Monday, September 22, 2014

Bismillahirrohmanirrohim 
(dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang)

1.      Kenabian Isma’il
Nabi Isma’il adalah nabi dan rasul yang menyampaikan risalah ditengah-tengah suku bangsa Arab yang telah hidup bersama-sama mereka. Tentang kenabiannya diterangkan Allah dalam Al-Qur’an:
Dan ceritakanlah (hai Muhammad) kepada mereka, kisah Isma’il (yang tersebut) didalam Al-Qur’an. Sesungguhnya adalah seorang yang benar janjinya, dan dia adalah seorang rasul dan nabi.” (QS. Maryam: 54)

2.      Ibrahim Diberi Keturunan
Setiap pasangan suami istri dalam membina rumah tangga tentu menginginkan dan mendambahkan kehadiran keturunan yang nanti dapat meneruskan perjuangan pendahulunya atau dapat mewarisi apa yang ada dalam keluarga tersebut, demikian juga dengan Nabi Ibrahim yang sudah lama mendambahkan hadirnya seorang keturunan yang dapat meneruskan perjuangan orang tuanya.
Setelah perkawinannya dengan Siti Sarrah tidak membuahkan keturunan, maka Siti Sarrah menawarkan kepada Ibrahim agar menikah lagi dengan seorang wanita pelayanya sendiri yang bernama Hajar, karena menurut pandangan Sarrah, Hajar sangat cocok sekali menjadi istri Ibrahim, disamping parasnya cantik, budi pekertinya juga baik. Anjuran istrinya dituruti oleh Ibrahim, dan tidak lama kemudian Hajar mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki yang bernama Isma’il.

3.      Ibrahim Menerima Wahyu untuk Meninggalkan Hajar
Dengan lahirnya bayi laki-laki tersebut, tidak hanya Ibrahim dan Hajar saja yang bahagia, Sarrahpun juga ikut merasa bahagia atas kelahiran seorang bayi. Kegembiraan Sarrah atas bayi itu tidak berlangsung lama, karena tidak lama kemudian Sarrah merasa iri hati kepada Hajar. Maka Sarrah meminta kepada Ibrahim agar menjauhkan keduanya, dan saran tersebut diterima dengan baik oleh Ibrahim, karena tidak lama kemudian Ibrahim menerima wahyu agar meninggalkan Hajar, dan perintah tersebut dilakukan oleh Ibrahim dengan tawakkal dan sabar.
Dalam kepergiannya mereka sampai disuatu tempat yang tandus, berbatu dan tidak ada sebuah pepohonan untuk berteduh dan tidak ada satupun tempat untuk berlindung dari hembusan angin malam. Dan ditempat itulah Hajar dan Isma’il ditinggalkan berdua. Setelah meninggalkan anak dan istrinya Ibrahim pergi mengembara tanpa arah dan tujuan demi mengemban tugas dari Allah. Rasanya berat sekali bagi Ibrahim meninggalkan anak dan istrinya, tapi demi mengemban risalah dari Allah akhirnya berangkat.
Dalam meninggalkan anak dan istrinya, Ibrahim tidak meninggalkan bekal apapun kepada anak istrinya, padahal ditempat itu tidak ada air yang dapat diminum dan juga tidak ada tumbuh-tumbuhan yang dapat diminum. Dalam kepergiannya Ibrahim hanya mengucapkan kalimat do’a yang berbunyi:
“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanaman di dekat Rujah Engkau (Baitullah) yag dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan sholat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rizkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka dapat bersyukur. Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau mengetahui apa yang kami sembunyikan dan apa yang kami lahirkan, dan tidak ada suatu apapun yang tersembunyi bagi Allah, baik yang ada di bumi maupun yang ada di langit.” (QS. Ibrahim: 37-38)

4.      Terjadilah Sumur Zam-Zam
Dengan berbekal tawakkal dan kesabaran, Hajar hanya memakan apa yang ditanah yang gersang dan tandus. Ketika sang bayi menangis lantaran merasa haus dan dahaga, sedangkan tidak ada air yang dapat diminum. Maka Siti Hajar berlari kesana kemari untuk mencari air, dan akhirnya dalam lari tersebut Hajar melihat ada sebuah bukit, dengan hati yang senang Hajar berlari mendekati bukit tersebut, sesampainya di atas bukit tersebut (Shofa) tidak ditemukan sedikitpun air, dan dari puncak bukit itu Hajar melihat lagi ada gumpalan air yang sangat jernih dari sebuah gunung, akhirnya Hajar berlari lagi mendekati sumber air tersebut. Kejadian berlari-lari tersebut dilakukan oleh Hajar sampai 7 kali.
Dalam lari-lari tersebut Hajar dikejutkan oleh suara malaikat yang memberitahukan bahwa anaknya yang menangis itu telah menggaruk-garukkan kakinya ke tanah, yang akhirnya dari tanah itu keluar air yang mengalir dengan derasnya, melihat kejadian yang demikian itu Hajar terperanjat sambil berkata zam-zam (kumpulah-kumpulah). Akhirnya sumber air yang terpancar itu berkumpul menjadi satu, dan akhirnya sumur itu diberi nama zam-zam.
Dengan adanya sumur zam-zam tersebut, maka tempat itu menjadi ramai karena didatangi oleh berbagai macam burung yang menikmati sumur tersebut, dan dari jejak burung itu, dapat diketahui oleh manusia akan adanya sumber air, yang akhirnya manusia yang tahu berdatangan untuk menikmati air sumur tersebut.
Dari cara perjalananya Hajar dan Isma’il terambil bagian dari amalan Haji yang diwajibkan bagi umat Islam, misalnya lari (sa’i) antara bukit Shofa dan Marwa sebanyak tujuh kali.

