungan) dari Allah adalah lebih baik bagimu, jika kamu orang-orang yang beriman. Dan aku bukanlah seorang penjaga atas dirimu.” (QS. Hud: 84-86)
3.      Celaan Terhadap Nabi Syu’aib
Penjuangan Syu’aib untuk menyampaikan risalah Allah kepada kaumnya mendapat tantangan yang keras dari kaumnya. Syu’aib diejek dan dihina oleh kaumnya yang tidak mau menyembah kepada Allah dan tidak mau mengeluarkan sebagian harta untuk kepentingan agama Allah. Padahal usaha Syu’aib untuk menyampaikan risalah tersebut tidak untuk menyesatkan mereka, tapi semata-mata untuk memberi petunjuk kepada mereka dan menunjukkan kepada mereka ke jalan lurus yang nanti dapat menyelamatkan mereka.
Ditengah-tengah Syu’aib menyampaikan risalah, Syu’aib juga memberi peringatan kepada mereka dengan perkataan: Hai kaumku janganlah kalian berlarut-larut dalam kekufuran , dan ikutilah nasehat-nasehat yang ku sampaikan kepada kalian, sebab aku khawatir kalau kalian akan ditimpa musibah seperti yang ditimpahkan kepada kaum Nuh, Hud, Sholih, yang mana sebab kehancurannya seperti kalian ini. Oleh sebab itulah ambilah pelajaran dari mereka sehingga kamu tidak tertimpa musibah seperti yang mereka derita, dan mohon ampunlah kepada Allah atas dosa-dosa yang sudah kalian lakukan. Kembalilah ke jalan Allah dengan penuh penyesalan. Sesungguhnya Allah itu Maha Penyayang dan Pengampun kepada hamba-hambaNya yang bertaubat.
4.      Ancaman Terhadap Nabi Syu’aib
Walaupun dengan usaha yang keras, Syu’aib menyampaikan nasehat, ancaman, peringatan dengan memberi contoh adzab Allah yang pernah menimpah umat-umat sebelum mereka, namun mereka tidak pernah menhiraukan sama sekali, malah kaumnya itu menentang dan mengancam Nabi Syu’aib dan orang yan beriman  kepada Allah diusir dari kampung halamannya, kecuali jika Syu’aib dan kaumnya kembali kepada agama nenek moyang mereka.
Atas ancaman kaumnya tersebut, Syu’aib mengatakan: Apakah kami harus kembali kepada ajaran-ajaran agama kalian yang kami benci karena kerusakan ajaran itu? Tidak mungkin kami kembali kepada agama kalian, yang berarti kami berbohong kepada Allah. Padahal Dia sudah memberi petunjuk jalan yang benar. Sebagaimana firman Allah:
Mereka berkata: Hai Syu’aib kami tidak banyak mengerti tentang apa yang kamu katakan itu dan sesungguhnya kami melihat benar-benar kamu seorang yang lemah diantara kami, kalau tidaklah karena keluargamu tentulah kami telah merajam kamu. Sedangkan kamu bukanlah seorang yang berwibawa disis kami.
Syu’aib menjawab: Hai kaumku, apakah keluargakulebih terhormat menurut pandanganmu daripada Allah, sedang Dia kamu jadikan (sebagai) sesuatu yang terbuang dibelakangmu? Sesungguhnya Tuhanku (Pengetahuannya) meliputi apa yang kamu kerjakan.” (QS. Hud: 91-92)
5.      Kebinasaan Kum Madyan
Sebagai balasan atas kekufuran dan keingkaran kaum Madyan, maka Allah memberikan adzab berupa sambaran petir diiringi dengan gempa bumi yang dahsyat sehingga mereka mati bergelimpangan dan jungkir balik. Sedang Nabi Syu’aib dan pengikut-pengikutnya yang beriman diselamatkan oleh Allah.
Melihat kehancuran kaumnya yang tragis, nabi Syu’aib berpaling dan meninggalkan kaumnya. Sebagaimana firman Allah:
Dan tatkala datang adzab Kami, Kami selamatkan Syu’aib dan orang-orang yang beriman bersama-sama dengan dia dengan rahmat yang besar dari Kami, tetapi orang-orang yang dzalim dibinasakan oleh satu suara yang mengguntur, hingga ereka mati bergelimpangan di rumahnya.
Seolah-olah mereka belum pernah berdiam di tempat itu, ingatlah, kebinasaan bagi penduduk Madyan sebagaimana kaum Tsamud telah binasa.” (QS. Hud: 94-95)
Dan didalam surat yang lain:
Kemudian Syu’aib meninggalkan mereka seraya berkata: Hai kaumku, sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat-amanat Tuhanku dan aku telah memberikan nasehat kepadamu. Maka bagaimana aku akan bersedih hati terhadap orang-orang kafir.” (QS. Al A’raf: 93)
6.      Syu’aib Berda’wah Kepada Kaum Ashabul Aikah
Setelah Allah membinsakan kaum Madyan dan menyelamatkan nabi Syu’aib dan para pengikutnya, lalu Allah mengutus Syu’aib untuk menyampaikan da’wah kepada Ashabul Aikah yang terletak di dekat Madyan. Di daerah itu dihuni oleh orang-orang yang hidupnya sama dengan penduduk Madyan, yang selalu mengumbar hawa nafsu dan selalu berlaku maksiat
Setelah Syu’aib datang di tengah-tengah penduduk Ashabul Aikah, Syu’aib mengajak kepada mereka agar beriman kepada Allah, berlaku jujur, berbuat adil dan tidak mengurangi timbangan serta tidak boleh berbuat yangmenyebabkan kerusakan.
Nasehat yang disampaikan oleh Syu’aib tersebut tidak dihiraukan sama sekali oleh mereka, malah mereka membantah: Engkau adalah seorang yang terkena sihir sehingga bisa berkata demikian. Sekarang kalau benar-enar kamu diutus Allah, coba datangkan kepada kami siksa dari langit.
Syu’aib menjawab: Sesungguhnya Tuhanku Maha Mengetahui maksiat yang kalian lakukan dan siksa yang patut menimpa pada saat yang ditentukan.
Karena kaum Ashabul Aikah terus membohongi ajaran yang dibawah Ayu’aib, maka Allah menurunkan siksa berupa hawa yang sangat panas yang menyesakkan nafas mereka, sehingga mereka keluar mencari tempat yang luas, agar mendapatkan udara yang segar.

Tiba-tiba tak diduga-duga datang awan yang menaungi, sehingga daengan ramai dan gembira mereka berkumpul dibawah awan tersebut. Tiba-tiba datanglah angin kencang melemparkan mereka, dibarengi dengan awan hitam pekat dan guntur yang menghancurkan. Hari itu merupakan adzab yang dahsyat dan mengerikan.

0 comments:

Post a Comment