Monday, September 22, 2014

Bismillahirrohmanirrohim 
(dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang)

1.      Pengertian Riya’
Riya' adalah salah satu sifat tercela
yang harus di hindari
Riya’ berasal dari bahasa arab “Ri’aun atau Riya’” yang artinya memperlihatkan. Dan kata kerjanya adalah “Ara atau Yuri” (memperlihatkan) dan “Ari” (perlihatkan). Kata ini diulang berpuluh-puluh kali dalam Al-Qur’sn. Seperti firman Allah:
Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasa si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (Q.S. al-Baqarah: 264)
Diriwayatkan dalam salah satu hadits bahwa Rasulullah bersabda:
“Sesungguhnya yang paling ku takuti atas kamu adalah syirik kecil.” Sahabat bertanya, “apa syirik kecil itu ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “itulah riya. Di hari kiamat nanti Allah akan berkata kepada mereka: “Pergilah kamu kepada orang-orang yang menyebabkan kamu bermal ingin dipujinya. Mintalah balasan padanya.”” (H.R. Ahmad no. 22528)
Adapun menurut istilah Riya’ adalah melakukan sesuatu karena ingin dilihat atau ingin dipuji orang lain.

2.      Meluruskan Pamrih
Tidak seorangpun dari manusia yang berhak menganggap dirinya bebas dari rasa pamrih. Merurut para ahli jiwa mempunyai cara yang cukup handal untuk mengorek isi hati orang sehingga diketahui apakah orang itu mempunyai rasa pemrih dalam berbagai tindakanya atau tidak. Sebab, seringkali sesungguhnya keinginan untuk dilihat atau didengar orang itulah yang menjadi pendorong kita untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Dengan kata lain, kita sebenarnya belum tentu bertindak demi nilai lain yang ada di luar tindakan kita sendiri. Karena itulah kepamrihan menjadi lawan keikhlasan.
Jika pamrih kita ialah keinginan untuk “dilihat” orang, dalam istilah keagamaan ialah riya’. Dan jika untuk “didengar” orang, misalnya agar nama menjadi terkenal, dalam istilahnya adalah sum’ah. Baik riya’ atau sum’ah, kedua-duanya adalah sama yaitu dari jenis kemunafikan. Karena keduanya mengandung semangat bahwa kita berbuat tidak untuk tujuan sesungguhnya seperti kita katakan atau kesankan pada orang lain, melainkan untuk tujuan lain yang kita sembunyikan, yang nilai tujuan itu tidaklah terlalu mulia, jadi kita tidak tulus dalam amal perbuatan yang kita lakukan.
Oleh karena itu, dalam Al-Qur’an diisyaratkan bahwa, keinginan seseorang untuk mendapatkan pujian orang lain atas sesuatu yang sebenarnya tidak dia kerjakan adalah suatu bentuk sikap menolak kebenaran. Sedangkan sikap menolak kebenaran, merupakan bagian dari kekufuran. Bahkan, karena pamrih itu megandung arti mengalihkan tujuan yang sebenarnya sebuah perbuatan kepada tujuan yang lain, atau membagi tujuan yang semestinya secara tulus hanya untuk rida Allah dengan tujuan selain dari pada-Nya, maka pamrih juga mengandung unsur syirik.
Janganlah sekali-kali kamu menyangka, bahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan janganlah kamu menyangka bahwa mereka terlepas dari siksa, dan bagi mereka siksa yang pedih.” (Q.S. ali-Imron: 188)
Karena itu, dalam Rasulullah berpesan dalam sebuah hadits yang terkenal “sesungguhnya yang paling aku kuatirkan terjadi padamu ialah syirik kecil, yaitu pamrih.” Hadits ini seolah-olah Rasulullah hendak menegaskan bahwa, mungkin kita tidak lagi menyembah berhala, karena sudah jelas kepalsuannya yang mudah dikontrol. Tapi yang sulit ialah bagaimana berteguh hati dalam tujuan perbuatan kita hanya kepada Allah demi menggapai ridha-Nya. Sebab semua orang kiranya merasakan betapa mudahnya dan tanpa terasa menyelinap ke dalam lubuk hati  kita berkeinginan untuk dilihat, didengar, dan dipuji orang lain.
Soal seseorang mendapat pujian dari orang lain, asalkan dengan cara yang wajar dan beralasan, tentulah masih dibenarkan. Ini dijelaskan dalam firman Allah, “Dan katakan, “Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mu’min,...”” (Q.S. at-Taubah: 105). Dan sesuatu yang akan “dilihat” itu berdasarkan kerja atau prestasi, yang memang akan menjadi inti kualitas setiap orang. “Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah mereka usahakannya,” (Q.S. al-Najm: 39). Tetapi yang menjadi persoalan ialah jika kita kehilangan kesejatian dan ketulusan dalam amal perbuatan kita, karena menyelinap dalam hati kita berkeinginan mendapat pujian orang lain. Dalam keadaan demikian kita tidak akan mendapatkan apa-apa dari amal-perbuatan kita. Maka untuk menjadi tulus dan sejati itu kita harus berjuang terus-menerus (mujahadah) melawan kecenderungan tak benar dari diri kita sendiri. Sebanding  dengan kesungguhan itulah kita ingat kepada Allah untuk mendapatkan pahala.