5.      Penyembelihan Isma’il
Sudah bertahun-tahun Nabi Ibrahim pergi meninggalkan anak dan istrinya untuk menjalankan perintah Allah, namun kepergiannya yang cukup jauh tersebut Nabi Ibrahim masih ingat pada anak dan istrinya yang ditinggalkan di tanah yang tandus dan gersang tersebut semoga selamat.
Setelah lama berpisah dengan anak istrinya, akhirnya Ibrahim merasa rindu untuk segera bertemu dan berkumpul dengan anak istrinya, akhirnya Ibrahim pergi untuk menemui istri dan anaknya, dan ditemuinya istrinya ditempat yang sangat sepi dan tandus sekarang berubah menjadi tempat yang ramai dan banyak dihuni oleh manusia. Sekarang tempat itu diberi nama Mekkah.
Disuatu tempat yang bernama padang Arafah, ditempat itulah Ibrahim, Isma’il dan Hajar melepas kerinduannya, setelah itu mereka kembali ke Mekkah (tempat dimana sumur zam-zam itu berada), ditengah jalan mereka berhenti (yang sekarang dinamakan Muzdalifah), karena lelahnya ditempat itu mereka berhenti dan istirahat.
Pada saat istirahat, Ibrahim tidur sejenak, pada saat tidur Ibrahim bermimpi bahwa Allah memerintahkan untuk menyembelih Isma’il. Ketika Ibrahim terbangun dari tidurnya, hari Ibrahim berdebar-debar, rupanya ujian Allah datang lagi, dan ujian ini adalah yang paling berat yang harus dijalankan oleh Nabi Ibrahim.
Setelah itu Ibrahim memanggil Isma’il dan menceritakan tentang mimpi yang dialami oleh Ibrahim dan harus dilaksanakan. Mendengar cerita ayahnya, Isma’il menjawab tanpa ragu-ragu: Wahai Bapakku, sekiranya itu perintah Allah, maka laksanakan apa yang diperintahkanNya, dan insya allah aku tetap tabah.
Ketika Ibrahim hendak melakukan penyembelihan, tiba-tiba tangan kiri Ibrahim yang memegang leher Isma’il diganti oleh Allah dengan hewan Qurban. Penyembelihan [ada diri Isma’il terjadi pada tanggal 10 Dzulhijjah dan bertempat di Mina. Dan sekarang oleh umat Muhammad yang melakukan ibadah haji sama melakukan penyembelihan qurban di Mina, ban bagi umat Islam yang tidak melakukan penyembelihan qurban yang didahului dengan sholat idhul Adha.
Keterangan tersebut ditulis oleh Allah:
Ya Tuhan, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang shaleh, Maka kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang sabar (yakni Isma’il). Maka tatkala anak itu sampai (pada umur) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu. Ia menjawab: Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipisnya nyatalah kesabaran keduanya. Dan kami panggillah dia: Hai Ibrahim sesungguhnya demikianlah kami telah memberi alasan kepada orang-orang yang berbuat baik.sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) dikalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman. Dan Kami beri dia kabar gembira dengan (kelahiran) Ishaq seorang Nabi yang termasuk orang-orang yang shaleh, Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq. Dan diantara anak cucunya ada yang berbuat baik dan ada (pula) yang dzalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata.” (QS. Ash Shofat: 100-113)

6.      Isma’il dan Wanita Jurhum
Setelah menginjak usia dewasa, Isma’il oleh ibunya dinikahkan dengan seorang wanita Jurhum yang tidak mempunyai budi pekerti yang baik, sehingga dengan wanita tersebut tidak berlangsung lama.
Sewaktu Ibrahim berkunjung ke rumah Isma’il, dan pada waktu itu Isma’il tidak ada dirumah, hanya istrinya saja yang berada di rumah. Ibrahim berkata: Dimana Isma’il?. Isma’il keluar berburu. Jawab istrinya. Ibrahim bertanya lagi: bagaimana keadaan rumah ini?. Istrinya menjawab: keadaan rumah ini berada dalam kesulitan dan kesempitan, dan istriya juga menceritakan kejelekan Isma’il. Setelah mendengar pengaduan dari menantunya tersebut, Ibrahim langsung minta pamit dan berpesan kepada Isma’il, bahwa ambang pintu sebelah ini cepat diganti.
Ketika Isma’il datang dari berburu, istrinya menceritakan tentang kedatangan Ibrahim, dan menyampaikan pesan Ibrahim, bahwa ambang pintu sebelah ini harus cepat diganti. Dengan bahasa isyarat itu Isma’il mengerti bahwa saya harus menceraikan istrinya dan menikah lagi dengan seorang wanita lain.