3.      Riya’ Merusak Amal Perbuatan
Riya’ adalah tak ubahnya seperti penyakit ganas dapat menghanguskan apa saja yang dihinggapi. Riya’ menjadikan semua amal kebaikan menjadi ringan dan kosong. Bedasarkan pendapat jumhur ulama sesungguhnya riya’ membatalkan amal perbuatan. Barang siapa yang riya’ di dalam sholat, puasa, riya’ di dalam berdoa dan riya’ di dalam melakukan amal kebajikan, maka batal amal perbuatannya. Di samping menyebabkan batalnya amal perbuatan, riya’ juga termasuk perbuatan dosa besar. Bahkan dalam Al-Qur’an al-Karim menganggap dosa ini sudah termasuk ke dalam batasan kufur, firman Allah:
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya’ kepada manusia dan Dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang diatasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilahDia bersih (tidak bertanah), mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan, dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (Q.S. al-Baqarah: 264)
            Janganlah seseorang membatalkan amal perbuatan yang sudah dikerjakan, dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti perasaan si penerima. Jika kita ingin memberikan jasa, bantuan, maupun shadaqah kepada seseorang maka janganlah kita menyebut-nyebutnya dan menyakiti perasaan si penerimanya. Karena, jika kita melakukannya maka berarti amal perbuatan tidak mempunyai nilai pahala sama sekali. Kemudian Al-Qur’an al-Karim mengatakan, seperti orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah karena riya’ kepada manusia, sehingga dengan begitu amal perbuatannya menjadi batal. Di samping amal perbuatannya batal Al-Qur’an al-Karim juga mengatakan, “Dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian.” Tingkatan dosa dari ibadah yang terdapat unsur riya’ di dalamnya adalah sama dengan kekafiran.

4.      Riya’ Merusak Keimanan
Dalam surat al-Ma’un, diungkapkan, “Tahukah kamu orang yang mendustakan agama. Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tiadk menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang sholat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari sholatnya, orang-orang yang berbuat riya’’, dan enggan (menolong dengan) barang yang berguna.” Orang yang tidak mempunyai iman yang sesungguhnya itu terbagi kepada empat kelompok:
1.      Orang-orang yang mampu membantu orang-orang fakir dan miskin, namun mereka tidak melakukannya. Mereka itu digolongkan orang yang mendustakan Agama.
2.      Orang-orang yang mengerjakan sholat, namun mereka tidak menaruh perhatian kepada sholatnya. Al-Qur’an al-Karim berkata, “orang yang mengerjakan sholat dengan tergesa-gesa, sehingga ruku dan sujudnya tidak sempurna, maka sholatnya salah, atau mengerjakan sholat pada akhir waktu, dan tidak mementingkan sholat, maka Mereka itu digolongkan orang yang mendustakan Agama.”
3.      Orang-orang yang riya’, yaitu orang-orang berbuat riya’ di dalam amal perbuatan mereka. Mereka itu digolongkan orang yang mendustakan agama.
4.      Orang-orang yang diberi kemampuan oleh Allah untuk membantu orang lain, mampu memberikan pinjaman kepada tetangganya dan orang lain, namun mereka tidak melakukannya. Orang-orang yang mampu meminjamkan pakaiannya kepada tetangganya namun tidak melakukannya. Orang-orang yang mampu memberi pinjaman sesuatu yang dibutuhkan kepada tetangga dan sahabat-sahabatnya namun tidak melakukannya. Al-Qur’an al-Karim meyebut Mereka itu digolongkan orang yang mendustakan agama.
Barometer seorang muslim menjadi muslim bukan dengan perkataan, atau slogannya, namun seorang muslim akan menjadi muslim adalah dengan menunjukkan perbuatannya. Jika anda mampu menunaikan kebutuhan kaum muslim namun anda tidak melakukannya, maka surat al-Ma’un di atas mengatakan kepada anda dan kepada orang yang seperti anda, bahwa anda adalah termasuk para pendusta agama dan pantaskah orang sperti anda meraih surga?
Apabila seseorang pergi ke masjid dan mengerjakan sholat di shaf pertama dengan tujuan supaya orang-orang mengatakan kepadanya, “Betapa Anda rajin beribadah.” Dengan begitu pada hakikatnya yang menjadi kiblatnya adalah manusia, bukan Baitullah. Dia sholat untuk manusia, bukan untuk Allah. Terkadang, seluruh amalnya semata karena manusia, dan sama sekali tidak ada sedikitpun nama Allah di dalam benaknya. Maka yang demikian itu adalah riya’, atau terkadang amal perbuatannya karena Allah dan juga karena manusia, maka ini adalah syirik yang harus diwaspadai oleh setiap mu’min.

5.      Riya’ Bagian dari Syirik
Dalam beberapa riwayat dinyatakan bahwa, orang yang riya’ dipanggil dengan seruan “wahai orang musyrik”. Karena sholat yang didirikannya,puasa yang dikerjakannya, semua itu tidak dilakukannya semata untuk Allah melainkan juga untuk menusia. Riya’, itu pada hakikatnya adalah syirik. Apa yang dikatakan oleh para penyembah berhala. Bukankah mereka menyembah Allah dan juga menyembah berhala-berhala mereka. Mereka mengatakan, “mereka itu adalah pemberi syafaat kepada kami di hadapan Allah” (Q.S. Yunus: 18). Adapun jika di dalam hatinya tidak ada nama Allah sama sekali, sungguh itu suatu musibah yang besar. Al-Qur’an al-Karim menyebut orang yang seperti ini sebagai orang kafir.
Hal yang perlu diperhatikan dan diwaspadai adalah bahwa riya’ itu samar dan tersembunyi sehingga walau seseorang telah dirasuki penyakit riya’ namun dirinya tidak terasa. Sebagai contoh, mungkin saja seorang manusia menunaikan ibadah sepanjang umurnya dalam keadaan riya’, namun dia tidak menyadarinya karena yang ia rasakan hanya perasaan bahwa sudah menjadi kodrat manusia bila ada keinginan mendapat pengakuan dan gelar Haji dan dipanggil Haji. Oleh karena itu, di dalam beberapa riwayat, riya’ diumpamakan seperti seekor semut hitam yang berjalan di atas batu yang hitam di malam hari yang gelap gulita. Nah, riya’ sedemikian samarnya sampai batasan ini.
Salah satu cara yang digunakan oleh syaitan untuk memperdaya manusia beriman adalah riya’. Terkadang syaitan mendatangi manusia melalui jalan maksiat,seperti menggunjing, memfitnah, ghibah, namimah, dan berdusta. Namun, terkadang juga syaitan mendatangi manusia melalui ibadah, yaitu dengan cara menumbuhkan rasa ujub di dalam hati seorang hamba, sehingga dengan begitu syaitan menuntunnya ke jalan neraka.
Imam Ja’far Shadiq berkata, “Dua orang laki-laki masuk ke dalam masjid, yang satu seorang ahli ibadah sedangkan yang satunya seorang yang fasik. Kemudian, keduanya keluar dari masjid. Yang fasik menjadi orang yang lurus, sementara yang ahli ibadah menjadi orang yang fasik. Itu dikarenakan orang yang ahli ibadah itu masuk masjid dengan perasaan bangga akan ibadahnya. Sedangkan orang yang fasik masuk ke masjid dengan perasaan menyesal atas kefaikannya dan dia memohon ampun kepada Allah atas segala dosa yang telah dilakukannya. Sperti inilah tipu muslihat syaitan, yang manusia melalui cara agama.” Syaitan sendiri telah berkata kepada Allah:
Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus.
Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” (Q.S. al-A’raf: 16-17)
            Setan berkata, “Ya Allah, sekarang saya telah menjadi yang termasuk orang-orang yang sesat, maka oleh karena itu saya akan mendatangi manusia dan menyesatkan mereka dari jalan kebahagiaan. Saya akan jadikan akhirat dalam pandangan mereka sebagai sesuatu yang semu. Saya akan datangi mereka melalui jalan dunia dan menyibukkan mereka dengannya. Saya akan detangi mereka melalui jalan dosa, dan kemudian menjerumuskan mereka ke dalam neraka Jahanam dengan perantaraan dosa. Sebagaimana juga saya akan mendatangi mereka melalui jalan ibadah, lalu saya jadikan mereka termasuk penghuni neraka Jahanam dengan perantara riya’.”
            Menjadikan manusia riya’ merupakan jalan yang sangat disukai oleh syaitan. Oleh kerena itu, kita semua harus waspada terhadap riya’. Jangan sampai kita termasuk orang yang bermuka dua. Syaitan lebih suka menjerumuskan manusia ke dalam neraka Jahanam melalui jalan ibadah. Syaitan lebih suka menjerumuskan manusia ke dalam neraka Jahanam melalui jalan sholat dibandingkan menjerumuskan melalui jalan tidak sholat.
            Jangan anda jadikan manusia sebagai tujuan anda, karena yang demikian itu adalah dosa besar. Namun jika anda menjadikan manusia sebagai tujuan anda maka janganlah anda berbelit-belit. Karena dosa yang anda tanggung akan lebih besar manakala anda menjadikan manusia sebagai tujuan melalui jalan pura-pura taat dalam beragama. Inilah yang dikatakan oleh Al-Qur’an al-Karim, “Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang sholat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari sholatnya, orang-orang yang berbuat riya’ dan enggan (menolong dengan) barang yang berguna.”
            Kecelakaanlah bagi kaum muslim yang melalaikan sholatnya. Kecelakaanlah bagi orang-orang yang riya’. Kebanyakan manusia tidak terbebas dari penyakit riya’. Oleh karena itu, tidak ada seorang pun yang bisa mengklaim dirinya bersih dari riya’. (Roli Abdul Rahman, Menjaga Aqidah dan Akhlak, ha. 105, 2007)