7.      Ibrahim dan Isma’il Mendirikan Ka’bah
Setelah lama Nabi Ibrahim pergi mengembara untuk menyampaikan ajaran kepada para hamba yang ditemui sampai di pelosok-pelosok padang pasir yang amat luas, Nabi Ibrahim menerima wahyu dari Allah untuk membangun rumah Allah (Ka’bah) didekat telaga zam-zam. Maka ditemuinya Isma’il bersama-sama mendirikan Ka’bah sebagai tempat untuk menyembah Allah.
Setiap kali mereka berdua selesai bekerja mengerjakan bangunan itu, maka mereka berdua berdo’a kehadirat Allah: Ya Allah terimalah persembahan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk dan patuh kepada Engkau, begitu pula anak dan keturunan kami semua menjadi umat yang patuh dan tunduk, pertunjukkanlah kepada kami akan cara peribadatan kami, berilah ampun terhadap kami, karena Engkau yang Maha Pengampun dan Pengasih.
Dalam membagun rumah Allah, Ibrahim dan Isma’il meletakkan sebuah batu besar berwarna hitam mengkilat, dan sebelum meletakkan batu tersebut, diciumnya batu tersebut sambil mengelilingi bengunan itu. Batu itu sampai sekarang dikenal dengan nama “Hajar Aswad” dan setiap orang yang melakukan ibdah haji melakukan thawaf keliling ka’bah sambil mencium batu ini.
Setelah pembangunan itu selesai, Allah memerintahkan Ibrahim dan Isma’il, agar menjaga kebersihan, keamanan dan lain sebagainya. Keterangan tersebut tertulis oleh Allah dalam Al-Qur’an:
Dan (ingatlah) ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebagian maqam Ibrahim tempat sholat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Isma’il: Bersihkanlah RumahKu untuk orang-orang yang thowaf, yang i’tikaf, yang ruku’ dan yang sujud. Dan (ingatlah),  ketika Ibrahim berdo’a: Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rizki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman diantara mereka kepada Allah dan hari kemudian. Allah berfirman: Dan kepada orang kafirpun Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali. Dan (ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Isma’il (seraya berdo’a): Ya Allah Tuhan kami, terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk dan patuh  kepada Engkau dan tunjukanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. ” (QS. Al-Baqarah: 125-128)
Setelah Allah mengajarkan kepada Ibrahim dan Isma’il cara-cara melaksanakan ibadah haji, maka Nabi Ibrahim diperintahkan oleh Allah untuk melaksanakan ibadah haji dan mengunjungi Ka’bah, sebagai mana firman Allah:
Dan berserulah (hai Ibrahim) kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus (karena sangat jauhnya) yang datang dari segenap penjuru yang jauh, supaya mereka mempersaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rizki yang Allah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebagian daripadanya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir.” (QS. al-Haj: 27-28)

8.      Khitannya Nabi Ibrahim dan Nabi Isma’il
Perintah Allah ini sudah ada sejak zaman Nabi Adam, adapun sebab dari adanya perintah khitan karena Nabi Adam pernah bernadzar apabila taubatnya diterima Allah,  maka ia berjanji akan memotong sebagian dari anggota badanya. Ketika Allah menerima taubatnya, maka malaikat Jibril menunjukkan anggota badan yang harus dipotong (sunat atau khitan) sebagaimana yang berlaku pada umat Nabi Muhammad saat ini.
Pada zaman Nabi Ibrahim perintah khitan ini turun setelah Nabi Ibrahim berumur 80 tahun, sehingga menurut satu riwayat Nabi Ibrahim melaksanakan khitan dengan menggunakan kapak. Dan perintah khitan ini juga dilaksanakan oleh seluruh umatnya sebagaimana firman Allah:
Kemudian Kami wahyukan kepada engkau (ya Muhammad) hendaklah engkau mengikuti kepercayaan Nabi Ibrahim dengan sebulat hati.” (QS. an-Nahl: 123)

9.      Ibrahim Ketamuan Malaikat
Pada suatu hari ketika Ibrahim dan Siti Sarrah sedang duduk-duduk, tiba-tiba datanglah seorang tamu yang tidak dikenal sebelumnya, setelah tamu tersebut duduk lalu mengatakan bahwa dirinya itu malaikat Allah, yang diperintahkan Allah menyampaikan kabar gembira kepada Ibrahim dan Sarrah yakni engkau akan dianugerahi seorang anak yang bernama Ishaq. Mendengar berita tersebut, Sarrah terkejut, karena usianya sudah 90 tahun, mana bisa melahirkan, dan aku sudah mandul. Malaikat menjawab: Itu adalah hal yang sangat mudah bagi Allah, dan memang itulah perintah Allah yang saya bawa kemari. Akhirnya memang benar janji Allah, karena tidak lama kemudian Siti Sarrah melahirkan seorang anak laki-laki. Sebagaimana firman yang Allah yang terdapat dalam surah Adz Dzariat ayat 23-24.

0 comments:

Post a Comment