6.      Hikmah Kisah Riya’
Bahlul, hidup pada masa Harun ar-Rasyid. Dia seorang manusia yang aneh. Dia pernah memangku jabatan hakim agung, namun kemudian pura-pura gila untuk lari dari kewajiban menetapkan putusan. Dia selalu menyuruh manusia kepada yang makruf dan mencegah manusia dari munkar dengan amal perbutannya.
Pada suatu hari, Bahlul melihat seorang laki-laki sedang membangun masjid, lalu dia menuliskan tulisan “Masjid Bahlul” di atas masjid itu. Ketika pemilik masjid melihat apa yang dilakukannya, pemilik masjid itu berkata, “Kenapa engkau melakukan ini?” Bahlul menjawab, “Jika kamu membangun masjid karena Allah, maka tidak ada bedanya apakah masjid itu ditulis atas namamu atau nama yang lain.” Pemilik masjid itu menjawab, “Aku telah berusah payah membangun masjid ini, lalu kemudian masjid ini ditulis atas nama selainku!” Kemudian  pemilik masjid itu menghapus nama Bahlul dan menggantikannya dengan namanya. Melihat itu, Bahlul berkata, “Ini menunjukkan bahwa dia membangun masjid bukan karena Allah.” 
Amirul Mu’minin, Ali bin Abi Thalib, sering pada malam hari pergi ke rumah-rumah orang miskin untuk memberikan sedekah kepada mereka, dengan tidak ada seorang pun yang tahu akan hal itu kecuali setelah kepergian mereka dari alam dunia. Pada malam kedua puluh dari bulan Ramadhan tatkala Ali sedang terbaring di ranjang sebagai akibat sabetan pedang, barulah mereka mengetahui siapa yang selama ini membawakan roti dan kurma kepada orang-orang miskin. (Roli Rahman, Menjaga Aqidah dan Akhlak, ha. 102-107, 2007)

0 comments:

Post a Comment